SEMARANG – SMKN Jateng di Semarang terus berupaya meningkatkan kompetensi siswa agar selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Praktisi Industri Mengajar di SMKN Jateng di Semarang yang dilaksanakan pada Senin, 19 Oktober 2026, pukul 08.00–15.30 WIB. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari PT SEMTEK DUTA PERDANA untuk memberikan pembelajaran mengenai teknologi Computer-Aided Design (CAD) dan Computer-Aided Manufacturing (CAM) kepada siswa kelas XI Teknik Pemesinan (TP).
Kegiatan praktisi industri mengajar ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam memperkuat pembelajaran berbasis kompetensi dengan menghadirkan pengalaman dan wawasan langsung dari dunia kerja. Melalui keterlibatan praktisi industri, siswa diharapkan tidak hanya memahami materi secara teoretis, tetapi juga mengenal penerapan teknologi manufaktur modern yang digunakan dalam proses produksi di perusahaan.
Materi CAD/CAM dipilih karena memiliki peran penting dalam perkembangan industri manufaktur, khususnya pada bidang teknik pemesinan. Penguasaan teknologi ini menjadi salah satu bekal yang relevan bagi siswa untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin mengandalkan sistem digital, otomatisasi, dan ketepatan proses produksi.
Dalam kegiatan tersebut, siswa kelas XI Teknik Pemesinan mendapatkan pemahaman mengenai konsep dasar CAD/CAM, fungsi masing-masing sistem, serta keterkaitan keduanya dalam proses pembuatan produk. CAD merupakan teknologi yang digunakan untuk merancang, membuat, memodifikasi, dan menganalisis desain produk melalui perangkat lunak komputer. Teknologi ini memungkinkan pengguna menghasilkan gambar teknik dua dimensi (2D) maupun model tiga dimensi (3D) dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
Berbagai perangkat lunak CAD telah digunakan secara luas di industri, di antaranya AutoCAD, SolidWorks, CATIA, dan Autodesk Fusion 360. Dengan bantuan perangkat tersebut, proses perancangan produk dapat dilakukan secara digital sehingga perubahan desain, pemeriksaan dimensi, dan evaluasi bentuk dapat dikerjakan dengan lebih efektif dibandingkan metode gambar manual.
Sementara itu, CAM merupakan teknologi yang digunakan untuk membantu proses manufaktur melalui perangkat lunak komputer. Sistem ini mengolah data desain menjadi instruksi yang dapat digunakan untuk mengendalikan mesin produksi, termasuk mesin CNC (Computer Numerical Control). Melalui proses tersebut, rancangan digital dapat diterjemahkan menjadi jalur pergerakan alat potong, pengaturan kecepatan, serta parameter pemesinan yang sesuai dengan kebutuhan produksi.
Pengenalan CAD/CAM memberikan gambaran kepada siswa bahwa proses pembuatan produk di industri modern tidak berhenti pada tahap perancangan. Desain yang telah dibuat harus diterjemahkan menjadi program manufaktur yang tepat agar dapat diwujudkan menjadi produk fisik dengan ukuran dan bentuk sesuai spesifikasi.
Dalam penerapannya, CAD dan CAM merupakan dua sistem yang saling terintegrasi. Proses diawali dengan pembuatan desain produk menggunakan perangkat lunak CAD. Setelah desain selesai, data tersebut diteruskan ke perangkat lunak CAM untuk menentukan strategi pemesinan, jenis alat potong, jalur pergerakan pahat (toolpath), serta parameter produksi lainnya.
Selanjutnya, perangkat lunak CAM menghasilkan instruksi pemesinan, yang dalam banyak sistem berbentuk G-code. Program tersebut kemudian digunakan oleh mesin CNC untuk menjalankan proses pemotongan atau pembentukan material sesuai rancangan yang telah ditentukan. Dengan alur kerja ini, proses manufaktur dapat berlangsung secara lebih terencana, terukur, dan konsisten.
Bagi siswa Teknik Pemesinan, pemahaman terhadap alur kerja tersebut menjadi penting karena berkaitan langsung dengan kompetensi yang dibutuhkan di lingkungan industri. Siswa perlu memahami hubungan antara gambar teknik, pemodelan digital, pemrograman mesin, dan pelaksanaan proses pemesinan agar mampu melihat proses produksi sebagai satu kesatuan.
Penerapan CAD/CAM juga memberikan sejumlah keuntungan bagi industri. Teknologi ini dapat meningkatkan presisi dan akurasi produk, mempercepat proses perancangan hingga produksi, serta menjaga konsistensi hasil manufaktur. Selain itu, simulasi digital memungkinkan proses tertentu dievaluasi sebelum produksi dilaksanakan sehingga potensi kesalahan, pemborosan material, dan biaya pengerjaan ulang dapat ditekan.
Penggunaan teknologi tersebut dapat ditemukan di berbagai sektor, mulai dari industri otomotif dan penerbangan, pembuatan cetakan (mold and die), hingga bidang kedokteran gigi. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan CAD/CAM memiliki relevansi yang luas dan menjadi salah satu kompetensi penting dalam menghadapi perkembangan industri berbasis teknologi.
Ketua Jurusan Teknik Pemesinan SMKN Jateng di Semarang, Yulaikah, menyampaikan bahwa keterlibatan praktisi industri dalam pembelajaran memiliki peran penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Menurutnya, interaksi langsung dengan pelaku industri dapat membantu siswa memahami perkembangan teknologi dan tuntutan kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja.
“Menurut saya, kegiatan guru tamu dari industri sangat penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di SMK khususnya SMK N Jateng di Semarang. Melalui kegiatan ini, siswa dapat memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan wawasan langsung mengenai dunia kerja, perkembangan teknologi, budaya industri, serta standar kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan,” ujar Yulaikah.
Ia menjelaskan, bagi siswa Jurusan Teknik Pemesinan, kehadiran praktisi industri dapat memberikan gambaran nyata mengenai proses kerja yang akan mereka temui setelah menyelesaikan pendidikan. Pemahaman tersebut mencakup proses pemesinan, pengoperasian mesin CNC, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), kedisiplinan, hingga budaya kerja profesional.
“Bagi siswa Jurusan Teknik Pemesinan, guru tamu dari industri dapat memberikan pemahaman nyata tentang proses pemesinan, pengoperasian mesin CNC, penerapan K3, kedisiplinan, dan budaya kerja industri. Kegiatan ini juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa agar lebih siap menghadapi dunia kerja,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembelajaran vokasi tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan sikap kerja. Kemampuan beradaptasi, disiplin, memperhatikan keselamatan, serta memahami standar operasional merupakan aspek yang perlu dikembangkan sejak siswa masih berada di bangku sekolah.
Melalui kegiatan praktisi industri mengajar, siswa juga memperoleh kesempatan untuk menghubungkan materi pembelajaran di kelas dengan kebutuhan nyata di lingkungan kerja. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu siswa memahami alasan di balik setiap prosedur kerja, pentingnya ketelitian, serta tanggung jawab dalam menghasilkan produk yang memenuhi standar kualitas.
Lebih lanjut, Yulaikah berharap kegiatan guru tamu dapat diselenggarakan secara rutin dengan melibatkan praktisi dari bidang industri yang sesuai dengan kompetensi keahlian siswa. Menurutnya, kesinambungan kegiatan semacam ini penting untuk memperkuat hubungan antara sekolah dan dunia industri sekaligus menjaga relevansi materi pembelajaran dengan perkembangan teknologi.
“Saya berharap kegiatan guru tamu dapat dilaksanakan secara rutin dan melibatkan praktisi industri yang sesuai dengan kompetensi keahlian siswa, sehingga terjalin kerja sama yang berkelanjutan antara sekolah dan industri,” ungkapnya.
Harapan tersebut sejalan dengan kebutuhan pendidikan vokasi untuk terus menyesuaikan proses pembelajaran dengan perubahan teknologi dan standar kerja. Kolaborasi sekolah dengan industri menjadi salah satu langkah strategis untuk memperluas wawasan siswa, memperkuat kompetensi keahlian, serta membangun kesiapan menghadapi persaingan di dunia kerja.
Kegiatan Praktisi Industri Mengajar di SMKN Jateng di Semarang ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi pembelajaran siswa kelas XI Teknik Pemesinan, terutama dalam memahami penerapan CAD/CAM pada manufaktur modern. Pengetahuan mengenai desain digital, pemrograman manufaktur, dan mesin CNC menjadi bekal penting bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Dengan menghadirkan praktisi industri ke lingkungan sekolah, SMKN Jateng di Semarang terus mendorong pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik serta memperkuat sinergi antara pendidikan dan dunia kerja. Upaya ini diharapkan dapat mendukung lahirnya lulusan yang kompeten, disiplin, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan siap berkontribusi di sektor manufaktur.

Beri Komentar