Rabu, 09-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Pendampingan Daring FKK Dorong Kepala Sekolah Perkuat Transformasi Pembelajaran melalui Pola Pikir Bertumbuh

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Upaya memperkuat transformasi pembelajaran di satuan pendidikan terus dilakukan melalui penguatan kapasitas kepala sekolah dan berbagi praktik baik antarsatuan pendidikan. Salah satunya melalui kegiatan Pendampingan Daring oleh FKK yang diikuti para kepala SMA dan SMK Kota Semarang pada Rabu, 9 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.45 hingga 10.45 WIB tersebut menghadirkan Rina Chandrawati, S.Pd., M.Si. sebagai fasilitator. Pendampingan menjadi ruang bagi para kepala sekolah untuk memaparkan hasil intervensi yang telah dilakukan sekaligus merefleksikan kesesuaian materi pengembangan pembelajaran dengan program transformasi pembelajaran di sekolah masing-masing.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan kesempatan untuk memaparkan hasil intervensi Pola Pikir Bertumbuh atau Growth Mindset selama satu jam pelajaran. Sesi berikutnya digunakan untuk memaparkan kesesuaian materi PM dengan program transformasi pembelajaran selama satu jam pelajaran. Forum berlangsung sebagai ruang belajar bersama yang mendorong kepala sekolah tidak hanya memahami konsep transformasi pembelajaran, tetapi juga membagikan pengalaman penerapannya di lingkungan sekolah.

Salah satu praktik baik disampaikan Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd. Dalam paparannya, Ardan mengangkat pengalaman sekolah dalam melakukan intervensi Pola Pikir Bertumbuh sebagai bagian dari upaya membangun budaya sekolah yang terus berkembang melalui peningkatan kompetensi guru, penguatan literasi, riset, kemitraan industri, serta pengembangan karakter dan daya saing siswa.

Menurut Ardan, perubahan pola pikir menjadi salah satu fondasi penting dalam mendorong perubahan budaya sekolah. Guru dan tenaga kependidikan perlu memiliki keyakinan bahwa kompetensi dapat terus dikembangkan melalui proses belajar, praktik, refleksi, kolaborasi, dan keberanian mencoba pendekatan baru.

“Intervensi Pola Pikir Bertumbuh tidak berhenti pada perubahan cara berpikir, tetapi harus terlihat dalam perubahan perilaku, budaya kerja, dan kualitas pembelajaran. Guru harus memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu terus berkembang,” ujar Ardan saat memaparkan praktik baik SMKN Jateng di Semarang.

Salah satu program yang menjadi bagian dari intervensi tersebut adalah penguatan literasi dan publikasi ilmiah. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam penulisan karya tulis ilmiah, mendiseminasikan best practices pembelajaran, serta memberikan pendampingan publikasi secara berkala.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Hingga saat ini, sebanyak 180 artikel berhasil dipublikasikan. Capaian tersebut tidak hanya menjadi angka, tetapi juga menunjukkan tumbuhnya budaya menulis, meneliti, mendokumentasikan praktik pembelajaran, dan berbagi pengetahuan di kalangan guru.

Penguatan literasi dan publikasi ilmiah dilakukan melalui sejumlah strategi, antara lain penulisan artikel ilmiah populer di website sekolah, publikasi ilmiah, serta pengembangan profesi guru. Dengan strategi tersebut, pengalaman pembelajaran yang sebelumnya hanya tersimpan sebagai pengalaman personal guru dapat diolah menjadi praktik baik yang terdokumentasi dan dapat dipelajari oleh guru lainnya.

“Guru tidak cukup hanya mengajar. Guru perlu mampu merefleksikan proses pembelajaran, melakukan penelitian, menuliskan praktik baik, kemudian membagikannya. Dari sinilah budaya belajar di sekolah dapat tumbuh secara berkelanjutan,” kata Ardan.

Selain penguatan literasi, SMKN Jateng di Semarang juga menjalankan berbagai program peningkatan kapabilitas guru melalui program diklat pada Semester 1 Tahun 2026. Program tersebut menjadi bagian dari strategi sekolah untuk memastikan kompetensi pendidik terus berkembang sesuai kebutuhan pembelajaran dan perkembangan dunia kerja.

Berbagai diklat yang diikuti guru antara lain Diklat RAB dengan Microsoft Project, Diklat Matematika Kejuruan melalui kolaborasi GKK Indonesia dan Inalum bersama BBPPMPV BMTI, Diklat PKB Guru, serta Diklat AIRA bagi Guru yang diselenggarakan BBPPMPV KPTK.

Selain itu, terdapat Diklat Engine Tune Up Sistem Injeksi dan Diklat Ducting System yang diselenggarakan BBPPMPV BMTI, Diklat Karya Tulis Ilmiah dari BBGTK Jawa Tengah, penyaji CONAPLIN dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, serta TOT Fasilitator PM dan KKA yang diselenggarakan BBGTK Jawa Tengah.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kapabilitas guru ditempatkan sebagai investasi penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Guru diberikan ruang untuk belajar, memperbarui pengetahuan, meningkatkan keterampilan teknis, sekaligus mengembangkan kemampuan profesional yang relevan dengan tuntutan pendidikan vokasi.

Transformasi pembelajaran di SMKN Jateng di Semarang juga diperkuat melalui kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri. Kemitraan tersebut dikembangkan dengan semangat “Industry Education Partnership for a Better Future” atau bersama dunia usaha dan dunia industri membangun masa depan yang lebih baik.

Kerja sama tersebut diwujudkan melalui berbagai program, mulai dari penandatanganan kerja sama dengan industri, link and match kurikulum dengan kebutuhan industri, Praktik Kerja Lapangan (PKL), Teaching Factory, sertifikasi kompetensi berbasis industri, hingga upaya penyerapan lulusan di dunia usaha dan dunia industri.

Menurut Ardan, kemitraan dengan industri tidak hanya bertujuan membuka peluang kerja bagi lulusan, tetapi juga memastikan proses pendidikan memiliki keterkaitan yang kuat dengan kebutuhan nyata di lapangan.

“Sekolah vokasi harus mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri. Karena itu, hubungan dengan dunia usaha dan dunia industri harus dibangun sebagai kemitraan strategis, bukan sekadar kerja sama seremonial,” tegasnya.

Melalui kemitraan tersebut, sekolah berupaya membangun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan nyata industri, memberikan pengalaman kerja kepada siswa, meningkatkan keterampilan dan profesionalisme, serta menghadirkan pembelajaran dengan standar industri. Pada saat yang sama, sertifikasi kompetensi diharapkan memberikan pengakuan terhadap kemampuan siswa sehingga mereka semakin percaya diri memasuki dunia kerja.

Intervensi Pola Pikir Bertumbuh yang dilakukan secara konsisten pada akhirnya diharapkan memberikan dampak lebih luas terhadap ekosistem pendidikan di sekolah. Ardan memaparkan sejumlah dampak yang mulai terlihat, di antaranya peningkatan budaya literasi dan riset yang kuat, peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan, berkembangnya prestasi akademik dan nonakademik, terbangunnya kemitraan strategis dengan industri, serta tumbuhnya siswa yang berkarakter dan memiliki daya saing.

Dalam konteks transformasi pembelajaran, capaian tersebut menjadi indikator bahwa perubahan tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan intervensi yang terencana, konsistensi, kolaborasi, dan budaya refleksi agar perubahan pola pikir dapat diterjemahkan menjadi perubahan nyata dalam praktik pendidikan.

Kegiatan Pendampingan Daring FKK menjadi momentum penting bagi para kepala SMA dan SMK Kota Semarang untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing. Praktik baik yang dipaparkan Ardan menunjukkan bahwa intervensi Pola Pikir Bertumbuh dapat diintegrasikan dengan berbagai program sekolah, mulai dari peningkatan kompetensi guru, penguatan literasi dan riset, hingga pengembangan kemitraan dengan industri.

Fasilitator kegiatan, Rina Chandrawati, S.Pd., M.Si., memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan pengalaman dan hasil intervensinya sehingga proses pendampingan tidak berlangsung satu arah. Setiap praktik yang dibagikan menjadi bahan refleksi bersama untuk melihat sejauh mana program yang dilakukan telah mendukung agenda transformasi pembelajaran.

Bagi SMKN Jateng di Semarang, penguatan Pola Pikir Bertumbuh menjadi bagian dari perjalanan membangun budaya sekolah yang adaptif. Guru didorong untuk terus belajar, siswa diarahkan untuk berkembang dan berdaya saing, sementara sekolah membangun jejaring kemitraan yang semakin kuat dengan berbagai pihak.

“Transformasi pendidikan pada akhirnya adalah proses perubahan bersama. Ketika guru mau belajar dan berkembang, sekolah memiliki budaya yang kuat untuk berubah. Ketika budaya sekolah berubah, dampaknya akan kembali kepada siswa melalui pembelajaran yang lebih berkualitas,” pungkas Ardan.

Pendampingan daring tersebut sekaligus menegaskan bahwa transformasi pembelajaran membutuhkan kepemimpinan yang mampu menggerakkan seluruh warga sekolah. Pola Pikir Bertumbuh bukan sekadar konsep, melainkan paradigma yang perlu diwujudkan melalui program nyata, peningkatan kompetensi, budaya literasi, kolaborasi, kemitraan industri, serta komitmen berkelanjutan untuk memberikan layanan pendidikan terbaik bagi peserta didik.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan