Minggu, 30-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Pusat Pelatihan Guru Ajak Guru Marsudirini Bangkong Ubah Pengalaman Mengajar Menjadi Best Practice dan Modul Bermakna

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Sebanyak 42 guru perwakilan unit sekolah di bawah Yayasan Marsudirini Perwakilan Bangkong Semarang mengikuti kegiatan berbagi praktik baik penyusunan Best Practice dan modul pembelajaran yang digelar Pusat Pelatihan Guru, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan berlangsung di Aula Yayasan Marsudirini, Jalan MT Haryono 908, Semarang, dengan menghadirkan Founder dan CEO Pusat Pelatihan Guru yang sekaligus Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber.

Kegiatan yang dilaksanakan pada hari libur tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi para guru untuk meningkatkan kompetensi profesional, terutama dalam mendokumentasikan pengalaman dan inovasi pembelajaran menjadi karya yang sistematis, terukur, serta dapat dibagikan dan direplikasi oleh guru lainnya.

Ketua panitia, Damar Yogananta, dalam laporannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang tetap meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan meskipun dilaksanakan pada hari libur. Menurutnya, peserta yang hadir merupakan perwakilan dari unit-unit sekolah terpilih di lingkungan Yayasan Marsudirini Perwakilan Bangkong Semarang.

“Terima kasih dan apresiasi kepada Bapak dan Ibu yang hadir di waktu hari libur. Peserta yang mengikuti kegiatan ini merupakan perwakilan dari unit terpilih,” ujar Damar.

Ia menegaskan bahwa pengembangan kompetensi guru menjadi salah satu bentuk investasi penting bagi lembaga pendidikan. Menurut Damar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya guru, perlu terus dilakukan seiring dengan kebutuhan pengembangan karier dan profesionalisme pendidik.

“Rancangan program investasi yang paling baik adalah investasi pada sumber daya manusia, yaitu guru. SDM harus mau berkembang,” katanya.

Damar juga menyampaikan pentingnya dukungan yayasan terhadap perkembangan status dan kesejahteraan para guru. Ia berharap peningkatan kompetensi yang dilakukan melalui kegiatan tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan karier guru, termasuk dalam proses kenaikan tingkat dan golongan.

“Sudah waktunya kenaikan tingkat dan golongan. Karena itu, Bapak dan Ibu perlu terus meningkatkan kompetensi dan mengembangkan diri,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Marsudirini Perwakilan Bangkong, Suster Susana OSF, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan, menyampaikan terima kasih kepada narasumber dan seluruh panitia yang telah mempersiapkan pelatihan. Ia juga memberikan apresiasi kepada para guru yang berkenan hadir dan belajar bersama meskipun kegiatan dilaksanakan pada hari libur.

“Terima kasih kepada narasumber, Bapak Ardan Sirodjuddin, juga kepada panitia yang sudah mempersiapkan kegiatan ini,” kata Suster Susana.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk upaya mendukung guru dalam pengembangan profesional, termasuk untuk kepentingan kenaikan pangkat. Namun, lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan administratif, proses belajar bersama diharapkan mampu memberikan cara yang lebih mudah bagi guru dalam mengembangkan kompetensinya.

“Belajar bersama memiliki cara untuk mempermudah,” ujarnya.

Suster Susana berharap seluruh guru dapat terus berkembang bersama peserta didik. Ia mengajak para peserta menyiapkan hati dan pikiran agar dapat menyerap materi pelatihan secara optimal sehingga berdampak terhadap peningkatan kualitas layanan pendidikan.

“Semua guru berkembang bersama murid. Saya berharap Bapak dan Ibu menyiapkan hati dan pikiran untuk menyerap materi yang diberikan, sehingga layanan pendidikan semakin punya arah sesuai kebutuhan anak-anak,” ungkapnya.

Memasuki sesi pertama, Ardan Sirodjuddin mengajak peserta memahami konsep dasar Best Practice dan cara menyusunnya menggunakan metode STAR. Ia menekankan bahwa pengalaman mengajar yang selama ini dilakukan guru sebenarnya memiliki nilai yang sangat besar apabila mampu didokumentasikan secara sistematis.

Metode STAR terdiri atas empat komponen utama, yakni Situation, Task, Action, dan Result. Situation atau situasi digunakan untuk menggambarkan konteks, latar belakang, serta kondisi awal permasalahan secara spesifik dan didukung data. Selanjutnya, Task atau tantangan menjelaskan tugas, tujuan, dan tantangan nyata yang dihadapi guru.

Tahap berikutnya adalah Action atau aksi, yakni menjelaskan langkah konkret, strategi, inovasi, dan berbagai upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan. Sementara Result atau hasil digunakan untuk menunjukkan perubahan, dampak, dan hasil yang dapat diukur setelah tindakan dilakukan.

Dalam materi tersebut, Ardan juga menambahkan unsur refleksi sebagai bagian penting dalam proses penulisan Best Practice. Melalui refleksi, guru dapat mengevaluasi keberhasilan, menemukan pembelajaran dari proses yang telah dilakukan, serta merancang tindak lanjut atau kemungkinan penerapan praktik tersebut di tempat lain.

“Best Practice bukan sekadar cerita pengalaman. Di dalamnya harus ada masalah nyata, upaya atau inovasi, proses yang sistematis, hasil yang terukur, dan nilai pembelajaran yang dapat direplikasi,” jelas Ardan dalam paparannya.

Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret, Ardan menggunakan studi kasus transformasi SMKN 10 Semarang. Studi tersebut menggambarkan bagaimana berbagai persoalan sekolah dapat direspons melalui langkah-langkah strategis, penguatan pembelajaran, gerakan literasi, dan digitalisasi sekolah.

Dalam aspek strategi, transformasi dilakukan antara lain melalui sosialisasi kepada orang tua, penandatanganan pakta integritas, serta penambahan jumlah pelajar putri. Penguatan pembelajaran dilakukan dengan meningkatkan kapabilitas guru, mendorong inovasi pembelajaran yang berpusat pada siswa, serta memberikan pendampingan karier melalui pendekatan “Kawal Bekerja, Kuliah, dan Wirausaha”.

Penguatan budaya literasi juga menjadi bagian penting. Guru dan siswa didorong untuk menulis, berbagi praktik baik, serta membangun budaya literasi melalui media sosial dan website sekolah. Sementara dalam aspek digitalisasi, sekolah mengembangkan Android Based Test atau ujian berbasis Android tanpa kuota internet serta SIKAPAL atau Sistem Kelola Administrasi dan Pembelajaran untuk mendukung efisiensi dan transparansi pengelolaan data.

Dari studi kasus tersebut, peserta diajak melihat bahwa Best Practice harus berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi dalam pekerjaan sehari-hari. Solusi yang ditawarkan harus jelas dan kontekstual, prosesnya dapat dijelaskan tahap demi tahap, serta didukung data dan bukti perubahan sebelum dan sesudah tindakan.

Ardan kemudian membimbing peserta memahami struktur penulisan naskah Best Practice. Struktur tersebut meliputi judul yang menarik dan spesifik, pendahuluan yang menjelaskan latar belakang dan kondisi awal, tantangan yang berisi masalah serta target perubahan, aksi yang menjelaskan persiapan dan strategi inovasi, hasil yang menunjukkan perubahan dan dampak, refleksi, serta penutup yang memuat kesimpulan dan rencana tindak lanjut.

Setelah peserta memahami penyusunan Best Practice, pelatihan berlanjut pada sesi kedua mengenai penyusunan modul pembelajaran. Ardan menjelaskan bahwa modul yang baik bukan sekadar kumpulan materi, tetapi merupakan panduan pengalaman belajar yang sistematis, terarah, dan bermakna bagi peserta didik.

Modul pembelajaran diharapkan mampu membantu guru menjaga keselarasan antara tujuan, materi, aktivitas, dan asesmen. Selain itu, modul dapat membantu guru bekerja secara lebih efisien dan fleksibel sekaligus memberikan pengalaman belajar yang aktif dan kontekstual bagi siswa.

Dalam sesi tersebut, Ardan memperkenalkan kerangka pembelajaran ICARE sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam merancang aktivitas pembelajaran. ICARE terdiri atas Introduction, Connection, Application, Reflection, dan Extension.

Pada tahap Introduction, guru menggali pengalaman awal siswa, memberikan pertanyaan pemantik, dan membangun konteks untuk menumbuhkan rasa ingin tahu. Tahap Connection menghubungkan materi baru dengan pengalaman nyata, konteks lokal, maupun kompetensi literasi dan numerasi. Selanjutnya, Application memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan konsep melalui aktivitas praktis, diskusi, maupun pemecahan masalah kontekstual.

Tahap Reflection mengajak siswa melihat kembali proses belajar, memahami apa yang telah dikuasai, mengenali kesulitan, serta memikirkan strategi perbaikan. Adapun Extension memberikan tantangan baru, proyek lanjutan, atau koneksi lintas disiplin sehingga siswa mampu mentransfer pengetahuan dan mengembangkan kemandirian.

Ardan juga menekankan tujuh persiapan utama sebelum guru menulis modul, yaitu analisis kebutuhan, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan aktivitas, media serta sumber belajar, asesmen, dan struktur modul. Ketujuh komponen tersebut perlu disiapkan agar modul benar-benar sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik.

Prinsip penting yang ditekankan adalah adanya “benang merah” antara tujuan, materi, aktivitas, dan asesmen. Tujuan menentukan kompetensi yang harus dicapai, materi dipilih berdasarkan tujuan, aktivitas dirancang untuk membantu siswa mencapai tujuan, sedangkan asesmen digunakan untuk mengukur ketercapaian tujuan tersebut.

“Kalau tujuan, materi, aktivitas, dan asesmen tidak memiliki benang merah, pembelajaran tidak akan efektif,” tegas Ardan kepada peserta.

Pada bagian akhir, peserta juga diajak memperhatikan kesiapan teknis modul, mulai dari penggunaan bahasa dan instruksi yang mudah dipahami, tata letak yang rapi dan menarik, pengaturan durasi yang realistis, hingga penyediaan ruang untuk kemandirian dan refleksi siswa.

Sepanjang pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis. Ardan mengajak guru-guru Marsudirini untuk langsung mencoba menyusun Best Practice dan modul secara bertahap atau step by step. Dengan demikian, peserta memperoleh pengalaman langsung dalam mengubah pengalaman praktik di sekolah menjadi dokumen yang lebih terstruktur dan dapat digunakan sebagai bahan pengembangan profesional.

Salah satu panitia, Dewi Trimurtiningsih, menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan Ardan kepada para guru Marsudirini. Ia menilai proses belajar bersama tersebut memberikan dukungan yang berarti bagi guru dalam mengembangkan kemampuan menyusun dokumen Best Practice dan modul pembelajaran.

“Ardan, terima kasih atas bimbingan dan pendampingannya untuk teman-teman Marsudirini,” kata Dewi.

Kegiatan tersebut berlangsung lancar dan interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan mereka selama proses diskusi dan praktik. Melalui kegiatan itu, Pusat Pelatihan Guru bersama Yayasan Marsudirini Perwakilan Bangkong Semarang mendorong lahirnya budaya belajar yang berkelanjutan, di mana pengalaman guru tidak berhenti sebagai aktivitas pembelajaran di kelas, tetapi dapat diolah menjadi pengetahuan, karya, dan praktik baik yang memberikan manfaat lebih luas bagi sekolah serta dunia pendidikan.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan