Semarang – SMKN Jateng di Semarang terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penguatan kompetensi pendidik. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah menyelenggarakan In House Training (IHT) Penyusunan Bahan Ajar Bagi Pendidik yang diikuti 36 guru mata pelajaran umum dan produktif. Kegiatan berlangsung pada Selasa (7/7/2026) dengan menghadirkan narasumber pendidikan, Dra. Suminarsih, M.Si, sebagai pemateri utama.
Pelaksanaan IHT menjadi bagian dari strategi sekolah dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran yang berkualitas menjelang Tahun Ajaran 2026/2027. Selama pelatihan, para guru dibekali pemahaman mengenai pentingnya menyusun bahan ajar yang dirancang sendiri sesuai karakteristik peserta didik, sekaligus menyusun dokumen pembelajaran yang akan digunakan sebagai sumber belajar di kelas.
Pemateri, Dra. Suminarsih, M.Si., menjelaskan bahwa bahan ajar bukan sekadar kumpulan materi, tetapi merupakan instrumen penting yang mampu mengarahkan proses belajar menjadi lebih bermakna. Guru, menurutnya, perlu menghadirkan bahan ajar yang kontekstual, mudah dipahami, dan mampu mendorong peserta didik untuk berpikir kritis serta aktif dalam proses pembelajaran.
Selama pelatihan, peserta diarahkan untuk mencapai lima tujuan utama, yakni memiliki pemahaman mengenai pentingnya bahan ajar yang disusun sendiri oleh guru, menyamakan kerangka bahan ajar bagi peserta didik SMKN Jateng di Semarang, menyusun bahan ajar sesuai mata pelajaran masing-masing, melakukan telaah atau review terhadap bahan ajar yang telah dibuat, serta memfinalisasi bahan ajar agar siap digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam penyampaian materi, Suminarsih memperkenalkan pendekatan pembelajaran menggunakan alur ICARE yang terdiri atas Introduction (pendahuluan), Connection (curah gagasan), Application (menetapkan kerangka penyusunan bahan ajar), Reflection (refleksi dan penguatan), serta Extension (pengembangan). Menurutnya, pendekatan tersebut mampu membantu guru menyusun pembelajaran secara sistematis sehingga peserta didik tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.
“Bahan ajar yang disusun sendiri oleh guru akan lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik karena lahir dari pengalaman guru saat mendampingi proses belajar di kelas. Guru memahami karakter siswanya sehingga dapat menyusun materi yang lebih kontekstual, mudah dipahami, sekaligus mampu mendorong siswa berpikir kritis dan mandiri,” ujar Dra. Suminarsih, M.Si.
Selain membahas penyusunan bahan ajar, peserta juga mendapatkan materi mengenai transisi pola pikir pendidik dalam menghadapi perubahan paradigma pendidikan. Guru diajak memahami pentingnya mendesain pola pikir pembelajaran yang lebih berorientasi pada peserta didik melalui tiga pilar perjalanan belajar atau prinsip pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan tersebut menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif yang membangun pengetahuan melalui eksplorasi, diskusi, refleksi, dan pengalaman belajar yang bermakna.
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah teknik merancang pertanyaan pemantik menggunakan metode PIT (Produktif, Imajinatif, dan Terbuka). Teknik tersebut mendorong guru menyusun pertanyaan yang tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga memancing kreativitas, kemampuan bernalar, dan keterampilan memecahkan masalah.
“Kualitas pertanyaan yang diajukan guru adalah bahan bakar perjalanan pembelajaran. Pertanyaan yang produktif, imajinatif, dan terbuka akan membuat peserta didik terdorong untuk berpikir lebih dalam, berdiskusi, serta menemukan pengetahuan melalui proses belajar yang aktif,” jelas Suminarsih.
Usai mengikuti pelatihan hari pertama, para guru akan melanjutkan proses penyusunan bahan ajar selama dua hari berikutnya sesuai bidang studi masing-masing. Seluruh hasil penyusunan tersebut nantinya akan melalui proses telaah dan penyempurnaan sebelum ditetapkan sebagai sumber belajar resmi yang digunakan dalam pembelajaran Tahun Ajaran 2026/2027 di SMKN Jateng di Semarang.
Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., menyambut baik pelaksanaan IHT tersebut. Menurutnya, peningkatan kualitas guru merupakan investasi utama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh kompetensi guru karena guru memiliki peran strategis mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi pembelajaran.
“Keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh guru karena mereka adalah perencana, pelaksana, sekaligus evaluator utama. Guru memegang kendali dalam mengelola kelas, memilih metode yang sesuai dengan karakter peserta didik, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga proses pembelajaran benar-benar memberikan dampak bagi perkembangan kompetensi siswa,” kata Ardan.
Ia menjelaskan bahwa guru merupakan pembuat desain pembelajaran yang bertanggung jawab merancang tujuan, strategi, dan alur pembelajaran sesuai kurikulum. Selain itu, guru juga berperan sebagai pengelola kelas sekaligus fasilitator yang membimbing peserta didik agar mampu berkembang sesuai potensi masing-masing.
Ardan menambahkan bahwa kreativitas dan inovasi guru menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Penyampaian materi yang menarik akan meningkatkan keaktifan, pemahaman, serta minat belajar peserta didik. Di sisi lain, kemampuan guru dalam melakukan evaluasi juga menjadi dasar penting untuk memperbaiki kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.
“Melalui IHT ini kami berharap seluruh guru mampu menghasilkan bahan ajar yang berkualitas, seragam dalam kerangka penyusunannya, namun tetap memberi ruang bagi kreativitas sesuai karakteristik mata pelajaran masing-masing. Bahan ajar tersebut nantinya akan menjadi salah satu fondasi penting dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih mendalam, relevan, dan berpusat pada peserta didik,” tutur Ardan.
Pelaksanaan In House Training Penyusunan Bahan Ajar ini menjadi wujud komitmen SMKN Jateng di Semarang dalam membangun budaya belajar bagi para pendidik. Dengan tersusunnya bahan ajar yang berkualitas, kontekstual, dan sesuai kebutuhan peserta didik, sekolah optimistis proses pembelajaran pada Tahun Ajaran 2026/2027 akan semakin efektif dalam membentuk lulusan yang memiliki kompetensi, karakter, kemampuan berpikir kritis, serta siap menghadapi tantangan dunia kerja maupun pendidikan lanjutan.
Penulis : Laely Rohmatin Apriliani, Wakakur SMKN Jateng di Semarang

Beri Komentar