SEMARANG – Sebanyak 33 mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) resmi diterjunkan untuk mengikuti program Lantip 8 di SMKN Jateng di Semarang. Penerjunan mahasiswa tersebut berlangsung di Ruang AVA SMKN Jateng di Semarang, Kamis (10/9/2026), dan menjadi momentum awal bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di kampus ke dalam situasi nyata di lingkungan sekolah.
Kegiatan penerjunan dihadiri mahasiswa peserta Lantip 8 Unnes, guru pamong, Koordinator Guru Pamong SMKN Jateng di Semarang Laely Rohmatin Apriliani, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Unnes Drs. Bambang Sugiyarto, M.T., serta Kepala SMKN Jateng di Semarang Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd. Kehadiran para pihak tersebut menandai dimulainya proses pendampingan mahasiswa selama menjalankan berbagai kegiatan akademik maupun kegiatan sekolah di SMKN Jateng di Semarang.
Program Lantip 8 menjadi bagian penting dalam proses pembentukan kompetensi mahasiswa calon pendidik. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori pembelajaran yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga belajar menghadapi kondisi riil di sekolah, berinteraksi dengan peserta didik, bekerja bersama guru, serta memahami tata kelola dan budaya kerja satuan pendidikan.
Dalam sambutannya, Dosen Pembimbing Lapangan Unnes Drs. Bambang Sugiyarto, M.T., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada SMKN Jateng di Semarang yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada mahasiswa Unnes untuk melaksanakan program Lantip 8.
“Terima kasih kepada SMKN Jateng di Semarang yang telah bekerja sama dalam Lantip 8 Unnes,” ujar Bambang dalam sambutannya.
Menurut Bambang, program Lantip merupakan kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori yang selama ini dipelajari di perguruan tinggi dengan kondisi nyata yang dihadapi di sekolah. Proses tersebut dinilai penting karena lingkungan sekolah memiliki dinamika tersendiri yang tidak seluruhnya dapat dipelajari melalui pembelajaran teori di kampus.
“Untuk mahasiswa, program Lantip ini menjadi ajang untuk mensinkronkan teori di kampus dengan kondisi riil di sekolah,” katanya.
Ia menekankan agar seluruh mahasiswa peserta Lantip 8 mampu menempatkan diri dengan baik selama berada di SMKN Jateng di Semarang. Mahasiswa diminta menghormati dan mengikuti berbagai aturan yang berlaku di sekolah sebagai bagian dari proses belajar sekaligus bentuk profesionalitas calon pendidik.
“Mahasiswa harus ikut aturan yang berlaku di sekolah,” tegas Bambang.
Selain itu, Bambang menilai kondisi lingkungan belajar di SMKN Jateng di Semarang sangat mendukung pelaksanaan program Lantip. Kondisi siswa yang kondusif menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman pembelajaran secara maksimal.
“ Siswa SMKN Jateng di Semarang sangat kondusif sehingga mahasiswa bisa maksimal dalam mempraktikkan teori-teori pembelajaran,” ungkapnya.
Kondisi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan mengajar, membangun komunikasi dengan peserta didik, melakukan pengelolaan kelas, serta mengasah kemampuan dalam menyusun dan melaksanakan proses pembelajaran. Pengalaman langsung tersebut menjadi bekal penting sebelum mahasiswa memasuki dunia profesi pendidikan secara penuh.
Sementara itu, Kepala SMKN Jateng di Semarang Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan terima kasih kepada Unnes karena kembali memberikan kepercayaan kepada SMKN Jateng di Semarang untuk menjadi bagian dari pelaksanaan program Lantip. Menurutnya, kehadiran mahasiswa tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi bagian dari proses kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah.
“Terima kasih, SMKN Jateng di Semarang masih diberi kepercayaan program Lantip oleh Unnes,” ujar Ardan.
Ardan menegaskan bahwa pihak sekolah siap menerima sekaligus memberikan bimbingan kepada seluruh mahasiswa selama menjalankan program. Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM), mahasiswa akan berkoordinasi dan mendapatkan pendampingan bersama guru pamong. Sementara untuk memahami aspek manajemen sekolah, mahasiswa dapat berkoordinasi dengan jajaran manajemen sekolah.
“Kami siap menerima dan membimbing mahasiswa Lantip untuk KBM bersama guru pamong dan untuk manajemen bersama Plt. Kepala Tata Usaha, wakil kepala sekolah dan ketua jurusan,” katanya.
Menurut Ardan, keterlibatan mahasiswa dalam kehidupan sekolah tidak perlu dibatasi hanya pada aktivitas pembelajaran di kelas. Sekolah memberikan ruang kepada mahasiswa untuk mengenal berbagai kegiatan yang berlangsung di lingkungan SMKN Jateng di Semarang sehingga pengalaman yang diperoleh selama Lantip menjadi lebih utuh.
“Sekolah mempersilakan mahasiswa untuk bergabung dalam kegiatan sekolah,” tutur Ardan.
Kesempatan tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran menyeluruh kepada mahasiswa mengenai kehidupan sekolah, mulai dari proses pembelajaran, interaksi antara guru dan siswa, kegiatan sekolah, hingga mekanisme pengelolaan satuan pendidikan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman sebagai pengajar, tetapi juga memahami peran pendidik sebagai bagian dari sebuah organisasi pendidikan.
Setelah rangkaian sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan simbolis mahasiswa Lantip 8 Unnes kepada SMKN Jateng di Semarang. Penyerahan tersebut menjadi tanda dimulainya secara resmi pelaksanaan kegiatan mahasiswa di sekolah sekaligus memperkuat komitmen kerja sama antara Unnes dan SMKN Jateng di Semarang.
Acara kemudian dilanjutkan dengan perkenalan mahasiswa peserta Lantip 8. Perkenalan mahasiswa disampaikan oleh perwakilan peserta, Muhammad Lutfi Firmansyah. Dalam sesi tersebut, mahasiswa diperkenalkan sebagai peserta program yang akan menjalankan berbagai aktivitas selama berada di SMKN Jateng di Semarang.
Selanjutnya, Koordinator Guru Pamong SMKN Jateng di Semarang, Laely Rohmatin Apriliani, memperkenalkan para guru pamong yang akan mendampingi mahasiswa selama pelaksanaan program. Guru pamong memiliki peran penting dalam memberikan arahan kepada mahasiswa, khususnya dalam pelaksanaan pembelajaran dan pengenalan praktik pendidikan di sekolah.
Kehadiran guru pamong diharapkan menjadi jembatan antara pengalaman akademik mahasiswa di kampus dengan praktik pembelajaran di lapangan. Melalui pendampingan tersebut, mahasiswa dapat memperoleh masukan secara langsung mengenai proses pembelajaran, pengelolaan kelas, pendekatan kepada siswa, serta berbagai persoalan yang muncul dalam kegiatan pendidikan sehari-hari.
Pelaksanaan Lantip 8 di SMKN Jateng di Semarang juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kelembagaan antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan. Kolaborasi tersebut memberikan ruang bagi kedua pihak untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam pengembangan pendidikan.
Bagi Unnes, keberadaan mahasiswa di sekolah memberikan kesempatan bagi calon pendidik untuk menguji sekaligus mengembangkan kompetensi yang telah dipelajari. Sementara bagi SMKN Jateng di Semarang, kehadiran mahasiswa dapat menjadi bagian dari dinamika akademik sekolah sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan dengan lingkungan perguruan tinggi.
Selama pelaksanaan Lantip 8, mahasiswa diharapkan mampu menjaga nama baik almamater, mematuhi ketentuan yang berlaku di SMKN Jateng di Semarang, serta membangun komunikasi dan kerja sama yang baik dengan seluruh warga sekolah. Sikap disiplin, tanggung jawab dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari keberhasilan mahasiswa menjalankan program tersebut.
Penerjunan 33 mahasiswa itu pun tidak sekadar menjadi seremoni pembukaan kegiatan, tetapi menjadi awal dari proses belajar yang lebih konkret. Di ruang-ruang kelas, lingkungan sekolah dan berbagai aktivitas pendidikan lainnya, mahasiswa akan berhadapan langsung dengan realitas profesi yang kelak mereka jalani.
Dengan dukungan DPL, guru pamong, koordinator guru pamong, jajaran manajemen sekolah dan seluruh warga SMKN Jateng di Semarang, pelaksanaan Lantip 8 Unnes diharapkan berjalan lancar dan memberikan pengalaman yang bermakna bagi mahasiswa. Program tersebut sekaligus diharapkan memperkuat sinergi antara Unnes dan SMKN Jateng di Semarang dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan penyiapan calon tenaga pendidik yang kompeten.
Rangkaian kegiatan penerjunan kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta dan pihak sekolah. Momen tersebut menjadi penanda dimulainya perjalanan 33 mahasiswa Unnes dalam menjalani pengalaman belajar langsung di SMKN Jateng di Semarang melalui program Lantip 8.

Beri Komentar