SEMARANG — Upaya meningkatkan kualitas pengelolaan bantuan revitalisasi sekolah dilakukan SMKN Jateng di Semarang melalui kegiatan studi tiru ke SMKN 10 Semarang, Jumat (11/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Meeting SMKN 10 Semarang tersebut menjadi momentum bagi jajaran SMKN Jateng di Semarang untuk mempelajari secara langsung tata kelola bantuan revitalisasi, mulai dari aspek administrasi, dokumentasi, keuangan hingga pelaksanaan di lapangan.
Rombongan SMKN Jateng di Semarang berjumlah enam orang yang terdiri atas kepala sekolah dan Tim Revitalisasi SMKN Jateng di Semarang. Sementara dari SMKN 10 Semarang, kegiatan tersebut diterima oleh empat orang yang terdiri atas Plt Kepala Tata Usaha, Ketua Panitia Revitalisasi, Pengelola Dokumen Revitalisasi, dan Bendahara Revitalisasi.
Kegiatan studi tiru tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman Tim Revitalisasi SMKN Jateng di Semarang dalam mengelola bantuan secara tertib, transparan, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain mendapatkan penjelasan secara langsung dari tim yang telah berpengalaman, rombongan juga diberikan kesempatan melihat hasil revitalisasi SMKN 10 Semarang secara langsung.
Dalam sambutannya, Plt Kepala Tata Usaha SMKN 10 Semarang, Arimurti Asmoro, menyampaikan permohonan maaf karena Kepala SMKN 10 Semarang tidak dapat hadir secara langsung untuk menemui rombongan. Kepala sekolah, kata dia, sedang menjalankan tugas di tempat lain yang tidak dapat ditinggalkan.
“Kami menyampaikan permohonan maaf karena Kepala SMKN 10 Semarang belum bisa menemui langsung. Beliau sedang melaksanakan tugas di tempat lain,” ujar Arimurti.
Meski demikian, Arimurti menyambut baik kedatangan rombongan SMKN Jateng di Semarang. Menurutnya, kegiatan studi tiru merupakan langkah positif karena memberikan ruang bagi sekolah untuk saling berbagi pengalaman, khususnya dalam pengelolaan bantuan revitalisasi.
“Kami mengapresiasi langkah SMKN Jateng di Semarang hadir di sekolah untuk belajar mengelola bantuan revitalisasi,” katanya.
Ia berharap pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang berbagi informasi, tetapi juga dapat memberikan gambaran praktis mengenai berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengelolaan bantuan. Pengalaman yang telah dijalankan SMKN 10 Semarang diharapkan dapat menjadi referensi bagi SMKN Jateng di Semarang dalam melaksanakan program revitalisasi.
Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan terima kasih atas penerimaan yang diberikan SMKN 10 Semarang kepada rombongan. Ia menegaskan bahwa kedatangan pihaknya bukan sekadar kunjungan silaturahmi, melainkan bagian dari proses belajar bersama untuk memastikan Tim Revitalisasi SMKN Jateng di Semarang memiliki pemahaman yang memadai dalam mengelola bantuan.
“Kami mengucapkan terima kasih karena rombongan SMKN Jateng di Semarang diterima dengan baik. Tujuan kami membawa Tim Revitalisasi SMKN Jateng di Semarang untuk belajar dan mendapatkan pengalaman dari Tim Revitalisasi SMKN 10 Semarang,” ujar Ardan.
Menurut Ardan, pengelolaan bantuan revitalisasi membutuhkan ketelitian dan koordinasi antarpersonel. Setiap tahapan harus dipersiapkan dengan baik agar proses pelaksanaan program berjalan sesuai rencana. Karena itu, pengalaman sekolah lain yang telah lebih dahulu melaksanakan revitalisasi dinilai penting untuk dipelajari.
“Melalui studi tiru ini, kami ingin melihat secara langsung bagaimana proses pengelolaan revitalisasi dilakukan, terutama hal-hal yang bersifat teknis dan administratif. Kami berharap pengalaman dari SMKN 10 Semarang dapat menjadi pembelajaran bagi tim kami,” tuturnya.
Dalam sesi utama, Ketua Pelaksana Revitalisasi SMKN 10 Semarang, Muhammad Yunan Setyawan, memaparkan sejumlah hal krusial yang harus dipersiapkan dalam mengelola bantuan revitalisasi. Penjelasan tersebut mencakup berbagai kebutuhan yang perlu menjadi perhatian sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan program.
Yunan menekankan pentingnya kesiapan tim dalam memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing. Pengelolaan bantuan tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan fisik pembangunan, tetapi juga menyangkut kelengkapan administrasi, pencatatan, dokumentasi, koordinasi, serta pelaporan kegiatan.
Menurutnya, ketelitian menjadi salah satu faktor penting dalam setiap tahapan. Setiap proses yang dilaksanakan perlu memiliki dokumen pendukung sehingga seluruh kegiatan dapat ditelusuri dengan mudah ketika diperlukan.
“Hal-hal krusial dalam revitalisasi harus disiapkan sejak awal. Tim harus memahami pembagian tugas, kelengkapan dokumen, mekanisme pencatatan, dokumentasi, sampai dengan proses pelaporan. Jangan sampai ketika kegiatan sudah berjalan, baru kemudian mencari dokumen yang dibutuhkan,” jelas Yunan.
Penjelasan mengenai administrasi kemudian dilanjutkan oleh Pengelola Dokumen Revitalisasi SMKN 10 Semarang, Andhika Wildan Krisnamurti, S.Pd., M.Pd. Ia memberikan gambaran mengenai teknis pengelolaan dokumen agar tersusun secara rapi, sistematis, dan mudah ditemukan ketika dibutuhkan.
Andhika menjelaskan bahwa pengelolaan dokumen harus dilakukan dengan pola yang teratur. Dokumen perlu dikelompokkan berdasarkan jenis dan tahapan kegiatan sehingga tim tidak mengalami kesulitan ketika harus mencari berkas tertentu. Kerapian administrasi, menurutnya, juga menjadi bagian penting dari akuntabilitas pelaksanaan bantuan revitalisasi.
“Dokumen harus dikelola secara rapi dan sistematis. Yang paling penting, ketika suatu dokumen dibutuhkan, kita bisa langsung mengetahui tempat penyimpanannya dan menemukannya dengan mudah,” kata Andhika.
Setelah sesi pemaparan bersama, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang lebih spesifik antarpersonel. Masing-masing bidang dari Tim Revitalisasi SMKN Jateng di Semarang melakukan pendalaman materi bersama personel yang menangani bidang serupa di SMKN 10 Semarang.
Tim bendahara melakukan diskusi mengenai pengelolaan administrasi dan keuangan. Tim dokumentasi mempelajari teknik pengambilan serta penataan dokumentasi foto kegiatan, sementara pengelola dokumen menggali lebih jauh mengenai sistem penyimpanan dan pengarsipan berkas pelaksanaan revitalisasi.
Pola diskusi berdasarkan bidang tersebut membuat proses studi tiru berlangsung lebih praktis. Setiap anggota tim dapat menyampaikan pertanyaan secara langsung sesuai tugas dan tanggung jawabnya. Pengalaman yang dibagikan juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan revitalisasi di SMKN Jateng di Semarang.
Selain pembahasan di ruang meeting, rombongan SMKN Jateng di Semarang juga diajak melakukan kunjungan lapangan. Dalam kunjungan tersebut, tim melihat secara langsung bangunan hasil revitalisasi SMKN 10 Semarang.
Kunjungan lapangan menjadi bagian penting dari rangkaian studi tiru karena memberikan gambaran nyata mengenai hasil pelaksanaan program. Rombongan dapat melihat kondisi bangunan sekaligus memperoleh penjelasan mengenai proses yang telah dilakukan oleh Tim Revitalisasi SMKN 10 Semarang.
Kegiatan studi tiru pengelolaan bantuan revitalisasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan SMKN Jateng di Semarang dalam melaksanakan program revitalisasi. Pengetahuan yang diperoleh dari SMKN 10 Semarang selanjutnya menjadi bahan pembelajaran bagi Tim Revitalisasi SMKN Jateng di Semarang untuk membangun sistem kerja yang tertib, terkoordinasi, dan mudah dipertanggungjawabkan.
Melalui kegiatan tersebut, kedua sekolah juga menunjukkan pentingnya kolaborasi dan berbagi pengalaman dalam mendukung peningkatan kualitas pengelolaan program pendidikan. Studi tiru tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi menjadi sarana untuk melihat praktik secara langsung dan mengambil pembelajaran yang relevan untuk diterapkan di sekolah masing-masing.

Beri Komentar