SEMARANG — SMKN Jateng di Semarang hadir dalam kegiatan penutupan pelatihan bidang industri makanan atau boga bagi mustahik produktif yang diselenggarakan di Balai Latihan Kerja (BLK) 2, Jalan Brotojoyo Nomor 2, Kota Semarang, Jumat, 11 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan keterampilan dan penguatan usaha produktif, khususnya di bidang kuliner.
Penutupan pelatihan diikuti oleh para peserta yang sebelumnya telah mendapatkan pembekalan keterampilan bidang boga. Program tersebut diarahkan untuk memberikan bekal praktis kepada para mustahik, terutama ibu-ibu, agar memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan menjadi usaha produktif. Dengan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan, peserta diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan baru, tetapi juga mampu memanfaatkannya sebagai modal untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Kehadiran SMKN Jateng di Semarang dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari perhatian terhadap pengembangan keterampilan masyarakat dan penguatan pendidikan vokasi yang memiliki keterkaitan erat dengan dunia kerja serta dunia usaha. Bidang boga merupakan salah satu sektor yang relatif dekat dengan kehidupan sehari-hari dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha mikro dan kecil.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Hj. Helmi Halimatul Udhmah, yang merupakan Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Republik Indonesia sekaligus istri Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar. Dalam kesempatan tersebut, Hj. Helmi memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan pelatihan yang dinilai memiliki manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam membuka peluang usaha produktif.
Dalam sambutannya, Hj. Helmi menyampaikan apresiasi kepada DWP dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang telah menyelenggarakan pelatihan bagi para ibu. Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi peserta untuk merintis maupun mengembangkan usaha produktif di bidang kuliner.
Apresiasi tersebut tidak hanya ditujukan terhadap proses pelatihan, tetapi juga terhadap tujuan yang lebih luas, yakni mendorong para peserta agar mampu memanfaatkan keterampilan yang diperoleh untuk membangun kemandirian ekonomi. Pelatihan keterampilan menjadi semakin berarti ketika pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dikembangkan menjadi sumber penghasilan.
Program pemberdayaan melalui pelatihan boga juga dinilai sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang membutuhkan akses terhadap keterampilan praktis dan dukungan untuk memulai usaha. Bagi peserta yang telah memiliki usaha kecil, dukungan tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki kualitas produk, maupun memperluas pemasaran.
Waka Kurikulum SMKN Jateng di Semarang yang hadir mewakili Kepala Sekolah menilai kegiatan tersebut memiliki manfaat yang besar karena tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi juga membangun kemampuan peserta agar lebih berdaya dan mandiri.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam membantu mengentaskan kemiskinan dan membuat para ibu-ibu semakin berdaya dan mandiri, mengembangkan usaha kecilnya,” ujar Laely.
Menurut Laely, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sejauh mana peserta mampu mengubah keterampilan dan dukungan yang diberikan menjadi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan. Karena itu, pelatihan bidang boga diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan resmi ditutup, tetapi dilanjutkan dengan praktik dan pengembangan usaha oleh masing-masing peserta.
Ia berharap program tersebut dapat memberikan perubahan nyata terhadap kondisi ekonomi masyarakat penerima manfaat. Salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah mendorong perubahan status peserta dari mustahik atau penerima manfaat zakat menjadi muzaki atau pihak yang mampu menunaikan zakat.
“Harapan program ini adalah mengubah status mustahik menjadi muzaki, penduduk Jawa Tengah khususnya,” kata Laely.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa program pemberdayaan diarahkan untuk menciptakan kemandirian ekonomi dalam jangka panjang. Para peserta tidak sekadar ditempatkan sebagai penerima bantuan, tetapi didorong untuk memiliki kemampuan mengelola usaha sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga.
Dalam kegiatan tersebut juga terdapat dukungan bantuan sekitar Rp180 juta bagi 100 peserta pelatihan. Bantuan tersebut diberikan sebagai pemantik usaha yang dapat digunakan peserta sebagai modal awal maupun untuk mengembangkan usaha kecil yang telah dirintis di bidang boga.
Besarnya dukungan tersebut menunjukkan bahwa penguatan keterampilan perlu berjalan beriringan dengan akses terhadap permodalan. Keterampilan membuat produk akan lebih mudah dikembangkan apabila peserta memiliki dukungan awal untuk membeli bahan baku, peralatan produksi, kemasan, maupun kebutuhan lain yang berkaitan dengan pengembangan usaha.
Bagi pelaku usaha boga skala kecil, modal awal menjadi salah satu faktor penting untuk mengubah keterampilan menjadi kegiatan ekonomi. Peserta dapat memanfaatkan bantuan sesuai dengan kebutuhan usaha masing-masing, selama diarahkan untuk mendukung kegiatan produktif.
Laely menilai kombinasi antara pelatihan dan bantuan usaha dapat menjadi stimulus bagi peserta untuk lebih percaya diri dalam mengembangkan usaha. Pelatihan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan, sementara dukungan modal memberikan ruang bagi peserta untuk mulai mempraktikkan keterampilan tersebut dalam kegiatan ekonomi nyata.
Selain menghasilkan keterampilan teknis, pelatihan bidang boga juga dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan. Peserta memiliki peluang untuk mengembangkan berbagai produk makanan, baik untuk kebutuhan lingkungan sekitar maupun dipasarkan secara lebih luas. Perkembangan teknologi digital juga membuka peluang bagi usaha kuliner rumahan untuk memperkenalkan produk melalui media sosial dan berbagai saluran pemasaran daring.
Kegiatan penutupan di BLK 2 Semarang tersebut dengan demikian tidak semata-mata menjadi penanda berakhirnya rangkaian pelatihan. Lebih jauh, momentum tersebut menjadi awal bagi para peserta untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh dan mengembangkan potensi usaha secara mandiri.
Kehadiran SMKN Jateng di Semarang turut memberikan nuansa kolaboratif dalam kegiatan yang mempertemukan unsur pendidikan keterampilan, pemberdayaan masyarakat, lembaga sosial dan program penguatan ekonomi. Kolaborasi semacam ini penting untuk memastikan keterampilan yang diberikan kepada masyarakat memiliki keterkaitan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Bagi peserta, keterampilan boga dapat menjadi peluang untuk membangun usaha dari lingkungan terdekat. Usaha makanan dapat dimulai dalam skala kecil dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, kemudian dikembangkan secara bertahap sesuai kemampuan dan permintaan pasar.
Ke depan, keberlanjutan program menjadi salah satu faktor penting agar manfaat pelatihan dapat dirasakan dalam jangka panjang. Pendampingan, penguatan pemasaran, peningkatan kualitas produk, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan jejaring usaha dapat menjadi bagian dari tahapan berikutnya untuk memastikan usaha peserta tidak berhenti setelah bantuan diberikan.
Pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya mengubah bantuan menjadi kekuatan produktif. Para mustahik diharapkan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri, membangun usaha, memperoleh penghasilan, dan secara bertahap mencapai kemandirian ekonomi.
Dengan dukungan pelatihan bidang boga dan bantuan usaha sekitar Rp180 juta bagi 100 peserta, program tersebut diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pelaku usaha mikro yang mandiri. Pada akhirnya, pemberdayaan tersebut diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan peserta, tetapi juga ikut berkontribusi terhadap upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Jawa Tengah.
Kegiatan penutupan pelatihan ini menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pemberdayaan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan. Keterampilan, kesempatan, pendampingan, dan dukungan permodalan perlu berjalan bersama agar mustahik mampu tumbuh menjadi pelaku usaha yang mandiri dan, sebagaimana diharapkan dalam program tersebut, kelak dapat bertransformasi dari penerima manfaat menjadi pemberi manfaat bagi masyarakat lainnya.

Beri Komentar