Selasa, 26-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Kepala SMKN Jateng Semarang Ikuti Seminar Peningkatan Literasi, Dorong Perpustakaan Jadi Jantung Pendidikan

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG-Kepala SMKN Jawa Tengah Semarang, Ardan Sirodjuddin mengikuti Seminar Peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 yang digelar secara daring pada Selasa (26/5/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai tersebut diselenggarakan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah sebagai upaya memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan dan masyarakat.

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber penting dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang membahas strategi peningkatan budaya baca, penguatan perpustakaan sekolah, hingga tantangan literasi di era digital. Kegiatan tersebut diikuti kepala sekolah, pengelola perpustakaan, pegiat literasi, serta unsur pendidikan dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Narasumber utama seminar, Iwanudin Iskandar, menegaskan bahwa peningkatan literasi masyarakat merupakan langkah strategis untuk memerangi kemiskinan dan kebodohan. Dalam paparannya, ia menyoroti capaian Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Jawa Tengah yang mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir.

“Pada tahun 2022 Jawa Tengah sempat berada di peringkat enam nasional, namun turun menjadi peringkat 19 pada tahun 2024 dan kembali naik ke peringkat 11 pada tahun 2025. Ini menjadi perhatian serius bersama,” ujar Iwanudin dalam seminar daring tersebut.

Ia menilai peningkatan budaya baca tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus menjadi gerakan bersama lintas sektor. Menurutnya, perpustakaan sekolah memiliki peran sentral dalam membentuk budaya literasi generasi muda.

Dalam pemaparannya, Iwanudin juga mengungkapkan kondisi perpustakaan sekolah di Jawa Tengah yang masih memerlukan perhatian serius. Berdasarkan data yang dipaparkan, dari total 1.565 SMK di Jawa Tengah, baru sekitar 1.081 sekolah yang memiliki perpustakaan. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 10 persen yang telah terakreditasi.

“Kondisi ini harus menjadi perhatian seluruh kepala sekolah. Perpustakaan bukan hanya pelengkap administrasi sekolah, tetapi pusat pembelajaran dan pengembangan wawasan siswa,” tegasnya.

Ia meminta agar pengembangan perpustakaan dan peningkatan minat baca dijadikan salah satu indikator evaluasi kepala sekolah. Bahkan, menurutnya, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dapat dimanfaatkan untuk mendukung penguatan fasilitas literasi dan kegiatan membaca di sekolah.

Selain itu, Iwanudin menekankan empat langkah utama dalam meningkatkan IPLM dan TKM di Jawa Tengah. Pertama, pemerataan layanan perpustakaan hingga ke pelosok daerah agar akses literasi tidak hanya berpusat di kota-kota besar. Kedua, kecukupan koleksi literasi yang tidak hanya terbatas pada buku pelajaran, tetapi juga buku pengetahuan umum, motivasi, dan pengembangan karakter. Ketiga, penguatan sumber daya manusia pengelola perpustakaan. Keempat, peningkatan kualitas perpustakaan melalui sertifikasi dan akreditasi.

Menurutnya, penguatan literasi juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia mendorong dinas-dinas lain untuk menyediakan pojok baca di ruang pelayanan publik seperti Puskesmas, kantor pelayanan masyarakat, maupun ruang tunggu instansi pemerintahan.

“Kita ingin budaya membaca hadir di mana saja. Masyarakat harus mudah mengakses bacaan yang berkualitas, bukan hanya di sekolah atau perpustakaan daerah,” katanya.

Di tengah perkembangan media sosial yang sangat pesat, Iwanudin juga mengingatkan pentingnya mempertahankan budaya membaca buku fisik. Ia menilai media digital memang memberikan akses informasi cepat, namun membaca buku tetap memiliki kedalaman pemahaman yang berbeda.

“Di era YouTube, Instagram, dan media sosial lainnya, buku tetap menjadi sumber pengetahuan yang memberikan efek pemahaman dan kebenaran lebih mendalam,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Rahmah Nur Hayati turut memaparkan materi mengenai peningkatan IPLM dan TKM Provinsi Jawa Tengah. Dalam penjelasannya, Rahmah menguraikan berbagai komponen pengukuran IPLM tahun 2025, termasuk dimensi tingkat kegemaran membaca masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa pengukuran literasi tidak hanya dilihat dari jumlah buku yang dibaca, tetapi juga akses terhadap bahan bacaan, intensitas kunjungan perpustakaan, keterlibatan masyarakat dalam aktivitas literasi, serta kemampuan memanfaatkan informasi secara produktif.

“Literasi hari ini bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi kemampuan memahami informasi dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup,” jelas Rahmah.

Rahmah menambahkan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas layanan perpustakaan melalui transformasi digital, penguatan koleksi, dan peningkatan kapasitas pengelola perpustakaan di berbagai daerah.

Partisipasi Kepala SMKN Jawa Tengah Semarang dalam seminar tersebut menunjukkan komitmen sekolah terhadap penguatan budaya literasi di lingkungan pendidikan vokasi. Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin menilai seminar ini memberikan banyak wawasan strategis mengenai pentingnya literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia.

Menurut Ardan, sekolah vokasi tidak cukup hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga harus membangun budaya membaca dan kemampuan berpikir kritis peserta didik agar mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia industri dan teknologi.

“Budaya literasi menjadi pondasi penting dalam membentuk siswa yang adaptif, kreatif, dan memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat. Sekolah harus mampu menghadirkan lingkungan yang mendorong siswa gemar membaca dan memperluas wawasan,” ungkap Ardan.

Ia menambahkan bahwa penguatan perpustakaan sekolah dan program literasi akan terus menjadi perhatian di lingkungan SMKN Jateng Semarang. Menurutnya, perpustakaan harus menjadi ruang hidup yang menarik bagi siswa, bukan sekadar tempat menyimpan buku.

Melalui seminar ini, diharapkan seluruh satuan pendidikan di Jawa Tengah semakin memperkuat budaya membaca dan pengembangan perpustakaan sebagai bagian penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga terus mendorong sinergi berbagai pihak agar indeks pembangunan literasi masyarakat dan tingkat kegemaran membaca dapat meningkat secara berkelanjutan.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan