Rabu, 14-10-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Kolaborasi Edukatif Guru TITL dan Mahasiswa LANTIP UNNES Dampingi Siswa Praktik Rangkaian Lampu Pijar

Diterbitkan : Rabu, 14 Oktober 2026

Pembelajaran vokasi tidak cukup hanya mengandalkan pemahaman teori. Siswa perlu mendapatkan pengalaman langsung melalui praktik agar konsep yang dipelajari di kelas dapat dipahami secara konkret dan diterapkan dalam situasi kerja yang sesungguhnya. Semangat inilah yang terus dikembangkan melalui kolaborasi antara guru Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL) dan mahasiswa Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Semarang (UNNES) dalam program LANTIP (Latihan Mengajar Terbimbing dan Terpadu).

Setiap hari Senin dan Selasa, guru pamong secara rutin mengajak mahasiswa LANTIP UNNES untuk terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran bersama siswa kelas X jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik. Kegiatan tersebut berlangsung di bengkel praktik dengan fokus pembelajaran pada Dasar Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik. Melalui pola pembelajaran kolaboratif tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan dari guru, tetapi juga memperoleh pendampingan secara lebih intensif ketika melakukan praktik.

Kolaborasi antara guru dan mahasiswa tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih aktif, kontekstual, dan dekat dengan dunia kerja. Mahasiswa LANTIP mendapatkan pengalaman dalam melaksanakan pembelajaran secara langsung, sementara siswa memperoleh tambahan pendampingan ketika mempraktikkan konsep-konsep kelistrikan dasar.

Salah satu materi yang dipraktikkan siswa kelas X TITL adalah pembuatan rangkaian kelistrikan dasar menggunakan tiga buah lampu pijar sebagai beban uji. Dalam kegiatan tersebut, siswa mempelajari tiga bentuk rangkaian, yaitu rangkaian seri, rangkaian paralel, dan rangkaian campuran. Ketiga rangkaian tersebut menjadi dasar penting bagi siswa untuk memahami karakteristik aliran arus dan tegangan dalam sebuah instalasi listrik.

Pembelajaran diawali dengan kegiatan pengukuran tahanan atau hambatan dalam pada masing-masing lampu pijar. Pengukuran dilakukan agar siswa dapat melihat secara langsung karakteristik hambatan komponen sebelum lampu digunakan dalam rangkaian. Dari kegiatan tersebut, siswa kemudian diarahkan untuk membandingkan nilai tahanan total pada susunan lampu yang berbeda.

Melalui proses pengukuran dan pengamatan tersebut, konsep yang sebelumnya dipelajari secara teoritis menjadi lebih mudah dipahami. Siswa dapat melihat bahwa cara menghubungkan komponen dalam sebuah rangkaian akan memengaruhi karakteristik kelistrikannya. Perbedaan tersebut kemudian menjadi dasar bagi siswa untuk memahami mengapa perilaku lampu pada rangkaian seri berbeda dengan lampu pada rangkaian paralel.

Setelah memahami konsep dasar tahanan, kegiatan praktik dilanjutkan dengan simulasi instalasi penyalaan lampu pijar. Siswa diarahkan untuk merakit rangkaian lampu seri maupun paralel yang dikendalikan menggunakan sebuah sakelar tunggal. Dalam proses tersebut, siswa tidak hanya dituntut agar lampu dapat menyala, tetapi juga harus memperhatikan ketepatan sambungan dan aspek keselamatan kerja.

Untuk mendukung keamanan instalasi, rangkaian dilengkapi dengan pengaman berupa Miniature Circuit Breaker (MCB). Penggunaan MCB menjadi bagian penting dalam pembelajaran karena siswa diperkenalkan pada salah satu perangkat pengaman yang umum digunakan dalam instalasi tenaga listrik. Dengan demikian, praktik tidak berhenti pada kemampuan membuat lampu menyala, tetapi juga mengajarkan pentingnya membangun instalasi yang aman dan layak dioperasikan.

Selama proses perakitan, guru pamong bersama mahasiswa LANTIP UNNES memberikan pendampingan kepada siswa. Setiap sambungan kabel diperiksa agar sesuai dengan rangkaian yang direncanakan. Siswa juga diarahkan untuk bekerja secara teliti dan memperhatikan prosedur keselamatan sebelum rangkaian dihubungkan dengan sumber listrik.

Pendampingan secara langsung menjadi bagian penting dalam praktik kelistrikan. Kesalahan kecil dalam penyambungan dapat menyebabkan rangkaian tidak bekerja sebagaimana mestinya. Karena itu, siswa dibiasakan untuk tidak terburu-buru dalam merakit, melainkan memastikan setiap komponen, kabel, sakelar, dan pengaman terpasang sesuai fungsi serta posisi yang telah ditentukan.

Setelah rangkaian berhasil dirakit dan lampu dapat menyala, pembelajaran dilanjutkan dengan kegiatan pengukuran tegangan dan arus listrik. Siswa menggunakan alat ukur untuk mengetahui nilai tegangan dalam satuan Volt dan arus listrik dalam satuan Ampere pada masing-masing rangkaian. Data hasil pengukuran kemudian digunakan untuk menganalisis karakteristik rangkaian seri dan paralel.

Pada rangkaian seri, arus listrik mengalir melalui satu jalur tunggal. Karena hanya terdapat satu jalur, besaran arus yang melewati setiap komponen dalam rangkaian seri memiliki nilai yang sama. Kondisi tersebut membuat setiap komponen memiliki keterkaitan langsung dengan komponen lainnya. Apabila salah satu lampu dilepas dari dudukannya atau filamennya putus, rangkaian menjadi terbuka sehingga aliran arus terhenti dan seluruh lampu dalam rangkaian ikut padam.

Karakteristik lain yang diamati siswa adalah pembagian tegangan pada rangkaian seri. Tegangan sumber terbagi pada masing-masing komponen sesuai dengan karakteristik hambatannya. Akibatnya, apabila beberapa lampu pijar dirangkai secara seri, masing-masing lampu menerima tegangan yang lebih rendah dibandingkan tegangan sumber secara keseluruhan.

Kondisi tersebut berdampak pada tingkat terang lampu. Lampu pijar yang dirangkai secara seri cenderung menyala lebih redup dibandingkan ketika memperoleh tegangan sesuai spesifikasi kerjanya. Semakin banyak lampu yang ditambahkan dalam satu rangkaian seri, pembagian tegangan pada setiap lampu semakin besar pengaruhnya sehingga nyala lampu dapat semakin redup. Dalam kondisi tertentu, tegangan yang diterima lampu tidak lagi mencukupi untuk menghasilkan cahaya secara optimal.

Berbeda dengan rangkaian seri, rangkaian paralel memiliki beberapa jalur atau cabang bagi arus listrik. Setiap lampu ditempatkan pada cabang yang terhubung pada titik-titik simpul yang sama dengan sumber listrik. Dengan konfigurasi tersebut, setiap lampu memperoleh beda potensial yang sama dengan tegangan sumber.

Karakteristik tersebut membuat lampu pada rangkaian paralel dapat menyala sesuai dengan spesifikasi kerjanya selama sumber listrik dan komponen berada dalam kondisi yang sesuai. Penambahan lampu pada cabang paralel juga tidak secara langsung menyebabkan lampu yang telah terpasang menjadi redup seperti pada rangkaian seri, karena setiap cabang memperoleh tegangan yang sama dari sumber.

Sementara itu, arus listrik pada rangkaian paralel terbagi ke masing-masing cabang. Besarnya arus pada setiap cabang dapat berbeda, bergantung pada hambatan atau karakteristik beban yang terpasang pada cabang tersebut. Semakin kecil hambatan suatu cabang, semakin besar arus yang dapat mengalir melalui cabang tersebut dibandingkan cabang dengan hambatan yang lebih besar.

Keunggulan lain dari rangkaian paralel yang dapat diamati siswa adalah kondisi ketika salah satu lampu mengalami gangguan. Jika satu lampu putus, cabang tempat lampu tersebut terpasang akan berhenti dialiri arus, tetapi cabang lainnya masih memiliki jalur tersendiri. Dengan demikian, lampu lain dapat tetap menyala selama rangkaian dan sumber listrik pada cabang tersebut berada dalam kondisi normal.

Perbedaan karakteristik antara rangkaian seri dan paralel tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa. Mereka tidak sekadar menerima rumus atau menghafal definisi tentang arus dan tegangan, tetapi dapat melihat hubungan antara teori, hasil pengukuran, dan kondisi nyata yang terjadi pada lampu ketika rangkaian diubah.

Praktik tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun kemampuan berpikir analitis. Ketika hasil pengukuran menunjukkan adanya perbedaan tegangan dan arus, siswa diarahkan untuk menghubungkan data tersebut dengan susunan rangkaian yang dibuat. Dengan cara ini, proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada proses menemukan dan menjelaskan mengapa sebuah rangkaian memiliki karakteristik tertentu.

Kehadiran mahasiswa LANTIP UNNES dalam pembelajaran turut memperkuat proses pendampingan. Mahasiswa dapat membantu menjelaskan kembali konsep yang belum dipahami siswa, memberikan arahan saat praktik, serta mendampingi proses pengukuran dan analisis. Di sisi lain, guru pamong tetap memiliki peran penting dalam mengarahkan keseluruhan proses pembelajaran dan memastikan praktik berlangsung sesuai tujuan pembelajaran serta prosedur keselamatan kerja.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran vokasi dapat dikembangkan melalui sinergi antara pengalaman guru dan perspektif calon pendidik. Guru memiliki pengalaman dalam memahami karakteristik siswa dan pembelajaran di sekolah, sedangkan mahasiswa LANTIP mendapatkan kesempatan untuk mengasah keterampilan mengajar secara langsung di lingkungan pendidikan vokasi.

Bagi siswa kelas X TITL, pengalaman tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kompetensi kelistrikan yang lebih kuat. Kemampuan merakit rangkaian, menggunakan alat ukur, membaca hasil pengukuran, serta menganalisis perbedaan karakteristik rangkaian merupakan keterampilan dasar yang akan terus digunakan dalam pembelajaran kelistrikan pada tingkat berikutnya.

Lebih dari sekadar membuat lampu menyala, praktik rangkaian seri dan paralel mengajarkan siswa tentang ketelitian, keselamatan, tanggung jawab, dan kemampuan memecahkan masalah. Ketika sebuah rangkaian tidak bekerja, siswa belajar menelusuri kemungkinan kesalahan, memeriksa sambungan, mengukur kembali parameter listrik, kemudian melakukan perbaikan berdasarkan hasil analisis.

Melalui metode pembimbingan yang intensif dan kolaboratif, siswa kelas X TITL diharapkan semakin terbiasa menghubungkan teori dengan praktik. Pembelajaran di bengkel tidak lagi sekadar menjadi kegiatan untuk memenuhi tugas praktikum, tetapi menjadi ruang bagi siswa untuk mengalami secara langsung bagaimana prinsip-prinsip dasar kelistrikan bekerja dalam sebuah instalasi.

Kolaborasi guru TITL bersama mahasiswa LANTIP UNNES pada akhirnya menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan aplikatif. Siswa memperoleh kesempatan untuk merakit, mengukur, mengamati, membandingkan, dan menganalisis karakteristik listrik secara langsung. Dari proses tersebut, pemahaman tentang rangkaian seri dan paralel tidak berhenti sebagai pengetahuan di atas kertas, tetapi berkembang menjadi pengalaman praktik yang dapat menjadi fondasi bagi kompetensi mereka sebagai calon tenaga profesional di bidang Teknik Instalasi Tenaga Listrik.

Penulis : Agista Rizky Dermara, Guru Teknik Instalasi Tenaga Listrik  SMKN Jateng di Semarang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan