Jumat, 16-10-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi, Ferry Nor Toha Ajak Jamaah Mengenali Penghalang Terkabulnya Doa

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi pada Jumat, 16 Oktober 2026, berlangsung dengan pesan keagamaan yang mengajak jamaah memperbaiki kualitas ibadah dan kehidupan sehari-hari. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam, Ferry Nor Toha menyampaikan khutbah tentang pentingnya berdoa kepada Allah Swt. serta berbagai hal yang dapat menjadi penghalang terkabulnya doa seorang muslim.

Dalam khutbahnya, Ferry mengingatkan bahwa doa bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan ketika seseorang menghadapi kesulitan. Doa merupakan wujud penghambaan, pengakuan atas keterbatasan manusia, dan bukti keyakinan bahwa Allah Swt. adalah tempat bergantung serta memohon pertolongan. Karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga hubungan dengan Allah melalui doa, ketaatan, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam.

Khutbah Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi tersebut juga mengajak jamaah untuk meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kesungguhan dalam berdoa perlu berjalan seiring dengan upaya memperbaiki diri, menjaga kehalalan rezeki, dan membangun hubungan baik dengan sesama manusia.

Khutbah Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi Tekankan Keutamaan Berdoa

Ferry Nor Toha membuka pembahasan dengan menjelaskan kedudukan doa dalam kehidupan seorang muslim. Doa menjadi sarana untuk menyampaikan harapan, memohon pertolongan, serta menyerahkan berbagai urusan kepada Allah SWT. Tidak ada persoalan yang terlalu besar untuk dimohonkan kepada-Nya, sebagaimana tidak ada kebutuhan yang terlalu kecil untuk disampaikan melalui doa.

Sebagai landasan, khatib mengutip firman Allah dalam Surah Ghafir ayat 60 yang berisi perintah untuk berdoa dan janji Allah untuk memperkenankan permohonan hamba-Nya. Ayat tersebut juga memberikan peringatan kepada orang-orang yang menyombongkan diri dan enggan beribadah kepada Allah.

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu,” demikian penggalan terjemahan firman Allah SWT. dalam Surah Ghafir ayat 60 yang disampaikan dalam khutbah tersebut.

Pesan ayat ini mengingatkan jamaah agar tidak merasa malu atau ragu untuk memohon kepada Allah, baik dalam urusan besar maupun kecil. Doa merupakan bagian dari ibadah yang menunjukkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa manusia membutuhkan pertolongan serta rahmat dari Sang Pencipta.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang merasa doanya belum mendapatkan jawaban sesuai harapan. Menanggapi hal tersebut, Ferry mengajak jamaah melakukan introspeksi dan memeriksa kembali perilaku, sumber penghasilan, serta hubungan sosial yang dijalani.

Mengutip pemikiran Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitab An-Nafaisul Uluwiyah fi Masailis Shufiyah, khatib menjelaskan sejumlah hal yang dapat menjadi penghalang terkabulnya doa, di antaranya mengonsumsi atau menggunakan sesuatu yang haram, berbuat zalim kepada sesama, lalai menjalankan perintah Allah, serta memutus tali silaturahmi.

Menjaga Rezeki Halal dan Menjauhi Kezaliman

Salah satu pesan utama dalam khutbah Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi adalah pentingnya menjaga kehalalan rezeki. Ferry menjelaskan bahwa kehalalan tidak hanya berkaitan dengan makanan dan minuman, tetapi juga sumber harta yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk pakaian dan tempat tinggal.

Dalam khutbahnya, ia mengutip hadis riwayat Imam Muslim tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, berpenampilan kusut dan berdebu, lalu mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Meskipun keadaan tersebut menggambarkan kesungguhan dalam memohon kepada Allah, hadis itu memberikan peringatan tentang pengaruh makanan, minuman, pakaian, dan penghasilan yang haram terhadap terkabulnya doa.

Hadis tersebut mengandung pelajaran bahwa kesungguhan berdoa perlu disertai usaha menjaga kehidupan tetap berada dalam batas-batas yang diridai Allah. Kehalalan rezeki menjadi bagian penting dari tanggung jawab seorang muslim dalam menjalani kehidupan.

Selain menjaga rezeki, jamaah juga diingatkan untuk menjauhi kezaliman. Menurut pesan khutbah tersebut, tindakan merugikan orang lain tidak hanya menimbulkan dampak sosial, tetapi juga mencerminkan perilaku yang perlu diperbaiki oleh setiap muslim. Menjaga hak orang lain, berlaku adil, dan menghindari permusuhan merupakan bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih baik.

Ferry juga mengingatkan pentingnya menjalankan perintah Allah dan tidak mengabaikan kewajiban agama. Seorang muslim hendaknya tidak hanya memperhatikan hubungan dengan Allah atau hablum minallah, tetapi juga menjaga hubungan dengan sesama manusia atau hablum minannas. Kedua hubungan tersebut perlu berjalan seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, khatib turut mengangkat pentingnya amar makruf nahi mungkar, yakni mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan serta ketentuan yang berlaku. Sikap tersebut perlu dimulai dari diri sendiri, kemudian diwujudkan melalui perilaku dan kontribusi positif di lingkungan sekitar.

Memelihara Silaturahmi dan Memperbaiki Kualitas Doa

Hal lain yang menjadi perhatian dalam khutbah Ferry Nor Toha adalah larangan berdoa untuk melakukan perbuatan dosa atau memutus tali silaturahmi. Doa seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan alat untuk memelihara kebencian, membalas dendam, atau mengharapkan keburukan bagi orang lain.

Ferry mengutip hadis riwayat At-Tirmidzi yang menjelaskan bahwa doa seorang hamba dapat menjadi jalan memperoleh apa yang diminta atau terhindar dari keburukan yang sepadan, selama permohonan tersebut tidak mengandung dosa maupun keinginan memutus hubungan kekerabatan.

Pesan ini mengajak jamaah untuk menjaga persaudaraan, memperbaiki hubungan yang renggang, dan tidak membiarkan persoalan pribadi berkembang menjadi permusuhan berkepanjangan. Dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat, silaturahmi merupakan bagian penting dari upaya membangun suasana yang harmonis dan saling mendukung.

Khutbah tersebut menegaskan bahwa kualitas doa berkaitan erat dengan kualitas kehidupan seseorang. Kesungguhan dalam bermunajat perlu disertai perilaku yang baik, ketaatan terhadap ajaran agama, serta kepedulian terhadap hak dan kepentingan orang lain.

Sholat Jumat Menjadi Momentum Introspeksi Diri

Melalui khutbah Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi, Ferry Nor Toha mengajak jamaah menjadikan ibadah Jumat sebagai momentum untuk memperkuat ketakwaan dan melakukan introspeksi. Pesan yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan tata cara berdoa, tetapi juga menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari kejujuran dalam mencari rezeki hingga tanggung jawab menjaga hubungan sosial.

Jamaah diharapkan dapat menerapkan pesan khutbah melalui langkah nyata, seperti memastikan sumber penghasilan tetap halal, menjauhi tindakan zalim, menjalankan kewajiban agama, serta menjaga silaturahmi dengan keluarga dan sesama muslim.

Pada akhir khutbah, harapan dipanjatkan agar Allah Swt. membersihkan hati, melapangkan jalan bagi terkabulnya doa, serta menjadikan umat Islam sebagai hamba yang taat, rendah hati, dan istiqamah dalam kebaikan.

Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi pada Jumat, 16 Oktober 2026, dengan demikian menjadi pengingat bahwa doa bukan hanya tentang menyampaikan keinginan, melainkan juga tentang membangun kedekatan dengan Allah dan memperbaiki kualitas diri. Dengan menjaga kehalalan rezeki, menjauhi kezaliman, menaati perintah-Nya, serta memelihara persaudaraan, setiap muslim diharapkan terus berikhtiar menjadi pribadi yang lebih baik dan senantiasa menaruh harapan kepada rahmat Allah SWT.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan