Minggu, 19-04-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Sholat Jumat di SMKN Jateng di Semarang, Ustad Sugito Ingatkan Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan Allah di Hari Kiamat

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SMKN Jateng melaksanakan Sholat Jumat berjamaah pada Jumat, 17 April 2026, dengan penuh kekhusyukan di lingkungan sekolah. Kegiatan rutin keagamaan ini diikuti oleh siswa, guru, serta tenaga kependidikan sebagai bagian dari pembinaan karakter religius di sekolah. Bertindak sebagai khotib Jumat, Ustad Sugito menyampaikan khutbah yang menekankan pentingnya kesiapan menghadapi hari kiamat serta amalan-amalan yang dapat mengantarkan umat Islam memperoleh naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pelaksanaan Sholat Jumat dimulai sekitar pukul 11.45 WIB di masjid sekolah yang dipadati jamaah. Suasana khidmat terasa sejak awal, ketika para siswa datang secara tertib dan memenuhi saf-saf yang telah disiapkan. Kepala sekolah bersama jajaran guru turut hadir dan berbaur dengan para siswa, menciptakan suasana kebersamaan dalam ibadah.

Dalam khutbahnya, Ustad Sugito mengingatkan bahwa hari kiamat merupakan sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Ia menggambarkan kondisi manusia pada hari tersebut dengan sangat jelas dan menyentuh.

“Hari kiamat adalah hari yang pasti terjadi. Pada hari itu, matahari didekatkan sejauh satu mil, manusia berdiri hingga keringat mereka mengalir sesuai dosa, dan tidak ada tempat berteduh kecuali naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujar Ustad Sugito di hadapan jamaah.

Ia menambahkan bahwa di tengah kondisi yang sangat panas dan penuh kegelisahan tersebut, Allah memberikan keistimewaan berupa naungan bagi hamba-hamba-Nya yang terpilih. Hal ini, lanjutnya, sebagaimana disampaikan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

“Mereka adalah tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya,” katanya, sebelum merinci satu per satu golongan tersebut.

Ustad Sugito menjelaskan bahwa tujuh golongan itu meliputi pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah, orang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seseorang yang menolak ajakan maksiat karena takut kepada Allah, orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, serta orang yang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian hingga meneteskan air mata.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ketujuh golongan tersebut bukan hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu seperti ulama atau pejabat, melainkan terbuka bagi siapa saja yang berusaha dengan sungguh-sungguh.

“Tujuh golongan ini bukan berarti milik ulama, pejabat, atau orang tertentu saja. Ini adalah cerminan karakter yang bisa kita bentuk dengan niat, usaha, dan istiqamah,” tuturnya.

Dalam penjelasannya, Ustad Sugito mengajak para siswa untuk memahami bahwa kepemimpinan tidak selalu dalam skala besar, tetapi juga dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Ia menekankan pentingnya bersikap adil dalam setiap keputusan, sekecil apa pun.

“Keadilan bukan hanya soal hukum atau kebijakan, tapi tentang amanah di hadapan Allah. Setiap dari kita adalah pemimpin dalam keluarga, pekerjaan, atau lingkungan,” katanya.

Kepada para siswa sebagai generasi muda, ia juga memberikan pesan khusus agar memanfaatkan masa muda dengan memperbanyak ibadah dan menjauhi perbuatan maksiat.

“Masa muda penuh godaan, tapi jika diisi dengan shalat, tilawah, dan menjauhi maksiat, Allah janjikan naungan-Nya. Jangan tunda taubat, jangan menunda shalat,” ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjalin hubungan dengan masjid tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara hati. Menurutnya, kerinduan untuk hadir di masjid merupakan tanda keimanan yang hidup.

“Hati yang terpaut dengan masjid bukan sekadar kaki yang melangkah, tapi hati yang rindu kepada rumah Allah,” ucapnya.

Dalam aspek hubungan sosial, Ustad Sugito juga menyoroti pentingnya membangun persahabatan yang dilandasi keimanan, bukan kepentingan duniawi. Ia menekankan bahwa hubungan seperti ini akan membawa keberkahan.

“Pertemanan karena Allah itu ketika bertemu saling menasihati, dan ketika berpisah saling mendoakan,” katanya.

Ia juga mengingatkan jamaah tentang pentingnya menjaga diri dari godaan maksiat, khususnya dalam situasi yang menguji keimanan. Menurutnya, keberanian untuk mengatakan takut kepada Allah merupakan bentuk keteguhan iman.

“Katakan ‘aku takut kepada Allah’ bukan karena malu kepada manusia, tapi karena sadar Allah Maha Melihat,” tegasnya.

Lebih jauh, Ustad Sugito menekankan pentingnya keikhlasan dalam bersedekah dan beribadah. Ia menyebut bahwa sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi merupakan bentuk kemurnian niat yang sangat tinggi.

“Sedekah bukan untuk pamer, tapi untuk membersihkan harta dan hati,” ujarnya.

Di akhir khutbahnya, ia menggambarkan kedekatan seorang hamba dengan Allah melalui dzikir yang dilakukan dalam kesendirian hingga meneteskan air mata.

“Ini adalah puncak kedekatan pribadi dengan Allah. Tidak ada yang melihat kecuali Allah,” katanya.

Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd, M.Pd mengaku tersentuh dengan isi khutbah yang disampaikan. Ia mengatakan bahwa pesan yang disampaikan sangat relevan dengan kehidupan remaja saat ini.

“Khutbahnya sangat mengingatkan kami sebagai pelajar untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik,” ujarnya.

Kegiatan Sholat Jumat berjamaah di SMKN Jateng ini tidak hanya menjadi kewajiban ibadah mingguan, tetapi juga sarana pembinaan karakter spiritual bagi seluruh warga sekolah. Melalui khutbah yang disampaikan, diharapkan para siswa mampu menginternalisasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan