Pagi itu, ruang ujian terasa seperti tempat ibadah. Sunyi. Khidmat. Sedikit tegang.
Anak-anak duduk rapi, seperti jamaah yang siap menerima wahyu—bedanya, yang turun bukan petunjuk hidup, tapi lembar soal pilihan ganda.
Di depan, pengawas berdiri. Wajahnya serius, seperti penjaga gerbang moral bangsa.
Di papan tulis tertulis tegas:
“Dilarang menyontek dan bekerja sama.”
Kalimat itu sudah tua. Lebih tua dari sebagian guru yang mengawasi.
Ia diwariskan dari generasi ke generasi, seperti mantra yang tak pernah benar-benar dipahami.
Namun di bangku ketiga dari belakang, seorang siswa menunduk lebih dalam dari yang lain.
Bukan karena khusyuk.
Tapi karena di balik lengannya, ada secarik kertas kecil—ringkasan masa depan yang ia siapkan semalam.
Ia tidak merasa jahat.
Ia hanya tidak ingin nilainya jelek.
Sekolah selalu ingin terlihat jujur.
Itulah sebabnya ujian dibuat.
Seolah-olah, dengan ujian, kita bisa mengukur apa yang disebut “kemampuan”.
Padahal diam-diam kita tahu:
yang sering diukur bukan kemampuan, tapi ketahanan menghafal dalam tekanan.
Dan ketika anak tidak mampu menghafal seluruh isi buku yang bahkan gurunya sendiri kadang lupa menjelaskannya, kita menyebutnya gagal.
Lucunya, kita juga tidak tega melihat mereka gagal.
Maka lahirlah sebuah kompromi yang rapi, administratif, dan sangat manusiawi—namanya: KKM.
Nilai boleh rendah, tapi tidak boleh terlalu rendah.
Kalau terlalu rendah, dinaikkan sedikit.
Kalau masih kurang, diperbaiki.
Kalau tetap tidak bisa, ya… “dibantu”.
Di titik ini, kejujuran mulai kehilangan makna.
Karena yang penting bukan lagi benar atau tidak,
tapi cukup atau belum.
Di ruang ujian itu, menyontek sebenarnya bukan rahasia.
Ia hanya kesepakatan diam-diam yang tidak pernah diakui.
Siswa tahu temannya menyontek.
Pengawas kadang tahu juga.
Tapi selama tidak terlalu mencolok, semua memilih berpura-pura tidak tahu.
Ini bukan pembiaran.
Ini adalah bentuk paling halus dari kelelahan sistem.
Sebab jauh di dalam hati, mungkin semua sudah paham:
ujian ini tidak sepenuhnya jujur sejak awal.
Soalnya sering tidak relevan.
Jawabannya bisa ditebak.
Nilainya bisa dinegosiasikan.
Lalu kita marah ketika siswa mencari jalan pintas?
Ada yang lebih ironis.
Di kelas, guru berdiri di depan.
Menjelaskan materi dengan bantuan slide PowerPoint.
Kadang membaca. Kadang menjelaskan. Kadang juga… sekadar mengganti slide.
Di tangannya, ada catatan.
Di layar, ada rangkuman dari internet.
Di laptopnya, mungkin terbuka beberapa tab referensi.
Itu bukan menyontek.
Itu disebut media pembelajaran.
Sementara di bangku siswa, ketika tangan kecil itu membuka catatan yang sama—yang ia tulis sendiri semalam—
kita menyebutnya pelanggaran.
Barangkali yang salah bukan tindakannya,
tapi siapa yang melakukannya.
Kini zaman berubah lebih cepat dari ruang kelas.
Jawaban tidak lagi disembunyikan di kertas kecil.
Ia ada di genggaman.
Di Google.
Di AI.
Di dunia yang tidak pernah kehabisan jawaban.
Anak-anak tahu itu.
Mereka hidup di zaman di mana satu pertanyaan bisa dijawab dalam hitungan detik.
Sementara di sekolah, mereka diminta mengingat jawaban yang sama… tanpa boleh melihat apa pun.
Maka lahirlah kebingungan yang sunyi:
Kalau di dunia nyata semua orang boleh mencari jawaban,
kenapa di sekolah justru dilarang?
Pertanyaan itu tidak pernah dijawab.
Ia hanya ditertibkan.
Di negara-negara yang sering kita sebut “maju”, ada kegelisahan yang berbeda.
Mereka mulai kembali ke kertas.
Ke tulisan tangan.
Ke proses berpikir yang lambat.
Mereka sadar:
kemudahan akses informasi tidak selalu melahirkan kedalaman pemahaman.
Sementara kita—dengan penuh semangat—berlari ke arah sebaliknya.
Semua harus digital.
Semua harus cepat.
Semua harus instan.
Kita bangga ketika siswa bisa menemukan jawaban dalam 5 detik.
Tapi lupa mengajarkan bagaimana memahami satu pertanyaan selama 5 menit.
Lalu, apakah menyontek itu salah?
Secara aturan, iya.
Secara moral, iya.
Tapi jika kita berhenti di situ, kita sedang berlaku tidak jujur.
Karena menyontek, bagi sebagian siswa, bukan soal benar atau salah.
Ia soal bertahan.
Bertahan dari tuntutan nilai.
Bertahan dari materi yang tidak dipahami.
Bertahan dari sistem yang menilai hasil tanpa sungguh-sungguh menemani proses.
Dalam bahasa yang lebih jujur:
menyontek adalah cara siswa menyesuaikan diri dengan sekolah yang tidak sepenuhnya masuk akal bagi mereka.
Seorang anak yang menyontek dengan rapi, sering kali bukan anak yang malas.
Ia justru teliti.
Mengamati.
Menghitung risiko.
Membaca situasi.
Sayangnya, kecerdasan itu tidak kita arahkan.
Kita hanya menghukumnya.
Padahal mungkin, jika energi itu diarahkan dengan benar,
ia bisa menjadi peneliti yang cermat,
atau pemimpin yang strategis.
Tapi di sekolah, ia hanya dikenal sebagai:
“yang suka menyontek.”
Maka, yang perlu kita tanyakan bukan hanya:
“Bagaimana menghentikan menyontek?”
Itu terlalu sederhana.
Pertanyaan yang lebih jujur—dan mungkin lebih menyakitkan—adalah:
“Mengapa sekolah kita masih menciptakan situasi di mana menyontek terasa masuk akal?”
Selama ujian masih sekadar menguji hafalan,
selama nilai masih lebih penting dari pemahaman,
selama guru masih dibebani menyelesaikan kurikulum daripada menumbuhkan manusia—
maka menyontek akan selalu menemukan jalannya.
Ia tidak akan hilang.
Ia hanya akan berubah bentuk.
Dari kertas kecil, menjadi layar kecil.
Dari bisikan pelan, menjadi algoritma cerdas.
Di akhir ujian, lembar jawaban dikumpulkan.
Anak-anak keluar ruangan dengan wajah lega—atau pura-pura lega.
Di meja guru, nilai-nilai itu nanti akan diolah.
Dibulatkan.
Diperbaiki.
Disesuaikan.
Dan pada akhirnya, hampir semua akan lulus.
Kita tersenyum.
Sekolah dianggap berhasil.
Anak-anak dianggap mampu.
Sementara kejujuran—yang tadi pagi kita tulis besar-besar di papan tulis—
pelan-pelan kita hapus sendiri,
dengan penghapus bernama “yang penting semua aman.”
Barangkali, yang paling perlu kita ajarkan bukan lagi larangan menyontek.
Tapi keberanian untuk berkata:
“Saya belum paham.”
Dan kesediaan sistem untuk menjawab:
“Tidak apa-apa. Mari kita pelajari bersama.”
Namun untuk sampai ke sana,
kita harus berani mengakui satu hal yang selama ini kita hindari:
Bahwa yang perlu diperbaiki bukan hanya siswa yang menyontek—
tetapi juga sekolah yang terlalu lama berpura-pura jujur.
Ajibarang, 24 April 2026
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

Beri Komentar