Sabtu, 25-04-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Khutbah Jumat di SMKN Jateng Semarang Tekankan Ketakwaan dan Makna Halalbihalal

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang, 24 April 2026 — Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Sholat Jumat di SMKN Jateng Semarang pada Jumat (24/4). Ratusan jamaah yang terdiri dari siswa, guru, serta tenaga kependidikan mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan. Bertindak sebagai khotib, Munjawir, S.Ag., menyampaikan khutbah yang menyoroti dua hal utama, yakni pentingnya menjadi pribadi muttaqin serta menjaga tradisi halalbihalal sebagai bagian dari kehidupan sosial umat Islam di Indonesia.

Dalam khutbahnya, Munjawir menekankan bahwa derajat muttaqin merupakan puncak capaian spiritual seorang Muslim setelah melalui tahapan Islam, iman, dan ihsan. Ia menjelaskan bahwa konsep ketakwaan bukan sekadar simbol atau identitas, melainkan tercermin dalam perilaku sehari-hari yang membawa kebaikan bagi sesama dan lingkungan.

“Orang yang muttaqin adalah mereka yang beriman kepada hal gaib, mendirikan shalat, serta gemar berinfak baik dalam kondisi lapang maupun sempit,” ujar Munjawir dalam khutbahnya. Ia menambahkan bahwa ciri lainnya adalah mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, serta memiliki keteguhan dalam bertawakal kepada Allah.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa ketakwaan juga diwujudkan melalui sikap menjauhi perbuatan sia-sia, menjunjung tinggi kejujuran, serta memiliki rasa takut kepada Allah yang mendorong seseorang untuk terus berbuat baik. “Ketakwaan itu menghadirkan kesejukan, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan alam sekitar,” katanya.

Khutbah tersebut juga mengaitkan nilai ketakwaan dengan kehidupan sosial yang harmonis, khususnya melalui tradisi halalbihalal yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Munjawir menjelaskan bahwa halalbihalal bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan sarana penting untuk memperbaiki hubungan antarindividu setelah menjalani ibadah Ramadan.

“Halalbihalal adalah momentum untuk menghalalkan kembali hubungan yang sempat ternoda oleh kesalahan. Di situlah letak makna silaturahmi yang sesungguhnya,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menguraikan bahwa tradisi halalbihalal memiliki akar sejarah yang kuat dalam perjalanan bangsa Indonesia. Tradisi ini kerap dikaitkan dengan gagasan Abdul Wahab Hasbullah yang pada sekitar tahun 1948 mengusulkan konsep tersebut kepada Presiden Soekarno sebagai upaya meredam konflik politik yang terjadi saat itu.

“Halalbihalal lahir sebagai solusi untuk menyatukan pihak-pihak yang berselisih. Nilai ini sangat relevan hingga sekarang, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun di lingkungan sekolah,” tutur Munjawir.

Menurutnya, dalam konteks pendidikan, tradisi halalbihalal memiliki peran strategis dalam membangun karakter peserta didik. Melalui budaya saling memaafkan dan mempererat persaudaraan, siswa tidak hanya belajar aspek akademik, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan.

Pelaksanaan Sholat Jumat di SMKN Jateng Semarang kali ini berlangsung tertib dan lancar, dengan jamaah mengikuti seluruh rangkaian ibadah hingga selesai. Sejumlah siswa mengaku mendapatkan pemahaman baru dari khutbah yang disampaikan.

“Saya jadi lebih paham bahwa menjadi orang bertakwa itu bukan hanya soal ibadah, tetapi juga bagaimana kita bersikap kepada orang lain,” ujar salah satu siswa usai pelaksanaan sholat.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh warga sekolah akan pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan dan hubungan antarsesama manusia. Nilai-nilai yang disampaikan dalam khutbah diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat luas.

Dengan mengangkat tema ketakwaan dan halalbihalal, khutbah Jumat tersebut tidak hanya memberikan pencerahan spiritual, tetapi juga memperkuat kesadaran sosial jamaah untuk terus menjaga harmoni dan persaudaraan, terutama dalam momentum bulan Syawal yang identik dengan saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan