SEMARANG — Suasana religius terasa kuat dalam pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jawa Tengah di Semarang, Jumat, 29 Mei 2026. Ratusan jamaah yang terdiri atas guru, siswa, tenaga kependidikan, dan masyarakat sekitar memadati masjid sejak menjelang azan zuhur untuk mengikuti ibadah sekaligus mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh Munjawir selaku khatib dan imam.
Dalam khutbahnya, Munjawir mengajak jamaah memahami makna qurban tidak sekadar sebagai ritual penyembelihan hewan, melainkan sebagai bentuk keikhlasan, ketundukan, dan ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT. Ia menegaskan bahwa esensi Idul Adha terletak pada kesediaan manusia untuk mengorbankan sesuatu yang dicintai demi menjalankan perintah Allah.
“Hari ini kita berkumpul dalam naungan rahmat Allah, menyambut Hari Raya Idul Adha yang mulia. Di balik kemeriahan takbir, gema tasbih, dan hiruk-pikuk persiapan hewan qurban, tersimpan pelajaran agung yang sering kali terlupakan, bahwa qurban bukanlah sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan ujian keikhlasan, bukti ketaatan, dan cermin ketakwaan seorang hamba kepada Sang Pencipta,” ujar Munjawir di hadapan jamaah.
Khutbah berlangsung khusyuk dengan pembacaan sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan ibadah qurban. Salah satunya Surah Al-Kautsar ayat 1-3 yang menegaskan perintah shalat dan berqurban sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Menurut Munjawir, kata “wanhar” dalam ayat tersebut tidak hanya bermakna menyembelih hewan secara fisik, tetapi juga mengandung makna penyerahan diri dan pengorbanan di jalan Allah.
Ia menjelaskan bahwa qurban sejatinya merupakan pengakuan bahwa seluruh harta, kesehatan, waktu, dan kehidupan manusia hanyalah titipan dari Allah. Karena itu, ketika Allah memerintahkan sebagian dari nikmat tersebut untuk dikorbankan, seorang muslim semestinya melaksanakannya dengan penuh kepatuhan dan keikhlasan.
Dalam khutbahnya, Munjawir juga mengangkat kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS sebagai teladan utama dalam ketaatan. Ia menggambarkan bagaimana Nabi Ibrahim tidak mempertanyakan perintah Allah ketika mendapat wahyu melalui mimpi untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya.
“Maka ujian itu bukan tentang darah dan daging, melainkan tentang penyerahan diri total kepada Allah. Ketika ketaatan mencapai puncaknya, Allah mengganti Nabi Ismail dengan sembelihan yang besar,” tuturnya.
Jamaah terlihat menyimak dengan serius ketika Munjawir membacakan ayat Surah Ash-Shaffat ayat 102 dan ayat 107 yang menceritakan peristiwa tersebut. Sejumlah siswa yang berada di saf belakang tampak mencatat poin-poin penting khutbah menggunakan telepon genggam dan buku kecil yang mereka bawa.
Selain menekankan nilai spiritual qurban, Munjawir juga mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan ibadah qurban sebagai ajang pamer atau simbol status sosial. Ia menegaskan bahwa yang diterima Allah bukanlah kemewahan hewan qurban, melainkan ketakwaan orang yang berqurban.
“Qurban yang diterima bukan yang paling mahal, bukan yang paling gemuk, bukan pula yang paling banyak pamer di media sosial. Qurban yang sampai kepada Allah adalah yang dilandasi taqwa,” katanya dengan suara lantang.
Ia kemudian membacakan Surah Al-Hajj ayat 37 yang menjelaskan bahwa daging dan darah hewan qurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari hamba-Nya. Menurutnya, pesan tersebut sangat relevan di tengah kehidupan modern yang cenderung materialistis dan individualistis.
Dalam khutbah pertama, Munjawir juga mengajak jamaah menjadikan qurban sebagai latihan spiritual untuk mengalahkan ego, keserakahan, serta ketergantungan terhadap dunia. Ia menilai pembagian daging qurban kepada masyarakat miskin dan membutuhkan merupakan simbol kepedulian sosial yang memperkuat ukhuwah Islamiyah.
“Di era yang serba individualistik ini, qurban mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang kita kumpulkan, tetapi pada apa yang kita bagikan,” ujarnya.
Khutbah kedua diisi dengan penekanan pentingnya menjadikan Idul Adha sebagai momentum muhasabah atau introspeksi diri. Munjawir mengingatkan bahwa pengorbanan tidak berhenti pada penyembelihan hewan semata, tetapi juga mencakup perjuangan meninggalkan sifat buruk, menjaga silaturahim, serta mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.
“Jika hari ini kita mampu menyembelih hewan qurban, esok kita harus mampu menyembelih sifat hasad, iri, sombong, dan cinta dunia yang berlebihan,” katanya.
Ia juga mengutip hadits Rasulullah SAW tentang anjuran berqurban bagi umat Islam yang memiliki kemampuan finansial. Menurutnya, ibadah qurban merupakan bentuk kasih sayang Allah agar umat Islam belajar memurnikan hati dan memperkuat solidaritas sosial.
Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang sendiri rutin menjadi pusat kegiatan keagamaan sekolah, terutama menjelang hari besar Islam. Selain Sholat Jumat, masjid tersebut juga digunakan untuk kajian rutin, pembinaan karakter siswa, hingga kegiatan sosial keagamaan.
Menjelang Idul Adha tahun ini, pihak sekolah bersama pengurus masjid telah melaksanakan penyembelihan hewan qurban yang melibatkan guru, siswa, dan masyarakat sekitar. Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga sarana pendidikan karakter dan penguatan kepedulian sosial bagi peserta didik.
Melalui khutbah yang disampaikan pada Jumat siang itu, jamaah diajak kembali memahami bahwa Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum memperkuat ketakwaan, kepedulian sosial, dan pengorbanan demi kebaikan bersama.

Beri Komentar