SEMARANG — Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, manajemen SMKN Jateng di Semarang mendapat pengarahan strategis dari pengawas pembina guna memperkuat kualitas tata kelola sekolah, pembelajaran, hingga kemitraan dengan dunia kerja. Rapat pengarahan yang berlangsung pada Jumat, 3 Juli 2026, di Ruang Meeting Lantai 2 Gedung Administrasi ini menjadi momentum penting dalam menyusun langkah-langkah strategis sekolah untuk menjawab tantangan pendidikan vokasi yang semakin kompleks.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30 hingga 10.30 WIB tersebut dihadiri jajaran manajemen SMKN Jateng di Semarang. Dalam forum itu, berbagai agenda prioritas dibahas, mulai dari persiapan In House Training (IHT), penguatan sekolah berintegritas, peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan sekolah boarding, hingga penguatan kerja sama dengan dunia industri, usaha, dan kerja (IDUKA).
Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa sekolah terus berupaya melakukan pembenahan dan inovasi berkelanjutan demi menjaga mutu layanan pendidikan. Salah satu fokus utama adalah persiapan menyongsong tahun ajaran baru melalui serangkaian program penguatan kapasitas guru dan penyempurnaan arah pengembangan sekolah.
Ardan menjelaskan bahwa pada 7 hingga 8 Juli 2026, sekolah akan menggelar In House Training penyusunan bahan ajar dengan muatan insersi yang mencakup pendidikan perkoperasian, Bangga Rupiah, serta ekonomi syariah. Setelah itu, pada 9 Juli 2026, agenda dilanjutkan dengan penyusunan roadmap sekolah boarding sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan berbasis asrama yang menjadi ciri khas sekolah.
“Persiapan tahun ajaran baru bukan hanya soal administrasi, tetapi bagaimana seluruh ekosistem sekolah memiliki visi yang sama untuk meningkatkan mutu pembelajaran, karakter murid, dan daya saing lulusan,” ujar Ardan.
Dalam paparannya, Ardan juga mengungkapkan capaian membanggakan sekolah terkait keterserapan lulusan. Hingga pertengahan tahun 2026, tingkat keterserapan lulusan SMKN Jateng di Semarang telah mencapai 94 persen. Angka tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan dunia kerja terhadap kualitas lulusan sekolah.
Menurutnya, capaian itu harus menjadi motivasi untuk terus memperkuat sinergi dengan dunia kerja sekaligus meningkatkan kesiapan lulusan, baik dari aspek kompetensi teknis maupun soft skill.
Selain menyoroti keterserapan lulusan, Ardan menekankan pentingnya penguatan budaya sekolah berintegritas. Ia menilai integritas harus menjadi nilai fundamental yang hidup dalam keseharian seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga komite sekolah.
Sementara itu, Pengawas SMK, Dra. Sri Maryati, M.T., dalam arahannya menekankan bahwa penguatan proses pembelajaran harus tetap berjalan secara berkelanjutan melalui implementasi pembelajaran mendalam (deep learning). Menurutnya, transformasi pembelajaran tidak cukup berhenti pada penyusunan perangkat ajar, melainkan harus tampak nyata dalam praktik di kelas dan aktivitas pendampingan siswa.
“Pembelajaran mendalam harus terus diimplementasikan secara konsisten sesuai perencanaan yang telah dibuat. Guru perlu memastikan bahwa pembelajaran benar-benar bermakna dan mampu membangun kompetensi murid secara utuh,” tegas Sri Maryati.
Ia menambahkan, sistem boarding school yang diterapkan SMKN Jateng memiliki potensi besar dalam membangun ekosistem pendidikan yang holistik. Oleh karena itu, pendampingan murid selama 24 jam perlu dioptimalkan, tidak hanya untuk kegiatan intrakurikuler, tetapi juga kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
Dalam konteks sekolah berintegritas, Sri Maryati mendorong SMKN Jateng untuk mempersiapkan implementasi Sekolah Berintegritas (SBI) secara matang. Menurutnya, seluruh instrumen penilaian SBI harus mulai disiapkan agar budaya integritas benar-benar tertanam dalam sistem sekolah.
“Sekolah berintegritas bukan sekadar program administratif. Ini tentang bagaimana nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan keteladanan menjadi budaya yang hidup dalam keseharian sekolah,” jelasnya.
Pengawas juga menyoroti pentingnya implementasi muatan insersi dalam Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) 2026/2027. Muatan tersebut meliputi pendidikan perkoperasian yang akan diintegrasikan dalam mata pelajaran IPAS dan KIK, pendidikan cinta serta bangga pada rupiah dalam PP dan IPAS, serta ekonomi syariah dalam mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.
Menurut Sri Maryati, muatan insersi tersebut penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya kompeten secara akademik dan vokasional, tetapi juga memiliki literasi ekonomi, nasionalisme, serta pemahaman nilai ekonomi berbasis syariah.
Pada aspek kokurikuler, pembahasan difokuskan pada penguatan karakter untuk mencapai delapan dimensi Profil Lulusan. Sekolah diminta memastikan adanya alur perkembangan kompetensi sesuai regulasi KBSKAP Nomor 058/H/Kr/2025, termasuk penentuan bentuk kegiatan kokurikuler dan kejelasan penanggung jawab melalui koordinator kokurikuler.
Administrasi kegiatan kokurikuler juga menjadi perhatian agar setiap program terdokumentasi dengan baik dan memiliki indikator keberhasilan yang terukur.
Sementara itu, dalam bidang ekstrakurikuler, Sri Maryati menekankan perlunya peningkatan soft skill murid sebagai bekal penting menghadapi dunia kerja. Ia mendorong sekolah untuk belajar dari praktik baik SMK Negeri 10, khususnya terkait program YKKS dan ChildFund yang dinilai efektif meningkatkan keterampilan dasar, keterampilan lanjut, hingga menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa.
Penguatan soft skill juga dinilai berkaitan erat dengan optimalisasi peran guru wali. Sri Maryati menegaskan bahwa guru tidak cukup hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan mentor yang memahami perkembangan siswa secara personal.
Ia mengusulkan adanya kolaborasi yang lebih kuat antara wali kelas, pamong, guru wali, dan guru bimbingan konseling (BK). Pertemuan guru wali pun direkomendasikan minimal dua kali dalam satu bulan agar pendampingan siswa berlangsung intensif.
Selain itu, penyusunan kesepakatan sekolah juga dinilai penting untuk membangun kesadaran bersama antara murid dan guru dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
Pada sektor kemitraan dengan IDUKA, Sri Maryati menekankan perlunya peningkatan kualitas pembelajaran kelas industri. Ia juga mendorong penyesuaian jumlah jam pelajaran untuk guru tamu dari industri serta penambahan program magang guru agar tenaga pendidik memiliki wawasan industri yang lebih mutakhir.
Pembahasan juga menyentuh program Hari Guru Belajar yang direncanakan rutin setiap Jumat siang pukul 13.00 WIB. Program ini diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kompetensi guru. Selain itu, sistem perwalian berbasis buku panduan asrama untuk setiap murid melalui konsep DUMB GOAL juga akan diperkuat guna mendukung pembinaan karakter dan target capaian siswa.
SMKN Jateng di Semarang juga didorong untuk berkembang menjadi SMK Resource Hub, yakni pusat berbagi materi, praktik baik, dan pengembangan kompetensi bagi sekolah lain. Dalam jangka panjang, peran ini diharapkan mampu memperluas dampak positif sekolah bagi pengembangan pendidikan vokasi di Jawa Tengah.
Menutup arahannya, Sri Maryati mengingatkan bahwa keberhasilan sekolah vokasi tidak hanya diukur dari tingginya keterserapan lulusan, tetapi juga dari kualitas mental dan karakter lulusan tersebut.
“Lulusan yang dibutuhkan industri saat ini bukan hanya yang kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki ketahanan mental, kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan karakter yang kuat,” pungkasnya.
Rapat pengarahan ini menegaskan komitmen SMKN Jateng di Semarang untuk terus berkembang sebagai sekolah vokasi unggul yang adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan penguatan integritas, pembelajaran bermakna, sistem boarding yang terstruktur, serta kolaborasi erat dengan dunia industri, SMKN Jateng optimistis mampu melahirkan lulusan yang siap kerja, siap belajar, dan siap menjadi agen perubahan di masa depan.
Penulis : Laely Rohmatin Apriliani, Waka Kurikulum SMKN Jateng di Semarang

Beri Komentar