Selasa, 18-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

SMKN Jateng Semarang dan CV Green Riverina Perkuat Sinergi Industri, Mesin Produksi Kembali “Bangun” untuk Praktik Siswa

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — SMKN Jateng di Semarang memperkuat kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) bersama CV Green Riverina, Selasa (18/8/2026). Kerja sama yang berlangsung di SMKN Jateng di Semarang mulai pukul 09.00 WIB tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat pembelajaran vokasi, mengoptimalkan fasilitas praktik, sekaligus mendekatkan kompetensi siswa dengan kebutuhan industri mebel.

Penandatanganan MoU diikuti Kepala SMKN Jateng di Semarang, Plt Kepala Tata Usaha, pengelola Program Keahlian Teknik Konstruksi dan Perumahan (TKP), jajaran CV Green Riverina, konsultan, serta mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dari pihak industri hadir Direktur Utama CV Green Riverina, Hendro, sedangkan Yakub Firsdaus hadir sebagai konsultan yang memberikan penguatan pengetahuan mengenai bahan dan teknik produksi.

Kerja sama tersebut tidak berhenti pada penandatanganan dokumen kesepahaman. Salah satu hasil nyata yang langsung dirasakan sekolah adalah kembali berfungsinya sejumlah mesin produksi yang sebelumnya lama tidak digunakan di bengkel Teknik Konstruksi dan Perumahan SMKN Jateng di Semarang.

Guru Teknik Konstruksi dan Perumahan SMKN Jateng di Semarang, Fathurahman, mengatakan dukungan CV Green Riverina membuat fasilitas produksi yang sempat tidak beroperasi dapat kembali dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran.

“Mesin yang lama tertidur sudah bisa dioperasikan. Boleh dipakai untuk praktik, berkat dukungan CV Green Riverina,” ujar Fathurahman.

Menurut Fathurahman, keberadaan mesin produksi di bengkel sekolah memiliki arti penting bagi proses pembelajaran. Mesin bukan sekadar fasilitas, tetapi menjadi media bagi siswa untuk mengenal alur kerja yang sesungguhnya, mulai dari persiapan bahan, penggunaan peralatan, proses pengerjaan, hingga menghasilkan produk sesuai standar.

Kembalinya mesin-mesin tersebut ke dalam kegiatan praktik juga membuka ruang pembelajaran yang lebih konkret. Siswa tidak hanya mempelajari teori mengenai produksi mebel di dalam kelas, tetapi dapat mengamati, memahami, dan mencoba secara langsung penggunaan peralatan yang berkaitan dengan proses produksi.

Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada CV Green Riverina atas kepedulian dan kontribusinya terhadap pengembangan pendidikan vokasi.

“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada CV Green Riverina yang telah menunjukkan kepedulian dan komitmen nyata terhadap dunia pendidikan vokasi, khususnya dengan membantu memperbaiki mesin-mesin produksi yang kami miliki di SMKN Jateng di Semarang,” kata Ardan.

Menurut dia, dukungan tersebut bukan sekadar bantuan teknis, melainkan bentuk sinergi nyata antara dunia usaha dan dunia industri dengan lembaga pendidikan. Mesin produksi yang kembali berfungsi akan menunjang kegiatan praktik dan pembelajaran produktif peserta didik.

“Kerja sama yang kita jalin hari ini memiliki makna yang sangat penting dan strategis dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di Program Keahlian Teknik Konstruksi dan Perumahan. Pendidikan kejuruan menuntut adanya keselarasan antara teori dan praktik,” ujarnya.

Ardan berharap kemitraan dengan CV Green Riverina terus dikembangkan dalam berbagai program. Menurutnya, kerja sama ke depan dapat mencakup kegiatan magang siswa, teaching factory, pelatihan guru, penguatan kurikulum berbasis kebutuhan industri, hingga peluang penyerapan lulusan.

“Harapan kami, kerja sama ini tidak berhenti pada perbaikan mesin, tetapi berkembang menjadi kolaborasi yang lebih luas, seperti magang siswa, teaching factory, pelatihan guru, hingga penyerapan lulusan kami di dunia industri,” kata Ardan.

Direktur Utama CV Green Riverina, Hendro, mengatakan kolaborasi antara industri dan sekolah vokasi penting untuk memastikan pembelajaran yang diterima siswa memiliki keterkaitan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Sinergi SMKN Jateng dan CV Green Riverina diharapkan dapat memperkuat mutu pembelajaran siswa SMKN Jateng di Semarang,” kata Hendro.

Hendro menjelaskan, CV Green Riverina merupakan produsen sekaligus eksportir mebel asal Indonesia yang berfokus pada produk furnitur kayu berkualitas tinggi. Salah satu material utama yang digunakan adalah kayu jati solid (solid teak wood) untuk menghasilkan berbagai produk furnitur.

Karakteristik industri tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kompetensi yang dikembangkan pada Program Keahlian Teknik Konstruksi dan Perumahan SMKN Jateng di Semarang. Melalui kolaborasi tersebut, siswa dapat mengenal lebih dekat bahan baku, proses produksi, penggunaan mesin, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga standar pengerjaan produk yang diterapkan di dunia industri.

Setelah penandatanganan MoU, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke bengkel Teknik Konstruksi dan Perumahan SMKN Jateng di Semarang. Rombongan mendapatkan penjelasan mengenai kondisi bengkel, fungsi berbagai peralatan, alur produksi, serta sejumlah kebutuhan yang harus diperhatikan dalam proses pengerjaan produk mebel.

Kegiatan di bengkel menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman peserta mengenai lingkungan kerja industri. Peserta diperkenalkan dengan fungsi peralatan, penataan ruang, prosedur keselamatan, tata tertib, serta berbagai hal yang harus dipersiapkan sebelum kegiatan produksi dimulai.

Aspek K3 menjadi salah satu materi yang mendapat perhatian khusus. Peserta diarahkan untuk memahami bahwa keterampilan mengoperasikan mesin harus selalu diikuti dengan kesadaran terhadap keselamatan kerja. Setiap peralatan memiliki karakteristik dan risiko masing-masing sehingga penggunaannya harus dilakukan sesuai prosedur.

Selain keselamatan kerja, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai budaya kerja. Kedisiplinan, penggunaan alat pelindung diri, kebersihan area kerja, penataan peralatan, serta kepatuhan terhadap prosedur merupakan bagian penting dari pembentukan karakter kerja siswa SMK.

Program pembelajaran bersama CV Green Riverina diawali dengan pengisian daftar hadir dan kelengkapan administrasi. Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian tata tertib serta arahan Kepala SMKN Jateng di Semarang mengenai tujuan dan pelaksanaan program.

Agenda kemudian diisi dengan pemaparan profil perusahaan atau company profile CV Green Riverina dan rencana program kerja sama. Pada sesi berikutnya, peserta memperoleh materi mengenai bahan dan pengantar teknik produksi yang disampaikan Yakub Firsdaus.

Materi K3 kemudian disampaikan Fathurahman bersama tim. Pembahasan diarahkan pada pentingnya penerapan keselamatan pada setiap tahapan pekerjaan, khususnya ketika peserta mulai berinteraksi dengan mesin dan peralatan produksi.

Kegiatan berikutnya membahas berbagai produk pesanan berupa kursi dan meja serta fungsi mesin-mesin yang digunakan dalam proses produksinya. Peserta memperoleh gambaran mengenai hubungan antara desain produk, bahan, teknik pengerjaan, dan pemilihan mesin yang sesuai.

Sesi pembelajaran kemudian berlanjut pada praktik dan demonstrasi. Peserta menyaksikan uji coba sejumlah mesin produksi yang terdapat di bengkel TKP SMKN Jateng di Semarang. Momen tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan karena mesin yang sebelumnya lama tidak digunakan mulai kembali dioperasikan untuk mendukung proses pembelajaran.

Selain demonstrasi pengoperasian mesin, peserta juga melakukan penataan barang dan pengaturan layout bengkel. Pemasangan tanda K3, penataan meja kerja, serta penyediaan berbagai alat pendukung dilakukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, tertib, dan mendukung efisiensi produksi.

Bagi SMKN Jateng di Semarang, kemitraan dengan CV Green Riverina menjadi jembatan untuk memperkuat hubungan antara pembelajaran di sekolah dan kebutuhan dunia kerja. Pengalaman industri yang dibawa ke lingkungan sekolah dapat memperkaya wawasan guru dan siswa sekaligus memberikan gambaran mengenai standar pekerjaan yang harus dikuasai lulusan.

Ardan menekankan pentingnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang berorientasi pada pengalaman nyata. Menurutnya, kehadiran mitra industri diharapkan tidak hanya berlangsung dalam kegiatan seremonial, tetapi menghasilkan program berkelanjutan yang memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kompetensi peserta didik.

Kolaborasi tersebut juga melibatkan mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan Unnes. Keterlibatan mahasiswa memberikan perspektif akademik tambahan dalam kegiatan pembelajaran dan praktik sekaligus mempertemukan tiga unsur penting dalam pengembangan pendidikan vokasi, yakni sekolah, perguruan tinggi, dan dunia industri.

Sinergi tersebut diharapkan menciptakan pembelajaran yang lebih terintegrasi. Sekolah menyediakan lingkungan pendidikan dan fasilitas praktik, perguruan tinggi memberikan perspektif akademik, sedangkan industri menghadirkan pengalaman lapangan serta standar kerja yang berkembang di dunia profesional.

Kerja sama SMKN Jateng di Semarang dan CV Green Riverina juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi memiliki keterampilan teknis, sikap kerja, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman terhadap budaya keselamatan kerja.

Pemanfaatan kembali mesin produksi di bengkel TKP menjadi salah satu hasil konkret dari kolaborasi tersebut. Dengan dukungan industri, fasilitas yang sebelumnya belum optimal dapat kembali menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Mesin yang semula tidak beroperasi kini memiliki fungsi baru sebagai sarana siswa mengembangkan keterampilan.

Lebih jauh, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasi akan semakin kuat ketika memiliki hubungan erat dengan dunia industri. Siswa dapat belajar melalui pengalaman nyata, memahami standar pekerjaan, serta melihat secara langsung keterkaitan antara kompetensi yang dipelajari di sekolah dengan kebutuhan perusahaan.

Penandatanganan MoU pada 18 Agustus 2026 itu dengan demikian bukan sekadar simbol kerja sama antara SMKN Jateng di Semarang dan CV Green Riverina. Kesepahaman tersebut menjadi pintu masuk bagi penguatan pembelajaran berbasis praktik, optimalisasi fasilitas bengkel, peningkatan kompetensi siswa, dan pembentukan budaya kerja yang lebih dekat dengan karakter industri mebel.

Dengan dukungan berbagai pihak, bengkel Teknik Konstruksi dan Perumahan SMKN Jateng di Semarang diharapkan semakin hidup sebagai ruang belajar yang produktif. Mesin-mesin yang kembali beroperasi bukan sekadar benda di dalam bengkel, melainkan sarana bagi siswa untuk mengasah keterampilan, membangun pengalaman, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Sinergi dengan CV Green Riverina juga diharapkan terus berkembang melalui program-program lanjutan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Bagi sekolah, kemitraan menjadi kesempatan memperkuat mutu pembelajaran dan relevansi kompetensi. Bagi industri, keterlibatan dalam pendidikan menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia vokasi yang siap kerja dan sesuai dengan kebutuhan industri.

Pada akhirnya, kerja sama tersebut menegaskan bahwa pendidikan vokasi membutuhkan keterhubungan yang kuat antara sekolah, perguruan tinggi, dan dunia industri. Ketika ketiganya berjalan bersama, ruang belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas, tetapi meluas ke bengkel dan lingkungan kerja yang menghadirkan pengalaman nyata.

Dari mesin yang kembali menyala hingga proses produksi mebel yang dipelajari siswa, setiap tahapan menjadi pengalaman berharga. Di sinilah makna utama kemitraan pendidikan vokasi terlihat: menjadikan fasilitas, pengalaman industri, dan kolaborasi sebagai bagian dari proses membentuk lulusan SMKN Jateng di Semarang yang kompeten, berkarakter, dan semakin siap menghadapi tuntutan dunia kerja.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan