Jumat, 11-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Lawang Sewu Jadi Ruang Belajar, Siswa SMKN Jateng Semarang Telusuri Jejak Sejarah Perkeretaapian Nusantara

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Pembelajaran sejarah tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Bagi 22 siswa SMKN Jateng di Semarang, Kamis (10/9/2026), pelajaran sejarah justru berlangsung di salah satu landmark bersejarah Kota Semarang, Lawang Sewu. Didampingi guru sejarah Muhamad Eri Setyo Wahyudi atau yang akrab disapa Pak Erik, para siswa mengikuti kegiatan outing class berupa lawatan sejarah untuk melihat dan memahami secara langsung jejak perjalanan sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Kegiatan tersebut dirancang sebagai pembelajaran kontekstual yang mempertemukan materi pelajaran dengan objek sejarah secara langsung. Siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan melalui buku maupun penyampaian materi di dalam kelas, tetapi diajak mengamati bangunan, arsitektur, artefak, serta berbagai jejak sejarah yang masih tersimpan di Lawang Sewu.

Bagi Erik, pemindahan ruang belajar ke situs sejarah memberikan pengalaman berbeda bagi peserta didik. Siswa dapat menghubungkan materi yang telah dipelajari dengan fakta dan peninggalan sejarah yang mereka lihat secara langsung.

“Melalui kegiatan outing class ini, kami ingin memindahkan ruang belajar langsung ke situs sejarahnya agar pembelajaran tidak terasa abstrak. Melihat antusiasme 22 siswa saat mengamati arsitektur dan artefak perkeretaapian secara langsung membuktikan bahwa metode pembelajaran kontekstual dan berbasis eksplorasi jauh lebih efektif ketimbang sekadar ceramah di dalam kelas,” ujar Muhamad Eri Setyo Wahyudi, guru sejarah SMKN Jateng di Semarang.

Dalam lawatan tersebut, siswa diajak mengenali Lawang Sewu bukan hanya sebagai bangunan ikonik yang menjadi tujuan wisata sejarah, tetapi sebagai bagian penting dari perjalanan panjang sejarah transportasi dan perkeretaapian di Indonesia. Mereka mempelajari bagaimana sebuah bangunan dapat menjadi saksi perubahan politik, pemerintahan, teknologi, dan kehidupan masyarakat dari masa ke masa.

Kegiatan semakin menarik karena SMKN Jateng berkolaborasi dengan alumni dari komunitas pecinta sejarah, History Studi Club (HSC), yang diwakili Kamajaya dan Dava Kurnia. Kehadiran alumni tersebut memberikan perspektif tambahan bagi siswa melalui penjelasan yang lebih interaktif mengenai sejarah dan karakteristik bangunan Lawang Sewu.

Para siswa mendapatkan penjelasan mengenai detail teknis arsitektur bangunan, termasuk karakter Art Nouveau dan Indische Empire. Mereka juga diajak memahami fungsi berbagai lorong serta bagian bangunan dan dinamika peristiwa sejarah yang pernah berlangsung di kawasan tersebut.

Pembelajaran langsung tersebut membuat siswa memiliki kesempatan untuk mengamati berbagai detail yang sulit dibayangkan apabila hanya dipelajari melalui gambar atau teks. Mereka dapat melihat bentuk bangunan, tata ruang, ornamen, serta peninggalan yang berkaitan dengan sejarah perkeretaapian secara langsung.

Salah seorang siswa kelas XI TITL, Aries Aprliano, mengaku mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda melalui kegiatan tersebut. Menurutnya, penjelasan yang diberikan di lokasi membuat materi sejarah lebih mudah dipahami karena siswa dapat melihat objek yang sedang dibicarakan.

“Belajar langsung di tempatnya memberikan pemahaman yang sangat berbeda dibanding hanya membaca buku pelajaran di kelas. Kami bisa melihat detail arsitektur kolonial dan memahami alur sejarahnya dengan jelas berkat pemaparan dari Pak Erik dan penjelasan interaktif dari Pak Dava serta Pak Kama. Sangat berkesan dan membuka wawasan kami!” kata Aries.

Salah satu materi utama dalam field trip tersebut adalah sejarah perkeretaapian Nusantara yang memiliki keterkaitan erat dengan Kota Semarang. Lawang Sewu didirikan sebagai Hoofdkantoor atau kantor pusat administrasi Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api swasta yang memiliki peran penting dalam perkembangan jaringan perkeretaapian pada masa Hindia Belanda.

Pembangunan gedung utama Lawang Sewu dimulai pada 1904 dan selesai pada 1907. Pada masanya, kompleks tersebut menjadi pusat kegiatan administrasi yang berkaitan dengan pengelolaan perusahaan kereta api, termasuk berbagai urusan teknis, keuangan, dan perencanaan pengembangan jaringan rel.

Siswa juga mempelajari keterkaitan Lawang Sewu dengan sejarah lahirnya perkeretaapian di Indonesia. Semarang memiliki posisi penting dalam sejarah tersebut, ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan jalur kereta api di Kemijen pada 1864. Beberapa tahun kemudian, pada 1867, NIS meresmikan jalur kereta api pertama di Nusantara yang menghubungkan Kemijen dengan Tanggung.

Pembangunan jaringan rel pada masa itu memiliki kaitan erat dengan kepentingan ekonomi pemerintah kolonial. Jalur kereta api digunakan untuk mempercepat mobilitas dan pengangkutan hasil perkebunan, seperti kopi, gula, dan tembakau, dari daerah pedalaman menuju pusat perdagangan dan Pelabuhan Semarang sebelum kemudian dipasarkan ke luar negeri.

Jejak perkembangan tersebut dapat dilihat melalui berbagai unsur bangunan dan koleksi yang ada di Lawang Sewu. Salah satu yang menarik perhatian siswa adalah kaca patri pada gedung utama. Ornamen tersebut menjadi bagian dari karakter arsitektur bangunan sekaligus merekam simbolisme kejayaan perusahaan dan aktivitas perkeretaapian pada masa kolonial.

Perjalanan sejarah Lawang Sewu kemudian tidak berhenti pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Bangunan tersebut mengalami perubahan fungsi seiring bergantinya kekuasaan. Pada masa pendudukan Jepang antara 1942 hingga 1945, Lawang Sewu digunakan untuk kepentingan administrasi perkeretaapian Jepang serta aktivitas militer.

Memasuki masa kemerdekaan Indonesia, bangunan tersebut kemudian berkaitan dengan Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI), yang menjadi bagian dari sejarah awal perkembangan lembaga perkeretaapian nasional hingga kemudian berkembang menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Kini Lawang Sewu dikenal sebagai museum dan bangunan cagar budaya yang menyimpan berbagai koleksi terkait sejarah perkeretaapian. Di dalamnya terdapat sejumlah artefak yang membantu pengunjung memahami perkembangan teknologi dan sistem transportasi kereta api, antara lain miniatur lokomotif uap, mesin cetak tiket keping Edmondson, serta berbagai peralatan persinyalan kuno.

Bagi Tim History Studi Club, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap sejarah dan cagar budaya. Kamajaya dan Dava Kurnia mengapresiasi antusiasme para siswa selama mengikuti kegiatan.

“Kami sangat bangga dan mengapresiasi semangat antusiasme adik-adik SMKN Jateng. Bagi kami di HSC, senang sekali bisa berbagi ilmu serta bersama-sama menjaga nyala kepedulian terhadap cagar budaya. Diharapkan kegiatan edukatif seperti ini terus berlanjut agar generasi muda tidak kehilangan akar sejarahnya,” ujar perwakilan HSC.

Sepanjang kegiatan, para siswa tampak antusias mengamati berbagai sudut bangunan dan mengikuti penjelasan yang diberikan. Diskusi juga berlangsung aktif ketika siswa menemukan bagian bangunan atau artefak yang menarik perhatian mereka.

Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman dapat menjadi alternatif untuk membuat materi sejarah lebih hidup dan dekat dengan peserta didik. Dengan datang langsung ke situs bersejarah, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai masa lalu, tetapi juga belajar memahami nilai penting pelestarian warisan budaya.

Lawatan sejarah ke Lawang Sewu akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan di luar kelas. Pertemuan antara siswa, guru, alumni, komunitas sejarah, dan situs cagar budaya tersebut menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan kepedulian terhadap sejarah bangsa.

Melalui kegiatan outing class tersebut, SMKN Jateng di Semarang berharap pengalaman belajar di Lawang Sewu dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap sejarah perkeretaapian Indonesia sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya. Semangat belajar langsung di situs sejarah diharapkan terus dikembangkan agar generasi muda tidak sekadar mengenal sejarah dari buku, tetapi mampu melihat, memahami, dan ikut menjaga peninggalan sejarah yang ada di sekitarnya.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan