SEMARANG — Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika SMK Kota Semarang menggelar pertemuan bertajuk “Implementasi Pembelajaran Mendalam Matematika SMK dan Bedah Kerangka TKA” di Ruang Pertemuan PT Erlangga, Rabu (12/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti guru matematika dari SMK negeri maupun swasta se-Kota Semarang sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas pembelajaran matematika sekaligus mempersiapkan guru menghadapi pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2026.
Pertemuan MGMP tersebut tidak hanya membahas kesiapan teknis menghadapi TKA, tetapi juga mengajak guru melihat kembali posisi matematika dalam pembelajaran kejuruan. Matematika di SMK didorong agar tidak berhenti sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian yang terhubung dengan kompetensi keahlian yang dipelajari siswa. Konsep tersebut menjadi salah satu penekanan dalam penerapan pembelajaran mendalam yang saat ini terus dikembangkan di satuan pendidikan.
Sejumlah materi strategis disampaikan dalam pertemuan tersebut. Rangkaian kegiatan diawali dengan telaah kerangka TKA dan kisi-kisi TKA mata pelajaran matematika yang disampaikan Arif Ediyanto. Materi tersebut memberikan gambaran mengenai arah asesmen, karakteristik kemampuan yang diukur, serta hal-hal yang perlu menjadi perhatian guru dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi TKA 2026.
Selain membedah kerangka dan kisi-kisi, peserta juga mendapatkan sosialisasi teknis TKA tahun 2026. Pembahasan diperkuat dengan analisis butir soal dan hasil TKA tahun sebelumnya sehingga guru dapat memperoleh gambaran mengenai pola kemampuan peserta didik serta aspek yang masih perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran.
Arif Ediyanto juga membagikan praktik baik dalam pendampingan TKA. Guru diajak tidak sekadar memberikan latihan soal secara berulang, tetapi melakukan analisis terhadap kemampuan siswa, memahami karakteristik soal, dan merancang strategi pembelajaran yang membantu siswa membangun kemampuan bernalar serta memecahkan masalah.
“Persiapan TKA tidak cukup hanya dengan memperbanyak latihan soal. Guru perlu memahami kerangka TKA, menganalisis karakteristik soal, membaca hasil asesmen sebelumnya, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk memperbaiki proses pembelajaran,” ujar Arif Ediyanto dalam pemaparannya.
Menurutnya, hasil asesmen seharusnya menjadi bahan refleksi bagi guru. Dengan menganalisis butir soal dan hasil pengerjaan siswa, guru dapat mengetahui kompetensi mana yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih membutuhkan penguatan. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pendampingan TKA lebih terarah dan tidak sekadar berorientasi pada pencapaian skor.
Materi berikutnya disampaikan Laely Rohmatin Apriliani melalui diseminasi hasil Diklat Daring Terbimbing Matematika Kejuruan yang diselenggarakan BMTI. Salah satu gagasan penting yang dibawa dalam kegiatan tersebut adalah perubahan pola pikir guru terhadap posisi matematika di SMK. Matematika perlu dipahami sebagai supporting unit atau alat pendukung bagi pembelajaran produktif.
Pandangan tersebut menempatkan matematika sebagai pengetahuan yang memiliki fungsi nyata dalam mendukung kompetensi kejuruan. Konsep-konsep matematika yang dipelajari siswa dapat dikaitkan secara langsung dengan kebutuhan bidang keahlian, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan memiliki makna bagi siswa SMK.
“Matematika di SMK bukan sekadar mata pelajaran yang harus dituntaskan. Matematika merupakan supporting unit bagi pembelajaran produktif, sehingga guru perlu menunjukkan kepada siswa di mana dan bagaimana matematika digunakan dalam bidang kejuruan mereka,” papar Laely Rohmatin Apriliani.
Dalam diseminasi tersebut juga diperkenalkan penguatan implementasi Just in Time Teaching. Pendekatan ini menekankan pentingnya keterkaitan antara struktur dan pengetahuan matematika dengan muatan kejuruan yang diajarkan pada waktu yang relevan. Dengan demikian, materi matematika tidak hanya disampaikan berdasarkan urutan materi secara terpisah, tetapi dapat diselaraskan dengan kebutuhan pembelajaran produktif.
Penerapan pendekatan tersebut diharapkan mampu menjawab salah satu tantangan pembelajaran matematika di SMK, yakni bagaimana membuat siswa menyadari manfaat matematika dalam kehidupan nyata dan pekerjaan yang kelak mereka jalani. Ketika konsep matematika diberikan pada saat siswa membutuhkannya untuk memahami atau menyelesaikan persoalan kejuruan, hubungan antarmata pelajaran menjadi lebih mudah dipahami.
“Penguatan Just in Time Teaching membuat matematika hadir pada saat siswa memang membutuhkan konsep tersebut untuk memahami pembelajaran kejuruan. Di situlah keterkaitan antara matematika dan mata pelajaran produktif dapat dirasakan secara langsung,” jelas Laely.
Sementara itu, materi mengenai optimalisasi digitalisasi pembelajaran disampaikan Masrukhan Mufid. Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu perhatian dalam sesi tersebut. Guru diperkenalkan dengan berbagai perangkat digital yang dapat dimanfaatkan untuk membantu menyiapkan bahan ajar, membuat media pembelajaran interaktif, mengembangkan ide aktivitas pembelajaran, hingga mendukung proses refleksi dan evaluasi.
Sejumlah platform berbasis AI seperti Gemini, Claude, NotebookLM, Canva AI, DeepSeek, dan berbagai perangkat digital lainnya menjadi contoh teknologi yang dapat dimanfaatkan guru. Pemanfaatannya diarahkan bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan memperkuat kreativitas dan efektivitas guru dalam merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Digitalisasi pembelajaran seharusnya membuat guru semakin kreatif, bukan semakin bergantung pada teknologi. Berbagai kecerdasan artifisial dapat dimanfaatkan untuk membuat bahan ajar dan media interaktif, tetapi guru tetap menjadi pengarah utama dalam menentukan tujuan, konteks, dan kualitas pembelajaran,” kata Masrukhan Mufid.
Pemanfaatan AI juga membuka peluang bagi guru matematika untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif. Guru dapat mengembangkan materi visual, simulasi, pertanyaan pemantik, bahan diskusi, maupun media interaktif yang mendorong siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar. Teknologi tersebut sekaligus dapat membantu guru menghemat waktu dalam tahap persiapan sehingga energi dapat lebih banyak diarahkan untuk membimbing siswa.
Dalam konteks pembelajaran mendalam, penggunaan teknologi digital tersebut perlu ditempatkan sebagai sarana untuk membangun pengalaman belajar yang bermakna. Siswa tidak hanya diarahkan untuk mendapatkan jawaban, tetapi didorong memahami konsep, menghubungkan pengetahuan dengan konteks nyata, melakukan penalaran, bekerja sama, serta merefleksikan proses belajarnya.
Pertemuan MGMP Matematika SMK Kota Semarang tersebut pada akhirnya mempertemukan tiga kebutuhan penting dalam pembelajaran matematika SMK, yakni kesiapan menghadapi asesmen, penguatan keterkaitan matematika dengan pembelajaran kejuruan, dan kemampuan guru memanfaatkan teknologi digital. Ketiganya menjadi bagian yang saling mendukung dalam membangun pembelajaran yang relevan dengan perkembangan pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
Para peserta tidak hanya memperoleh materi, tetapi juga mendapatkan ruang untuk berbagi pengalaman dan praktik baik. Kehadiran guru matematika dari berbagai SMK negeri dan swasta di Kota Semarang memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan mengenai strategi pembelajaran, pendampingan TKA, pemanfaatan teknologi, serta cara menghubungkan materi matematika dengan karakteristik program keahlian masing-masing sekolah.
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi MGMP Matematika SMK Kota Semarang untuk terus memperkuat kolaborasi antarpendidik. Tantangan pembelajaran matematika di SMK tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan yang berorientasi pada penguasaan materi. Diperlukan pembelajaran yang mampu menghubungkan pengetahuan matematika dengan persoalan nyata, kebutuhan kejuruan, perkembangan teknologi, dan kemampuan bernalar siswa.
Melalui implementasi pembelajaran mendalam, penguatan Just in Time Teaching, pemanfaatan teknologi AI, serta persiapan TKA yang berbasis analisis, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual. Matematika tidak lagi dipandang sebagai kumpulan rumus yang harus dihafalkan, tetapi sebagai alat berpikir dan alat pemecahan masalah yang memiliki peran penting dalam berbagai bidang kejuruan.
Pertemuan di Ruang Pertemuan PT Erlangga itu pun menegaskan bahwa peningkatan kualitas pembelajaran matematika di SMK membutuhkan guru yang terus belajar, berkolaborasi, dan terbuka terhadap perubahan. Persiapan TKA 2026 menjadi salah satu momentum untuk melakukan evaluasi, sementara implementasi pembelajaran mendalam dan digitalisasi pembelajaran menjadi langkah untuk memastikan matematika tetap relevan dengan kebutuhan siswa dan perkembangan zaman.

Beri Komentar