Ketika berbicara tentang pendidikan, sebagian besar orang biasanya langsung membayangkan sosok guru yang berdiri di depan kelas menyampaikan materi atau murid yang tekun menyalin catatan dan mengerjakan tugas. Padahal, di balik proses belajar mengajar yang terlihat sederhana itu, ada sekelompok orang yang bekerja tanpa henti untuk memastikan roda pendidikan berputar dengan lancar. Mereka adalah tenaga kependidikan, atau yang lebih akrab disebut Tendik.
Tendik merupakan kelompok pekerja non-akademik yang mengemban tanggung jawab besar dalam dunia pendidikan. Mereka tidak berdiri di depan kelas, tetapi memastikan segala hal yang mendukung pembelajaran berjalan dengan baik. Tanpa kehadiran Tendik, sekolah tidak akan mampu melaksanakan operasional sehari-hari dengan tertib. Administrasi bisa terbengkalai, fasilitas belajar tidak terawat, keuangan sekolah kacau, bahkan komunikasi dengan orang tua dan masyarakat bisa tersendat. Karena itulah, meskipun tidak mengajar langsung, peran Tendik begitu besar dan tidak dapat disepelekan.
Dalam lingkup tugasnya, salah satu peran utama Tendik adalah mengelola administrasi sekolah. Mereka bertanggung jawab terhadap pengarsipan dokumen, pembuatan surat kedinasan, pengurusan berbagai keperluan birokrasi, hingga pelayanan administrasi bagi guru, siswa, maupun orang tua. Dari tangan mereka, tata kelola sekolah menjadi rapi, tertib, dan akuntabel. Selain itu, mereka juga mengurus sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan belajar. Mulai dari ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, ruang guru, hingga fasilitas olahraga, semua berada di bawah pantauan dan pengelolaan Tendik. Mereka memastikan setiap ruang dan perlengkapan siap digunakan, serta melakukan inventarisasi agar kebutuhan sekolah dapat dipenuhi secara tepat.
Tugas lainnya yang tak kalah penting adalah mendukung fungsi perpustakaan. Staf perpustakaan sebagai bagian dari Tendik membantu siswa dan guru mencari referensi dan literatur yang relevan, mengatur koleksi, dan menjaga perpustakaan tetap hidup sebagai pusat sumber belajar. Lebih jauh, peran mereka juga menyentuh aspek kebersihan sekolah. Dari halaman hingga ruang kelas, dari toilet hingga ruang guru, semua dijaga agar bersih dan nyaman. Lingkungan yang bersih bukan sekadar soal kesehatan, melainkan juga menumbuhkan kedisiplinan dan rasa nyaman dalam proses belajar.
Di bidang kepegawaian dan keuangan, peran Tendik semakin krusial. Mereka mengurus penggajian pegawai, usulan kenaikan pangkat, serta menyusun anggaran sekolah. Transparansi dan akuntabilitas keuangan ada di tangan mereka, dan tanpa pengelolaan yang baik, program-program pendidikan akan sulit berjalan. Tidak kalah penting, Tendik juga menjadi penghubung sekolah dengan masyarakat. Mereka menjalin komunikasi dengan orang tua siswa, mengorganisir kegiatan sosial, dan menyampaikan informasi terkait kegiatan sekolah. Dalam hal ini, Tendik menjadi jembatan penting yang menjaga keharmonisan hubungan sekolah dengan lingkungannya.
Lebih dari sekadar tugas administratif, Tendik juga turut berpartisipasi dalam pengembangan program pendidikan. Mereka bekerja sama dengan guru dan staf akademik untuk merancang program yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan demikian, kontribusi Tendik sebenarnya meluas hingga ke inti pendidikan itu sendiri, meski wujudnya sering kali tidak terlihat langsung.
Jika peran Tendik secara umum sudah begitu besar, maka kisah mereka yang berstatus honorer menjadi babak lain yang penuh dengan tantangan. Sejak awal karier, banyak Tendik honorer harus menghadapi kenyataan pahit berupa status pekerjaan yang tidak pasti, gaji yang rendah, serta tunjangan yang nyaris tidak ada. Mereka bekerja penuh dedikasi, namun sering kali merasa kurang dihargai. Tidak jarang muncul dilema antara pengabdian terhadap dunia pendidikan dengan kebutuhan ekonomi pribadi yang mendesak. Namun, meski dalam keterbatasan, banyak Tendik honorer yang tetap memilih mengabdi, datang lebih awal untuk menyiapkan sekolah, dan pulang paling akhir setelah memastikan semua berjalan baik.
Pengorbanan dan dedikasi semacam itu patut diapresiasi. Meski kerap luput dari perhatian publik, guru dan siswa merasakan langsung dampak kehadiran mereka. Tendik honorer adalah bagian dari denyut kehidupan sekolah, meski langkah mereka sunyi. Dedikasi inilah yang membuat mereka tetap bertahan di tengah keterbatasan.
Seiring waktu, pemerintah berusaha menjawab persoalan honorer dengan sejumlah kebijakan. Salah satu tonggak penting terjadi pada Desember 2024, ketika dilaksanakan seleksi pengangkatan honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Bagi mereka yang lulus seleksi dan mendapat formasi, kesempatan menjadi PPPK penuh waktu terbuka lebar. Sementara bagi yang belum mendapat formasi, pemerintah menyiapkan skema PPPK paruh waktu. Perubahan kebijakan ini memang belum sepenuhnya menyelesaikan masalah, tetapi setidaknya memberikan sedikit kepastian dalam perjalanan profesional Tendik honorer.
Meski begitu, kehidupan Tendik honorer tetaplah kisah tentang perjuangan panjang. Mereka terus melangkah dengan penuh harapan, bahwa suatu hari pengakuan dan kesejahteraan akan setara dengan pengabdian yang telah diberikan. Harapan sederhana itu menjadi kekuatan yang menjaga semangat mereka tetap menyala. Sebab mereka tahu, pendidikan yang baik bukan hanya ditopang oleh guru yang mengajar di kelas, tetapi juga oleh mereka yang bekerja dalam diam, memastikan semua berjalan lancar.
Dengan memahami peran dan tugas Tendik, baik yang berstatus tetap maupun honorer, kita semakin menyadari betapa penting keberadaan mereka dalam dunia pendidikan. Mereka adalah penjaga sunyi yang memastikan seluruh roda pendidikan bergerak tanpa henti. Jika guru adalah pelita yang menerangi jalan siswa, maka Tendik adalah minyak yang menjaga pelita itu tetap menyala.
Sudah saatnya perhatian lebih diberikan kepada Tendik. Peningkatan pengakuan, kesejahteraan, dan status profesional mereka adalah langkah penting menuju sistem pendidikan yang lebih adil dan berkualitas. Menghargai Tendik berarti menghargai seluruh ekosistem pendidikan, karena pendidikan tidak akan pernah berjalan tanpa dukungan mereka. Dari balik layar, mereka telah membuktikan bahwa setiap peran, sekecil apa pun terlihat, memiliki dampak besar bagi keberlangsungan pendidikan.
Pendidikan masa depan yang lebih baik hanya akan lahir jika kita bersama-sama menyadari pentingnya setiap komponen di dalamnya. Tendik mungkin tidak berdiri di depan kelas, tetapi dedikasi mereka membuktikan bahwa pendidikan adalah kerja kolektif. Mengakui, menghargai, dan memperjuangkan nasib Tendik adalah bagian dari komitmen kita untuk membangun masa depan bangsa yang lebih kokoh, inklusif, dan bermakna.
Penulis : Suhermanto, Tendik SMP Negeri 3 Pekuncen
