SEMARANG – SMKN Jateng di Semarang menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) hari pertama pada Senin (2/11/2026) dengan mengangkat tema “Peran Guru Pendidikan di Era Modern”. Kegiatan yang berlangsung di Ruang AVA SMKN Jateng di Semarang ini menghadirkan Dr. Agung Prasetyo, S.Psi., M.Pd., Psikolog, CH, CHt sebagai narasumber. Pelatihan diikuti oleh guru SMKN Jateng di Semarang, mahasiswa Lantip 8 Universitas Negeri Semarang (Unnes), serta mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas).
Kegiatan IHT SMKN Jateng di Semarang ini menjadi salah satu upaya strategis sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional pendidik sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya kesadaran diri, kematangan moral, pengelolaan emosi, dan spiritualitas dalam menjalankan profesi guru di tengah perkembangan dunia pendidikan modern.
Melalui pelatihan ini, para peserta diajak memahami bahwa menjadi guru profesional tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran dan keterampilan mengajar. Seorang pendidik juga dituntut memiliki kematangan pribadi, integritas, kepedulian, serta kemampuan membangun hubungan yang sehat dan mendidik dengan peserta didik.
Mengawali kegiatan, sambutan Kepala SMKN Jateng di Semarang disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Nofik Nurfitriana, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya memahami dan menerapkan Kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab profesional.
Ia menyampaikan bahwa kode etik guru mencakup berbagai kewajiban, antara lain membimbing peserta didik agar memiliki jiwa Pancasila, menjunjung tinggi kejujuran profesional, menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, serta memelihara hubungan baik dengan orang tua dan masyarakat.
Selain itu, guru juga memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan mutu profesi, menjaga solidaritas antarsesama pendidik, dan mempertahankan integritas profesional dalam setiap pelaksanaan tugas.
Dalam sambutannya, Nofik menegaskan bahwa orientasi utama seorang guru profesional adalah memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik.
“Guru profesional adalah guru yang siap melayani bukan dilayani,” tegasnya.
Menurutnya, kematangan moral dan emosional merupakan fondasi utama dalam menjalankan etika profesi guru. Penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan mengajar perlu diimbangi dengan sikap bijaksana, kemampuan mengendalikan diri, serta kesungguhan dalam memberikan pelayanan pendidikan.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa guru bukan sekadar penyampai materi pembelajaran, melainkan juga figur teladan yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan karakter peserta didik.
Memasuki sesi inti, Dr. Agung Prasetyo menyampaikan materi mengenai “Peran Guru Pendidikan di Era Modern”. Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta melihat kembali makna profesionalisme guru secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari aspek kompetensi akademik, tetapi juga dari kualitas kepribadian dan kematangan emosional.
Menurut materi yang disampaikan, terdapat empat pilar penting yang membentuk kehadiran utuh seorang guru, yaitu pengetahuan, keterampilan, karakter profesional, dan kematangan pribadi.
Pilar pengetahuan berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran, pemahaman terhadap karakteristik peserta didik, serta kemampuan memilih strategi pembelajaran yang tepat. Pilar keterampilan mencakup kemampuan mengajar, berkomunikasi, mengelola kelas, dan menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam proses pendidikan.
Sementara itu, karakter profesional tercermin melalui kejujuran, keadilan, konsistensi, dan sikap menghormati martabat setiap manusia. Adapun kematangan pribadi terlihat dari kemampuan mengelola emosi serta keterbukaan terhadap kritik dan umpan balik untuk terus memperbaiki kualitas diri.
Keempat pilar tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Guru yang profesional bukan hanya guru yang cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu menghadirkan keteladanan melalui sikap, perkataan, dan tindakan sehari-hari.
Salah satu pembahasan penting dalam IHT SMKN Jateng di Semarang adalah mengenai kesadaran diri dan kematangan emosional guru. Dalam menjalankan tugas, pendidik kerap menghadapi berbagai situasi yang berpotensi memicu tekanan emosional.
Kondisi kelas yang gaduh, peserta didik yang tidak mengikuti instruksi, tuntutan administrasi, tenggat waktu pekerjaan, hingga perbedaan pendapat dengan rekan kerja merupakan beberapa situasi yang dapat memengaruhi kondisi emosional guru. Faktor kelelahan fisik, kurang tidur, dan persoalan pribadi juga dapat memengaruhi cara seseorang merespons keadaan.
Dalam menghadapi situasi tersebut, guru perlu memiliki kemampuan mengenali emosi, mengatur respons, dan memulihkan hubungan apabila terjadi kesalahan dalam berinteraksi.
Materi pelatihan menekankan pentingnya memberikan jeda sebelum merespons suatu permasalahan. Guru diajak untuk tidak terburu-buru menegur atau mengambil tindakan ketika sedang dikuasai emosi. Sebaliknya, guru perlu berhenti sejenak, mengatur napas, mengenali emosi yang sedang dirasakan, kemudian memilih tindakan yang aman, adil, dan mendidik.
Pendekatan ini penting agar setiap keputusan yang diambil tidak sekadar menjadi pelampiasan emosi, tetapi benar-benar bertujuan memperbaiki perilaku dan membangun karakter peserta didik.
Selain pengelolaan emosi, Dr. Agung juga membahas pentingnya pertimbangan etis dalam mengambil keputusan di lingkungan pendidikan.
Terdapat lima prinsip utama yang perlu menjadi perhatian guru, yakni keadilan, kepedulian, integritas, akuntabilitas, dan proporsionalitas. Kelima prinsip tersebut menjadi landasan agar setiap tindakan pendidik tetap menghormati martabat peserta didik dan sesuai dengan tujuan pendidikan.
Guru perlu menghindari sikap pilih kasih, diskriminasi, pelabelan negatif, serta tindakan yang dapat mempermalukan siswa. Informasi pribadi peserta didik juga harus dijaga sebagai bagian dari tanggung jawab profesional.
Dalam materi tersebut, peserta diajak membedakan komunikasi yang menghakimi dengan komunikasi yang berlandaskan empati.
Pernyataan seperti “Kamu memang malas” merupakan bentuk penghakiman terhadap pribadi siswa dan berpotensi menutup ruang dialog. Sebaliknya, pendekatan yang lebih mendidik adalah dengan menyampaikan fakta, menggali penyebab permasalahan, dan mengajak siswa mencari solusi.
Sebagai contoh, guru dapat mengatakan, “Saya melihat tugas belum selesai. Apa yang menghambatmu? Kita cari langkah berikutnya.”
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa guru tetap tegas dalam menjalankan aturan, tetapi tidak mengabaikan kondisi dan kebutuhan peserta didik.
Komunikasi asertif juga menjadi bagian penting yang dibahas dalam pelatihan. Guru perlu menyampaikan fakta, menjelaskan dampak perilaku, mengungkapkan harapan, serta memberikan dukungan kepada siswa. Dengan demikian, komunikasi di kelas dapat berlangsung secara terbuka, jelas, dan tetap saling menghormati.
Pembahasan berikutnya adalah mengenai kesejahteraan guru atau teacher well-being. Aspek ini menjadi perhatian karena kualitas pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh kompetensi akademik pendidik, tetapi juga kondisi fisik, emosional, dan sosialnya.
Dalam materi yang disampaikan, kesejahteraan guru merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan tiga aspek, yaitu pribadi, relasi, dan sistem.
Pada aspek pribadi, guru perlu menjaga waktu istirahat, menetapkan batas kerja yang sehat, melakukan refleksi, serta memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk memulihkan kondisi fisik dan mental.
Pada aspek relasi, lingkungan kerja yang sehat dapat dibangun melalui kebiasaan saling berbagi praktik baik, berani meminta bantuan, dan memberikan dukungan antarrekan sejawat. Sementara pada aspek sistem, sekolah perlu memperhatikan pembagian beban kerja yang wajar serta membangun budaya kerja yang saling menghormati.
Salah satu pesan penting dalam materi ini adalah bahwa meminta bantuan profesional ketika menghadapi kondisi kewalahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan profesi.
Dengan kondisi pribadi yang lebih sehat dan lingkungan kerja yang suportif, guru diharapkan dapat menjalankan tugas pendidikan secara lebih optimal.
Sebagai tindak lanjut kegiatan, peserta diajak melakukan evaluasi personal terhadap pengalaman dan kebiasaan masing-masing dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.
Guru diminta mengidentifikasi pemicu emosi yang paling sering muncul, respons yang perlu diperbaiki, serta prinsip etis yang harus tetap dijaga ketika menghadapi tekanan. Peserta juga diarahkan untuk menentukan mitra refleksi sebagai teman berdiskusi dan saling memberikan masukan.
Selain refleksi pribadi, terdapat tugas tertulis berupa penggambaran satu situasi nyata yang pernah terjadi di kelas, respons lama yang biasanya dilakukan, serta alternatif respons baru yang akan dicoba untuk diterapkan.
Melalui proses tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi perubahan perilaku yang konkret dan dapat dievaluasi.
Salah satu target utama pembelajaran dalam kegiatan ini adalah lahirnya satu komitmen perubahan konkret yang dapat dievaluasi. Komitmen tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi setiap guru untuk terus memperbaiki kualitas diri dan meningkatkan profesionalisme.
Pelaksanaan hari pertama IHT SMKN Jateng di Semarang memberikan ruang pembelajaran dan refleksi bagi para pendidik mengenai tantangan profesi guru di era modern. Melalui materi yang disampaikan Dr. Agung Prasetyo, peserta memperoleh penguatan bahwa profesionalisme guru tidak hanya diukur dari kemampuan mengajar, tetapi juga dari kematangan moral, pengelolaan emosi, integritas, empati, dan keteladanan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh pendidik dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, manusiawi, dan berorientasi pada perkembangan peserta didik.
Dengan terselenggaranya IHT ini, SMKN Jateng di Semarang berharap para guru semakin mampu menjalankan peran profesionalnya secara utuh. Guru diharapkan tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, tetapi juga pembimbing, pendamping, dan teladan yang mampu menginspirasi peserta didik melalui tindakan nyata.
Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak hanya lahir dari kecakapan seorang guru dalam menyampaikan pelajaran, tetapi juga dari karakter, integritas, dan ketulusan dalam mendampingi setiap proses tumbuh kembang peserta didik.

Beri Komentar