Jumat, 29-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Dari Indonesia Menembus Pasar Kerja Internasional

Diterbitkan : - Kategori : Berita
Jakarta – Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kini tidak hanya siap kerja di dalam negeri, tetapi juga memiliki peluang luas untuk berkarier di berbagai negara. Melalui pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri global, kompetensi yang kuat, serta kesiapan mental dan karakter, banyak alumni SMK yang telah membuktikan diri mampu bekerja dan berkembang di tingkat internasional. Hal ini mengemuka dalam Webinar SMK Berani Mendunia seri kelima bertema “Sekolah di Indonesia, Berkarir di Dunia” yang digelar Direktorat SMK, Jumat (29/5/2026).
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa peta karier lulusan SMK telah berubah signifikan. “Dulu bayangannya sederhana, lulus lalu bekerja di pabrik dekat rumah. Hari ini dunia berubah. Jepang, Jerman, Turki hingga Timur Tengah sedang mencari tenaga kerja produktif karena mereka menghadapi penduduk yang menua,” ujar Tatang dalam sambutannya. Ia menambahkan, Indonesia justru sedang menikmati bonus demografi dengan jumlah anak muda melimpah yang energinya besar. “Tinggal satu pertanyaan penting: Apakah kompetensinya siap mendunia?”
Direktur SMK, Arie Wibowo Khurniawan, memaparkan strategi sistematis pemerintah melalui program SMK Go Global dan Kelas Kebekerjaan Luar Negeri 3+1. Program ini mengombinasikan tiga tahun pembelajaran reguler dengan satu tahun persiapan khusus, meliputi penguasaan bahasa asing, penguatan kompetensi sesuai standar negara tujuan, serta literasi hukum dan keuangan. “Ini program yang dipersiapkan sejak kelas 10, 11, 12, ditambah 1 tahun lagi. Insyaallah dengan program ini matang, anak kita siap berkarir di luar negeri,” jelas Arie.
Salah satu sekolah pelaksana program tersebut adalah SMKN 1 Mundu Cirebon. Kepala Sekolah, Sri Handayani, berbagi pengalaman bahwa 62% lulusan sekolahnya pada 2025 bekerja di luar negeri, mayoritas di Jepang. “Anak-anak kami kebanyakan berasal dari ekonomi menengah ke bawah, namun punya cita-cita kuat mengangkat harkat derajat keluarga. Program 3+1 sangat membantu karena biaya pelatihan bahasa dan sertifikasi menjadi lebih terjangkau,” tutur Sri Handayani.
Bukti nyata kesuksesan program ini datang dari para alumni yang kini berkarier di luar negeri. Hafifa Indah Hendrayani, alumnus SMK Muhammadiyah 1 Malang, kini bekerja sebagai caregiver di Jepang. “Persiapan paling penting adalah bahasa. Di Jepang, skill berbahasa sangat dihargai dan berpengaruh pada gaji. Setelah menguasai bahasa, insyaallah kita lebih mudah menjalaninya,” kata Avi, sapaan akrabnya. Ia menekankan pentingnya berpikir jangka panjang: “Jangan hanya berhenti bekerja, tapi pikirkan juga pengembangan karier ke depan.”
Senada dengan Avi, Zahra Pratiwi, alumnus SMKN 1 Sale yang juga bekerja di Jepang, membagikan kisah inspiratifnya beralih dari jurusan multimedia ke bidang keperawatan lansia. “Awalnya saya berat dan ragu karena jalurnya sangat menyeberang dari jurusan sekolah. Namun saya kuatkan hati untuk belajar sungguh-sungguh,” kenang Zahra. Ia berhasil lolos seleksi setelah empat kali wawancara dan kini beradaptasi dengan budaya kerja Jepang yang sangat disiplin. “Pesan saya, jangan takut melangkah keluar dari zona nyaman. Selama punya kemauan belajar, pintu karier global akan terbuka lebar.”
Sementara itu, M. Hadi Candra Maulana, alumnus SMK Wikrama Bogor yang bekerja di industri perhotelan di Turki, menyoroti pentingnya kesiapan mental. “Persiapan kesehatan mental itu paling penting karena di luar tidak ada yang bisa menyelamatkan diri kita kecuali kita sendiri,” tegas Candra. Ia juga mengingatkan agar siswa memanfaatkan waktu sekolah untuk memperdalam bahasa asing. “Bahasa itu seperti investasi masa depan. Bisa ke sana ke sini.”
Webinar yang disiarkan langsung melalui YouTube Direktorat SMK ini juga membahas aspek legalitas dan keamanan. Seluruh penyaluran lulusan ke luar negeri harus melalui jalur prosedural dengan kemitraan yang jelas antara sekolah, lembaga pelatihan kerja, dan industri. “Keamanan itu nomor satu. Jangan pernah negosiasi dengan hal-hal informal karena ingin cepat sukses,” pesan Arie Wibowo Khurniawan.
Dengan dukungan regulasi melalui Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 64 Tahun 2026, pemerintah menargetkan penyaluran 500.000 pekerja migran Indonesia yang kompeten dan terlindungi. SMK menjadi garda terdepan dalam menyiapkan talenta muda Indonesia yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif, berkarakter, dan siap bersaing di panggung global. Seperti pesan penutup Tatang Muttaqin: “Masa depan bukan milik mereka yang paling banyak teori, tetapi milik mereka yang siap beradaptasi dan berani melangkah keluar batas.”

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan