Senin, 27-07-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Ketika Bermain Menjadi Cara Berpikir: Transformasi Pembelajaran Mendalam Di TK Negeri Banawa Gunung Bale (Bagian 2)

Diterbitkan : Minggu, 26 Juli 2026

Perubahan paling mendasar yang kami lakukan sesungguhnya bukan pada media pembelajaran ataupun sarana yang digunakan, melainkan pada cara guru membangun dialog dengan anak. Kami menyadari bahwa kualitas pertanyaan guru sangat menentukan kualitas proses berpikir peserta didik. Selama ini, pertanyaan yang kami ajukan cenderung bersifat tertutup, seperti “Sudah selesai?”, “Warnanya apa?”, atau “Jawabannya benar, kan?”. Pertanyaan seperti itu hanya mendorong anak memberikan jawaban singkat tanpa harus berpikir lebih jauh.

Kini kami berusaha mengganti pola tersebut dengan pertanyaan terbuka yang memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan alasan, menghubungkan pengalaman, dan menyampaikan pendapatnya. Kalimat sederhana seperti, “Bagaimana kamu menemukan cara itu?”, “Mengapa kamu memilih menyusun seperti ini?”, “Apa yang akan terjadi kalau bahannya diganti?”, atau “Menurutmu, adakah cara lain yang bisa dicoba?” ternyata mampu mengubah suasana kelas secara drastis.

Anak-anak tidak lagi tergesa-gesa menyelesaikan tugas demi memperoleh pujian dari guru. Mereka justru menikmati proses mencoba, berdiskusi, memperbaiki kesalahan, dan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Bahkan ketika jawaban mereka belum tepat, proses berpikir yang mereka lakukan jauh lebih bernilai dibandingkan sekadar memperoleh jawaban benar. Mereka mulai terbiasa mengamati, membandingkan, menyusun hipotesis, serta menarik kesimpulan berdasarkan pengalaman yang dialami sendiri. Kondisi tersebut sejalan dengan gagasan deep learning yang menempatkan peserta didik sebagai pembangun pengetahuan melalui eksplorasi, refleksi, dan pemecahan masalah (Grabinger & Dunlap, 1995).

Perubahan cara bertanya tersebut kemudian kami padukan dengan penguatan pembelajaran numerasi melalui Model GEMBIRA (Gerakan Bermain Matematika Ceria). Model ini lahir dari keyakinan bahwa matematika pada anak usia dini tidak semestinya diperkenalkan melalui hafalan angka atau latihan mengerjakan lembar kerja. Anak justru perlu mengalami sendiri konsep-konsep matematika melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan mereka.

Suatu pagi, beberapa anak tampak asyik mengumpulkan kerikil, ranting kecil, daun, dan biji-bijian yang berserakan di halaman sekolah. Mereka menyusun benda-benda tersebut membentuk pola tertentu. Ada yang menyusun satu kerikil besar diikuti dua kerikil kecil, kemudian kembali satu kerikil besar. Ada pula yang membuat pola berdasarkan warna daun dan ukuran biji-bijian.

“Lihat, polanya berulang terus,” ujar Aidan dengan penuh semangat.

Baim kemudian mencoba pola lain. “Kalau yang besar semuanya dipindah ke depan, bentuknya jadi berbeda.”

Alih-alih menjelaskan konsep pola secara teoritis, guru justru mengajak mereka mengamati perubahan yang terjadi.

“Kalau susunannya dibalik lagi, apakah polanya masih sama?”

Pertanyaan sederhana itu membuat mereka kembali mencoba. Mereka memindahkan satu demi satu benda yang telah disusun, memperhatikan perubahan bentuk, lalu saling berdiskusi mengenai hasilnya. Tanpa disadari, mereka sedang mempelajari konsep pola, klasifikasi, pengelompokan, korespondensi satu-satu, pengukuran, hingga perkiraan jumlah.

Pengalaman tersebut jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar menebalkan angka di buku latihan. Anak memahami konsep matematika sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar simbol yang harus dihafal. Mereka belajar melalui sentuhan, pengamatan, percobaan, dan percakapan yang tumbuh secara alami.

Selain numerasi, kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah juga kami kembangkan melalui pemanfaatan loose parts. Berbagai bahan terbuka seperti ranting pohon, bambu kecil, kerang, batu, potongan kayu, tutup botol, kardus bekas, hingga berbagai material alam lainnya kami letakkan pada sudut bermain yang mudah dijangkau anak. Tidak ada contoh hasil karya yang harus ditiru. Tidak ada instruksi langkah demi langkah. Anak bebas menentukan apa yang ingin dibuat sesuai dengan gagasan mereka.

Suatu hari, tiga orang anak berinisiatif membangun sebuah jembatan menggunakan potongan kayu dan kerikil. Mereka berdiskusi mengenai bentuk yang diinginkan. Salah seorang berpendapat bahwa jembatan harus dibuat panjang agar bisa dilewati banyak kendaraan mainan. Temannya menolak karena khawatir jembatan akan mudah roboh jika terlalu panjang. Anak yang lain kemudian mengambil beberapa batang bambu kecil dan mengusulkan agar dibuat penyangga di bagian bawah.

Diskusi kecil itu berlangsung sangat menarik. Mereka saling mengemukakan alasan, mencoba berbagai kemungkinan, kemudian membangun jembatan sesuai kesepakatan. Ketika jembatan pertama runtuh, tidak ada tangisan maupun rasa kecewa. Yang muncul justru tawa, rasa penasaran, dan keinginan untuk mencoba lagi.

Guru sengaja tidak terburu-buru membantu. Anak diberi kesempatan mengalami kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Mereka membongkar kembali susunan yang telah dibuat, menambah penyangga, memperpendek bentangan kayu, kemudian mengujinya kembali. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya mereka menemukan bentuk yang lebih kokoh.

Di balik aktivitas bermain tersebut sebenarnya berlangsung proses berpikir tingkat tinggi. Anak belajar merencanakan, menguji hipotesis, mengevaluasi hasil, bernegosiasi dengan teman, mengambil keputusan, serta menemukan solusi atas masalah yang mereka hadapi. Daly dan Beloglovsky (2014) menjelaskan bahwa penggunaan loose parts memberi peluang sangat besar bagi anak untuk mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, serta kemampuan memecahkan masalah melalui eksplorasi yang bebas dan bermakna.

Transformasi pembelajaran juga kami lakukan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai ruang kelas yang sesungguhnya. Letak TK Negeri Banawa Gunung Bale yang berada di kawasan pesisir dan perbukitan memberikan peluang yang sangat luas untuk menerapkan place-based education. Alam menjadi sumber belajar yang tidak pernah habis menyediakan pengalaman baru.

Anak-anak tidak hanya mengenal tumbuhan melalui gambar, tetapi mengamati langsung berbagai jenis tanaman yang tumbuh di sekitar sekolah. Mereka tidak hanya mengenal hewan dari buku cerita, melainkan mengamati perilakunya secara langsung di lingkungan alami. Mereka belajar membedakan tekstur pasir pantai, menghitung jumlah kerang, membandingkan ukuran batu, hingga mengamati perubahan cuaca yang mereka rasakan sendiri.

Salah satu kegiatan yang memberikan pengalaman sangat berkesan adalah kunjungan ke kantor pemadam kebakaran. Di sana anak-anak tidak hanya melihat mobil pemadam dari kejauhan. Mereka mengenakan helm petugas, memegang selang pemadam, mencoba menyemprotkan air, serta berdialog langsung dengan para petugas.

“Pak, apakah semua api itu berbahaya?” tanya seorang anak.

Pertanyaan sederhana tersebut membuka diskusi yang sangat menarik. Petugas menjelaskan bahwa api dapat menjadi sahabat ketika digunakan untuk memasak atau memberikan penerangan, tetapi dapat berubah menjadi ancaman apabila tidak dikendalikan. Anak-anak kemudian mulai menghubungkan penjelasan itu dengan pengalaman mereka di rumah.

Dialog seperti itu memperlihatkan bahwa pengalaman langsung mampu membangun pemahaman yang jauh lebih mendalam dibandingkan penjelasan di dalam kelas. Anak memperoleh pengetahuan melalui interaksi nyata dengan lingkungan sehingga konsep-konsep yang dipelajari menjadi lebih mudah dipahami dan diingat dalam jangka panjang.

Pengalaman serupa juga kembali terjadi ketika anak-anak mengamati kura-kura di kawasan konservasi. Salah seorang anak berkata, “Cangkangnya pasti berat sekali.”

Temannya segera menyahut, “Kalau tidak punya cangkang, apakah dia masih bisa hidup?”

Pertanyaan itu berkembang menjadi diskusi mengenai fungsi cangkang, perlindungan diri, rantai makanan, serta keseimbangan ekosistem. Guru hanya berperan sebagai fasilitator yang menjaga agar rasa ingin tahu anak terus tumbuh. Wilson (1994) menyatakan bahwa lingkungan alam merupakan ruang belajar yang sangat efektif karena memungkinkan anak membangun hubungan langsung antara pengalaman konkret dengan konsep-konsep ilmiah.

Seluruh pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan kami bahwa pembelajaran bermakna tidak lahir dari banyaknya materi yang disampaikan guru, melainkan dari banyaknya pengalaman autentik yang dialami anak. Ketika mereka diberi kesempatan menyentuh, mencoba, bertanya, berdiskusi, dan menemukan sendiri jawabannya, proses belajar menjadi jauh lebih mendalam sekaligus menyenangkan.

Penulis : Femi Widyawati, S.Pd, M.Pd., TK Negeri Banawa Gunung Bale, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan