Rabu, 12-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Webinar Pengenalan LMS PM KKA BBGTK Jawa Tengah

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat perannya sebagai rumah belajar bagi para pendidik sekaligus penggerak peningkatan mutu pendidikan. Salah satu langkah strategis yang kini dilakukan adalah memperkenalkan penggunaan Learning Management System (LMS) untuk mendukung Pelatihan Pembelajaran Mendalam (PM) dan Coding Kecerdasan Artifisial (KKA) berbasis kelompok kerja. Webinar Pengenalan LMS PM dan KKA dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB. Pemanfaatan platform digital tersebut diharapkan mampu mempercepat peningkatan kompetensi guru dan kepala sekolah sehingga pembelajaran di ruang kelas semakin bermakna, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Program pelatihan PM dan KKA tersebut dilaksanakan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor 17 Tahun 2026. Pelatihan dirancang berlangsung sekitar 4,5 bulan dengan pola tujuh siklus. Skema pelaksanaannya memadukan empat kali pertemuan tatap muka secara luring dengan tiga kali pertemuan secara daring. Melalui pola tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga diarahkan untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam praktik pembelajaran di sekolah masing-masing.

Ketua Tim Kerja Peningkatan Kompetensi BBGTK Provinsi Jawa Tengah, Niko Arif Murdika Wibawa, mengatakan pelaksanaan program tersebut merupakan rangkaian proses yang panjang dan melibatkan banyak pihak. Sebelum pelatihan bagi peserta berlangsung, telah dilakukan bimbingan teknis bagi fasilitator nasional hingga pelatihan bagi Fasilitator Kelompok Kerja (FKK).

Saat ini, menurut Niko, terdapat 198 kelompok kerja yang mendapatkan dukungan dari 164 FKK untuk mendampingi sebanyak 3.675 peserta di berbagai wilayah Jawa Tengah. Besarnya jumlah peserta dan kelompok kerja tersebut membuat pengelolaan data menjadi bagian penting dalam keberhasilan pelatihan, terutama setelah diterapkannya sistem LMS yang terintegrasi dengan sistem pusat.

“Kami mohon maaf baru bisa melakukan pengenalan LMS saat ini karena kendala sistem baru yang cukup kompleks, di mana data harus tersinkronisasi antara sistem Sindara dan LMS pusat,” ungkap Niko dalam laporannya.

Ia menjelaskan, sinkronisasi tersebut diperlukan agar data peserta, kelompok kerja, serta perkembangan pembelajaran dapat tercatat secara akurat. Karena itu, peserta tidak dapat menggunakan sembarang akun untuk mengakses LMS. Penggunaan Akun Belajar.id menjadi persyaratan utama agar sistem dapat mengenali identitas peserta sekaligus merekam aktivitas pembelajaran mereka.

Niko menegaskan bahwa akun Gmail pribadi tidak dapat dikenali dalam sistem tersebut. Peserta harus menggunakan Akun Belajar.id setelah melewati proses penyaringan data pada sistem Sindara. Ketentuan itu menjadi bagian penting dari tata kelola pelatihan karena seluruh aktivitas peserta harus terdokumentasi dan dapat dipantau secara berjenjang hingga tingkat kementerian.

“Penggunaan Akun Belajar.id ini fardu ain bagi seluruh peserta agar progres belajar mereka dapat terdokumentasi dengan baik,” tegas Niko.

Menurutnya, keberadaan LMS bukan sekadar sarana administratif untuk mencatat kehadiran atau menyelesaikan tugas. Platform tersebut menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang memungkinkan proses pelatihan berlangsung lebih terstruktur. Setiap aktivitas peserta dapat ditelusuri sehingga fasilitator mempunyai dasar untuk memberikan pendampingan sesuai kebutuhan.

Kepala Bagian Umum BBGTK Provinsi Jawa Tengah, Dr. Dian Fajarwati, M.Pd., dalam arahannya menekankan pentingnya kelompok kerja yang dibangun berdasarkan rumpun mata pelajaran. Menurut dia, kesamaan bidang keilmuan akan membuat diskusi antarguru lebih fokus dan memiliki benang merah yang jelas. Guru dapat membicarakan persoalan pembelajaran yang benar-benar mereka hadapi sekaligus mencari solusi bersama.

“Paham saja ternyata tidak cukup, yang terpenting adalah kesiapan untuk menerapkan di sekolah masing-masing tanpa rasa takut salah,” tegas Dr. Dian.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pelatihan tidak berhenti pada seberapa banyak materi yang dipahami peserta. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan guru menerjemahkan materi tersebut menjadi praktik pembelajaran nyata. Dengan demikian, pelatihan PM dan KKA diharapkan menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh peserta didik.

Dr. Dian juga menjelaskan bahwa setiap siklus pendampingan akan dipantau melalui rekam jejak yang dimiliki para fasilitator. Rekam jejak tersebut menjadi instrumen untuk melihat perkembangan peserta sekaligus memastikan setiap tahapan program berjalan sesuai tujuan. Pada akhir seluruh siklus, peserta diharapkan mampu menghasilkan praktik baik atau best practice yang dapat dibagikan dan dikembangkan bersama.

Praktik baik tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu kelompok kerja. Pengalaman guru dalam menerapkan pembelajaran mendalam dan coding kecerdasan artifisial dapat menjadi inspirasi bagi guru lain. Dengan budaya berbagi dan kolaborasi, inovasi pembelajaran dapat berkembang secara lebih luas di lingkungan sekolah maupun antarkelompok kerja.

Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan daring, para fasilitator juga didorong memiliki kemandirian dalam mengelola kelas virtual. Mereka diharapkan mampu bekerja secara autopilot, mulai dari menyiapkan dan mengelola tautan pertemuan, mengoordinasikan peserta, hingga mendokumentasikan proses diskusi. Kemandirian tersebut penting agar proses pelatihan tetap berjalan efektif meskipun tidak selalu mendapatkan pendampingan langsung dari tim pusat.

Dari sisi teknis, peserta dapat mengakses LMS melalui portal Ruang GTK maupun melalui alamat resmi LMS Kemendikdasmen. Setelah berhasil masuk, peserta harus mengikuti tahapan pembelajaran secara hierarkis. Proses diawali dengan modul pendahuluan dan Tes Awal atau pre-test. Peserta kemudian dapat melanjutkan ke materi pembelajaran mandiri setelah menyelesaikan tahapan yang dipersyaratkan sistem.

Setiap aktivitas yang telah diselesaikan akan ditandai dengan indikator berupa centang hijau. Indikator tersebut menjadi penanda bahwa peserta telah memenuhi persyaratan untuk membuka aktivitas berikutnya. Pola ini membuat perjalanan belajar peserta menjadi lebih terarah karena setiap tahap harus diselesaikan sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya hingga seluruh siklus berakhir pada Desember mendatang.

BBGTK Provinsi Jawa Tengah menyadari bahwa penerapan sistem digital baru tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Karena itu, dukungan teknis disiapkan untuk membantu peserta ketika mengalami kendala dalam mengakses maupun menggunakan LMS. Tim admin LMS akan tetap siaga melalui grup WhatsApp kelas sehingga persoalan teknis dapat segera dimitigasi.

Kesiapsiagaan tersebut menjadi penting karena guru seharusnya dapat memusatkan perhatian pada substansi pelatihan, bukan tersandera oleh persoalan administratif maupun teknis. Kehadiran tim pendukung diharapkan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih nyaman sekaligus memastikan tidak ada peserta yang tertinggal hanya karena mengalami kendala dalam penggunaan platform digital.

Pelaksanaan PM dan KKA ini sekaligus menunjukkan bahwa transformasi pendidikan membutuhkan kemampuan pendidik untuk beradaptasi dengan teknologi. Pembelajaran mendalam mendorong guru tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi merancang pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik memahami konsep secara lebih utuh, menghubungkannya dengan konteks nyata, serta mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah. Sementara itu, pengenalan coding dan kecerdasan artifisial menjadi bagian dari upaya menyiapkan pendidik dan peserta didik menghadapi perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Di tengah tuntutan tersebut, peran kelompok kerja menjadi semakin strategis. Guru tidak berjalan sendiri, tetapi memiliki ruang untuk saling belajar, berdiskusi, menguji gagasan, dan mengevaluasi praktik pembelajaran. Kolaborasi semacam itu diharapkan melahirkan ekosistem belajar yang tidak hanya bertumpu pada individu, melainkan tumbuh melalui kekuatan komunitas.

Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., menyatakan kesiapannya untuk mendukung dan menyukseskan pelaksanaan pelatihan PM dan KKA yang diselenggarakan BBGTK Provinsi Jawa Tengah. Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen sekolah untuk terus meningkatkan kapasitas pendidik sekaligus memastikan hasil pelatihan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran.

“Kami siap mendukung dan menyukseskan pelatihan PM dan KKA dari BBGTK Jawa Tengah. Harapannya, apa yang diperoleh guru dan Kepala Sekolah dalam pelatihan benar-benar dapat diterapkan dan memberikan dampak positif bagi pembelajaran peserta didik,” ujar Ardan.

Komitmen tersebut sejalan dengan tujuan utama program, yakni memastikan peningkatan kompetensi pendidik bermuara pada peningkatan kualitas pembelajaran. Pelatihan bukan sekadar kegiatan pengembangan profesional yang selesai ketika peserta menuntaskan modul di LMS. Lebih jauh, pelatihan menjadi proses untuk membangun kebiasaan baru dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.

Pada akhirnya, seluruh rangkaian pelatihan PM dan KKA memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan pendidikan yang semakin berkualitas dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik. Guru yang kompeten, percaya diri, dan mampu memanfaatkan teknologi akan menjadi salah satu fondasi penting bagi terwujudnya pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.

Melalui kolaborasi antara BBGTK Jawa Tengah, fasilitator, kelompok kerja, sekolah, serta para peserta pelatihan, penggunaan LMS diharapkan menjadi lebih dari sekadar inovasi digital. Sistem tersebut diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan proses belajar para pendidik dengan praktik nyata di sekolah.

Dengan tujuh siklus yang berlangsung selama sekitar 4,5 bulan, perjalanan peserta masih panjang. Tantangan teknis, proses pendampingan, hingga tuntutan implementasi di kelas akan menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Namun, jika seluruh proses dijalankan dengan semangat kolaborasi dan dedikasi, pelatihan PM dan KKA berpeluang menjadi momentum penting untuk memperkuat kualitas pendidik sekaligus mempercepat transformasi pembelajaran di Jawa Tengah.

“Mudah-mudahan semua siklus ini bisa diimplementasikan di kelas dan berdampak langsung pada peserta didik kita,” demikian harapan yang disampaikan dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Harapan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa keberhasilan program bukan diukur dari selesainya rangkaian pelatihan, melainkan dari perubahan nyata yang terjadi di ruang-ruang kelas dan manfaat yang dirasakan langsung oleh peserta didik.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan