SEMARANG — SMK Negeri Jateng di Semarang terus memperkuat budaya kerja yang kondusif melalui penerapan nilai-nilai dasar ASN BerAKHLAK. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Berbagi Praktik Baik ASN BerAKHLAK dengan tema “Harmonis” yang digelar Jumat, 28 Agustus 2026, di Ruang AVA SMK Negeri Jateng di Semarang.
Kegiatan yang diikuti jajaran guru dan tenaga kependidikan tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus merefleksikan penerapan nilai Harmonis dalam kehidupan kerja sehari-hari. Keharmonisan dipandang bukan sekadar menciptakan suasana kerja yang nyaman, tetapi juga menjadi fondasi penting untuk membangun kolaborasi, meningkatkan produktivitas, dan menghadirkan pelayanan pendidikan yang berkualitas.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak memahami bahwa lingkungan kerja yang sehat lahir dari kemampuan setiap individu untuk saling menghargai, peduli, berkomunikasi secara baik, serta bekerja sama tanpa membedakan latar belakang. Nilai tersebut menjadi semakin penting dalam lingkungan sekolah yang mempertemukan berbagai karakter, pemikiran, pengalaman, dan tugas profesional.
Pada sesi pertama, Riska Eko Cahyono, S.Pd., membagikan praktik baik mengenai pentingnya membangun empati dan toleransi di lingkungan edukasi. Ia menekankan bahwa penerapan nilai Harmonis harus dimulai dari hubungan antarpersonal di antara para pendidik dan tenaga kependidikan.
Menurutnya, sikap saling menghargai di lingkungan kerja akan memberikan dampak yang lebih luas karena budaya yang dibangun oleh orang dewasa di sekolah pada akhirnya akan menjadi contoh bagi peserta didik. Ketika guru dan tenaga kependidikan mampu menunjukkan perilaku saling menghormati, siswa akan memperoleh pengalaman nyata mengenai bagaimana hidup bersama dalam keberagaman.
“Penerapan nilai Harmonis dimulai dari sikap saling menghargai antar-pendidik tanpa memandang latar belakang, yang kemudian ditularkan kepada para peserta didik,” ujar Riska dalam pemaparannya.
Ia menilai lingkungan sekolah yang inklusif dan saling mendukung menjadi salah satu kunci dalam membentuk karakter siswa. Pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui materi pembelajaran, tetapi perlu diwujudkan melalui keteladanan seluruh warga sekolah dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dalam praktiknya, sikap empati dan toleransi dapat diwujudkan melalui kesediaan mendengarkan pendapat rekan kerja, memahami kondisi orang lain, menghargai perbedaan cara pandang, serta menghindari sikap yang berpotensi menimbulkan konflik. Budaya tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana kerja yang lebih terbuka dan nyaman bagi seluruh warga sekolah.
Perspektif lain disampaikan Ryandika Fajar Perdana, S.Kom., yang mengangkat aspek komunikasi dan pemanfaatan teknologi informasi dalam menjaga keharmonisan organisasi. Menurutnya, perkembangan digitalisasi sekolah menghadirkan peluang sekaligus tantangan dalam membangun komunikasi antarunit kerja.
Kemudahan pertukaran informasi dapat mempercepat koordinasi, tetapi pada saat yang sama komunikasi digital membutuhkan etika dan kehati-hatian. Pesan yang disampaikan melalui perangkat digital berpotensi menimbulkan salah tafsir apabila tidak dirancang dengan bahasa yang jelas, santun, dan sesuai konteks.
Karena itu, komunikasi digital yang baik menjadi bagian penting dari penerapan nilai Harmonis. Keterbukaan informasi dan transparansi dalam pengelolaan data operasional juga dapat membantu membangun kepercayaan di antara warga sekolah.
“Pola komunikasi digital yang santun serta keterbukaan dalam pengelolaan data operasional mampu meminimalisasi miskomunikasi dan mempercepat kolaborasi antar-unit kerja,” jelas Ryandika.
Menurutnya, teknologi semestinya tidak hanya dimanfaatkan untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga menjadi sarana membangun koordinasi yang efektif. Ketika informasi dapat diakses dan dipahami dengan baik oleh pihak yang berkepentingan, potensi kesalahpahaman dapat ditekan dan pekerjaan antartim menjadi lebih terintegrasi.
Sementara itu, Rudiyanto membagikan pengalaman praktis mengenai budaya saling membantu dalam menjalankan tugas operasional sehari-hari. Ia menyoroti pentingnya kepedulian antarpegawai sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang harmonis.
Menurut Rudiyanto, pekerjaan di lingkungan sekolah memiliki keterkaitan satu sama lain. Keberhasilan penyelenggaraan layanan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh satu individu atau satu unit kerja, tetapi membutuhkan kontribusi dan dukungan dari berbagai pihak.
“Keharmonisan di tempat kerja bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan hadirnya rasa kepedulian dan kesiapan untuk saling menyokong saat menghadapi tantangan kerja,” ungkap Rudiyanto.
Ia menambahkan bahwa budaya kerja yang kekeluargaan dapat memberikan dampak terhadap produktivitas dan kenyamanan warga sekolah. Ketika pegawai merasa mendapatkan dukungan dari lingkungan kerjanya, tantangan pekerjaan dapat dihadapi secara lebih ringan melalui semangat kebersamaan.
Berbagi praktik baik tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi guru dan tenaga kependidikan untuk melakukan refleksi terhadap pola interaksi yang selama ini berlangsung di lingkungan sekolah. Setiap peserta dapat melihat kembali bagaimana nilai Harmonis telah diterapkan sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang masih dapat diperbaiki.
Keharmonisan juga tidak berarti menghilangkan perbedaan. Sebaliknya, perbedaan pendapat, latar belakang, pengalaman, dan karakter merupakan bagian dari dinamika organisasi. Yang terpenting adalah bagaimana perbedaan tersebut dikelola melalui komunikasi yang sehat dan sikap saling menghargai.
Dalam konteks pendidikan, budaya kerja yang harmonis memiliki hubungan erat dengan kualitas layanan kepada peserta didik. Guru yang bekerja dalam suasana positif akan memiliki ruang yang lebih baik untuk berkolaborasi, berbagi gagasan, dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan pembelajaran.
Demikian pula tenaga kependidikan yang memperoleh dukungan dan komunikasi yang baik dapat menjalankan tugas administrasi dan layanan sekolah secara lebih optimal. Sinergi antara tenaga pendidik dan kependidikan pada akhirnya akan memberikan dampak terhadap kualitas layanan yang diterima peserta didik.
Kegiatan Berbagi Praktik Baik ASN BerAKHLAK dengan tema Harmonis menjadi salah satu bentuk internalisasi nilai-nilai ASN dalam kehidupan organisasi di SMK Negeri Jateng di Semarang. Nilai tersebut tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diarahkan untuk hadir dalam perilaku nyata setiap warga sekolah.
Melalui kegiatan ini, SMK Negeri Jateng di Semarang menegaskan komitmennya untuk membangun lingkungan kerja yang saling menghargai, terbuka, peduli, dan kolaboratif. Budaya tersebut diharapkan menjadi energi positif dalam menjalankan tugas sekaligus mendukung pencapaian tujuan sekolah.
Pada akhirnya, lingkungan kerja yang harmonis bukan hanya tentang bagaimana pegawai merasa nyaman berada di tempat kerja. Lebih dari itu, keharmonisan merupakan modal sosial yang memungkinkan seluruh warga sekolah bergerak dalam satu tujuan, saling mendukung ketika menghadapi tantangan, dan memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik.
Dengan terus membangun empati, toleransi, komunikasi yang santun, kepedulian, serta semangat saling membantu, nilai Harmonis diharapkan semakin mengakar dalam keseharian warga SMK Negeri Jateng di Semarang. Dari lingkungan kerja yang kondusif itulah, kualitas layanan pendidikan diharapkan tumbuh secara berkelanjutan.

Beri Komentar