SEMARANG – Upacara rutin hari Senin di SMKN Jateng di Semarang, Senin (12/10/2026), menjadi momentum untuk memperkuat kedisiplinan, karakter, dan kesiapan murid menghadapi dunia kerja. Dalam amanatnya, pembina upacara, Agista Rizki Dermara, S.Pd., menekankan pentingnya menerapkan prinsip 5K, yakni Kejujuran, Kesadaran, Kemampuan, Komitmen, dan Kehandalan, sebagai bekal membentuk lulusan yang kompeten, berkarakter, dan mampu bersaing di dunia kerja.
Upacara yang berlangsung pukul 07.00–07.40 WIB di lapangan upacara sekolah tersebut diikuti oleh warga sekolah dengan mengenakan pakaian dinas berwarna khaki sesuai ketentuan. Kegiatan rutin ini tidak hanya menjadi sarana menumbuhkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air, tetapi juga menjadi ruang pembinaan karakter bagi murid agar siap menghadapi tantangan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat.
Dalam mengawali amanatnya, Agista menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan dan kesempatan yang diberikan sehingga seluruh peserta dapat mengikuti upacara dengan baik. Ia juga mengapresiasi murid yang bertugas sebagai pelaksana upacara karena keterlibatan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan tanggung jawab dan kepribadian.
“Saya sampaikan terima kasih kepada murid-murid yang menjadi petugas upacara hari ini, yang akan menjadi bekal membentuk pribadi yang baik di masa yang akan datang,” ujarnya.
Agista menjelaskan bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam membekali murid dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang baik. Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik atau kemampuan teknis, tetapi juga harus membentuk pola pikir dan karakter yang dibutuhkan ketika murid memasuki lingkungan kerja.
Menurutnya, murid SMKN Jateng di Semarang perlu mempersiapkan diri sejak dini agar mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia industri. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi tenaga kerja yang menguasai bidang keahlian, tetapi juga menjadi pribadi yang bertanggung jawab, berintegritas, dan mampu bekerja sama.
Agista mengaitkan pembentukan karakter tersebut dengan visi Indonesia Emas 2045. Pada masa itu, generasi muda saat ini diharapkan mampu mengambil berbagai peran strategis, mulai dari operator, teknisi, mekanik, drafter, supervisor, manajer, hingga direktur maupun pejabat pemerintahan.
“Harapannya, kalian menjadi generasi emas yang memiliki pribadi baik serta unggul dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap,” tutur Agista dalam amanatnya.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, ia mengajak murid memegang teguh prinsip 5K sebagai pedoman dalam belajar, berperilaku, dan mempersiapkan masa depan.
Prinsip pertama yang ditekankan Agista adalah Kejujuran. Menurutnya, kejujuran merupakan fondasi utama bagi tumbuhnya kepercayaan, baik dalam kehidupan pribadi, lingkungan pendidikan, maupun dunia kerja. Sikap jujur diwujudkan melalui keberanian menyampaikan fakta secara objektif, mengakui kesalahan, serta mengatakan kebenaran, baik ketika menyangkut hal positif maupun negatif.
Ia mengingatkan bahwa kejujuran tidak boleh hanya dilakukan ketika seseorang diawasi. Nilai tersebut harus menjadi kebiasaan yang melekat dalam diri setiap murid, termasuk ketika mengerjakan tugas, mengikuti praktik, menggunakan peralatan sekolah, maupun menjalankan tanggung jawab dalam kelompok.
“Dengan memegang teguh kejujuran akan melahirkan kepercayaan, dan yakinlah bahwa kejujuran bersama dengan keberuntungan,” ungkapnya.
Prinsip kedua adalah Kesadaran, yakni kemampuan memahami diri sendiri, posisi, lingkungan, dan tanggung jawab yang sedang dijalankan. Bagi murid, kesadaran diwujudkan dengan memahami peran utama sebagai pelajar, yaitu belajar secara berkelanjutan, menyelesaikan pendidikan hingga lulus, serta menjaga nama baik almamater.
Agista juga mengingatkan bahwa sikap sebagai murid tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan sekolah. Identitas sebagai alumni tetap melekat dan tercermin melalui perilaku, etika, serta tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja.
Selain itu, kesadaran harus diwujudkan dalam sikap saling menghormati. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada perundungan, baik secara fisik maupun verbal, di lingkungan sekolah maupun tempat kerja. Setiap individu perlu membangun hubungan yang sehat agar tercipta suasana belajar dan bekerja yang aman, rukun, serta saling menghargai.
Prinsip ketiga adalah Kemampuan. Agista menekankan bahwa murid perlu mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara seimbang agar memiliki kesiapan menghadapi tuntutan pekerjaan. Kemampuan teknis sesuai program keahlian harus disertai dengan kedisiplinan, komunikasi, kerja sama, dan kemauan untuk terus belajar.
Ia mengingatkan bahwa kebutuhan dunia industri terus berkembang. Oleh karena itu, keterampilan yang dimiliki murid tidak boleh berhenti pada apa yang telah dipelajari di kelas. Murid harus bersedia memperbarui pengetahuan, mengasah keterampilan praktik, dan menyesuaikan diri dengan teknologi serta tantangan baru.
Kemampuan untuk terus berkembang menjadi penting agar lulusan tidak hanya mampu memperoleh pekerjaan, tetapi juga dapat mempertahankan kualitas kerja dan meningkatkan kompetensinya sepanjang perjalanan karier.
Prinsip keempat adalah Komitmen. Agista mengajak murid menyadari bahwa keputusan untuk menempuh pendidikan di SMKN Jateng di Semarang merupakan langkah awal menuju cita-cita yang harus dijalani dengan kesungguhan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kepatuhan terhadap tata tertib sekolah, kesediaan menyelesaikan tugas, kedisiplinan mengikuti pembelajaran, serta kemampuan mengelola waktu dan energi. Setiap kesempatan belajar perlu dimanfaatkan dengan baik karena keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan, tetapi juga oleh konsistensi dalam menjalankan tanggung jawab.
Dengan komitmen yang kuat, murid diharapkan mampu menyelesaikan pendidikan secara optimal dan memiliki bekal yang memadai ketika memasuki dunia kerja.
Prinsip kelima adalah Kehandalan. Nilai ini berkaitan dengan kemampuan seseorang melaksanakan tugas secara baik, konsisten, dan sesuai target yang telah ditetapkan. Dalam dunia kerja, kehandalan tercermin melalui hasil pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan, ketepatan waktu, serta kesediaan menyelesaikan tugas meskipun menghadapi kesulitan.
Agista mengingatkan agar murid tidak mudah merasa rendah diri ketika menghadapi penilaian atau diremehkan orang lain. Sebaliknya, mereka perlu membuktikan kemampuan melalui kualitas hasil kerja, sikap profesional, dan ketekunan dalam menyelesaikan tanggung jawab.
Kehandalan juga perlu dibangun sejak berada di bangku sekolah, terutama melalui kegiatan praktik, pengerjaan proyek, kerja kelompok, dan pembiasaan mengikuti prosedur. Pengalaman tersebut menjadi sarana bagi murid untuk belajar bekerja secara terencana, teliti, dan bertanggung jawab.
Menurut Agista, penerapan kelima prinsip tersebut akan membantu murid membentuk karakter yang dibutuhkan untuk menghadapi lingkungan kerja yang dinamis. Kejujuran membangun kepercayaan, kesadaran mengarahkan perilaku, kemampuan mendukung kualitas kerja, komitmen menjaga konsistensi, sedangkan kehandalan memastikan tugas dapat dilaksanakan dengan baik.
Pelaksanaan upacara rutin hari Senin di SMKN Jateng di Semarang menjadi salah satu sarana sekolah untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, nasionalisme, tanggung jawab, dan etika. Melalui amanat pembina upacara, murid diajak memahami bahwa keberhasilan pendidikan kejuruan tidak hanya diukur dari kelulusan, tetapi juga dari kesiapan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.
Prinsip 5K diharapkan dapat diterapkan secara nyata dalam keseharian murid, mulai dari mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh, menjaga hubungan baik dengan warga sekolah, menghormati aturan, hingga meningkatkan keterampilan sesuai bidang keahlian masing-masing.
Pembiasaan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu beradaptasi, bekerja secara profesional, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Melalui penguatan prinsip Kejujuran, Kesadaran, Kemampuan, Komitmen, dan Kehandalan, SMKN Jateng di Semarang mendorong murid untuk membangun masa depan dengan karakter yang kuat dan kompetensi yang terus berkembang. Pesan yang disampaikan dalam upacara tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapan kerja tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses belajar, latihan, kedisiplinan, dan pembiasaan nilai-nilai positif sejak di bangku sekolah.

Beri Komentar