SEMARANG – SMKN Jateng di Semarang kembali memperkuat budaya belajar dan pengembangan kompetensi melalui kegiatan Berbagi Praktik Baik yang digelar pada Jumat, 16 Oktober 2026, di ruang Audio Visual Aid (AVA). Kegiatan ini menghadirkan dua tenaga kesehatan sekolah, Wahyudi Prabowo, A.Md.Kep., dan Widhi Aristyawan, yang membagikan pengalaman serta pemahaman tentang pentingnya nilai adaptif dan kolaboratif dalam memberikan pelayanan yang berkualitas. Acara tersebut diikuti oleh guru, karyawan, serta mahasiswa LANTIP 8 Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Kegiatan Berbagi Praktik Baik ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk memperkuat penerapan nilai-nilai profesional dalam lingkungan kerja sekolah. Melalui pengalaman di bidang kesehatan dan pelayanan publik, peserta diajak memahami bahwa kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan serta membangun kerja sama lintas peran merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan produktif.
Materi pertama disampaikan oleh Widhi Aristyawan yang mengangkat pentingnya nilai kolaboratif dalam dunia kerja. Ia menyoroti bahwa dinamika tugas dalam organisasi menuntut setiap individu untuk mampu bekerja bersama, menghindari ego sektoral, dan mencegah tumpang tindih tanggung jawab antarindividu maupun antarbagian.
Semangat kolaborasi memberikan manfaat nyata bagi organisasi. Kerja sama memungkinkan proses pengambilan keputusan menjadi lebih komprehensif karena mempertimbangkan beragam sudut pandang. Selain itu, kolaborasi membuka ruang bagi munculnya inovasi, memperkuat komunikasi, dan membantu organisasi menyelesaikan persoalan secara lebih efektif.
Dalam konteks pelayanan publik, Widhi menekankan bahwa berbagai persoalan tidak dapat diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan sinergi antarpihak agar pelayanan dapat berjalan optimal, efisien, dan sesuai kebutuhan masyarakat. Setiap individu perlu memahami perannya sekaligus menyadari bahwa keberhasilan organisasi merupakan hasil kontribusi bersama.
“Kolaborasi bukan sekadar membagi pekerjaan, melainkan menyatukan peran, gagasan, dan tanggung jawab untuk menghasilkan pelayanan publik yang berkualitas, efisien, dan berintegritas,” demikian rumusan pesan utama materi Widhi yang perlu dikonfirmasi sebagai kutipan langsung sebelum diterbitkan.
Lebih jauh, budaya kerja kolaboratif dinilai mampu menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif. Komunikasi yang terbuka, pembagian tugas yang jelas, serta kesediaan untuk saling mendukung dapat mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan kualitas hasil kerja. Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), nilai kolaboratif bukan hanya tuntutan organisasi, melainkan kebutuhan mendasar untuk membangun profesionalisme dan integritas dalam menjalankan tugas pelayanan.
Dalam pemaparannya, Wahyudi Prabowo, A.Md.Kep., menjelaskan pentingnya nilai adaptif dan kolaboratif bagi tenaga kesehatan di lingkungan sekolah. Menurut materi yang disampaikan, tantangan kesehatan peserta didik terus berkembang sehingga petugas kesehatan perlu mampu menyesuaikan diri, meningkatkan kompetensi, dan membangun koordinasi dengan berbagai pihak.
Nilai adaptif dimaknai sebagai kemampuan untuk siap berubah, bertindak proaktif, terbuka terhadap masukan, memanfaatkan teknologi, serta terus belajar demi meningkatkan mutu pelayanan. Dalam praktik sehari-hari, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui penyesuaian alur layanan ketika jumlah siswa yang membutuhkan pertolongan meningkat, pengelolaan catatan kesehatan secara teratur, serta pembaruan materi edukasi sesuai kebutuhan dan isu kesehatan terkini.
Wahyudi juga menekankan bahwa pelayanan kesehatan di sekolah tidak dapat dilakukan secara terpisah dari peran warga sekolah lainnya. Kerja sama dengan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, puskesmas, dan fasilitas kesehatan terkait diperlukan agar penanganan masalah kesehatan dapat berlangsung secara terkoordinasi. Apabila kondisi siswa membutuhkan penanganan lebih lanjut, petugas kesehatan perlu melakukan rujukan sesuai prosedur yang berlaku.
“Pelayanan kesehatan sekolah harus adaptif terhadap perubahan kebutuhan peserta didik dan kolaboratif dengan seluruh pihak terkait agar penanganan berjalan cepat, tepat, dan aman,” demikian rumusan pesan utama dari materi yang disampaikan Wahyudi. Kutipan ini merangkum substansi paparannya dan perlu dikonfirmasi kepada narasumber sebelum digunakan sebagai kutipan langsung dalam berita resmi.
Untuk memperjelas penerapannya, Wahyudi menguraikan sejumlah situasi yang dapat dijumpai dalam pelayanan kesehatan sekolah. Ketika seorang siswa pingsan, misalnya, tenaga kesehatan perlu segera melakukan penilaian awal dan memberikan pertolongan pertama sesuai kompetensi serta prosedur. Pada saat yang sama, koordinasi dengan petugas terkait, penanggung jawab sekolah, dan fasilitas kesehatan perlu dilakukan apabila kondisi siswa membutuhkan penanganan lanjutan.
Dalam situasi meningkatnya keluhan sakit di kalangan siswa, petugas kesehatan perlu mencatat pola keluhan, mengidentifikasi kebutuhan edukasi pencegahan, serta berkoordinasi dengan pihak sekolah, orang tua, dan puskesmas. Langkah tersebut membantu sekolah mengambil tindakan yang lebih terarah berdasarkan informasi yang tersedia.
Penerapan nilai adaptif dan kolaboratif juga penting dalam program edukasi kesehatan. Metode penyampaian informasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, sementara perencanaan kegiatan dapat melibatkan guru, organisasi siswa, dan mitra kesehatan. Dalam tindak lanjut kondisi siswa, komunikasi harus dilakukan secara proporsional dengan tetap menjaga kerahasiaan informasi kesehatan dan menghormati privasi peserta didik.
Melalui berbagai contoh tersebut, peserta diajak memahami bahwa pelayanan kesehatan yang baik bukan hanya bergantung pada kemampuan teknis petugas, tetapi juga pada kecepatan merespons situasi, ketepatan mengambil tindakan, serta kualitas koordinasi dengan pihak lain.
Kegiatan Berbagi Praktik Baik SMKN Jateng di Semarang ini menegaskan bahwa nilai adaptif dan kolaboratif saling melengkapi dalam membangun pelayanan yang responsif dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. Kemampuan beradaptasi membantu individu menghadapi perubahan, sedangkan kolaborasi memastikan setiap langkah didukung komunikasi dan kerja sama yang tepat.
Bagi guru, karyawan, dan mahasiswa LANTIP 8 Unnes yang mengikuti kegiatan, materi tersebut menjadi pengingat bahwa budaya kerja profesional tumbuh melalui kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap perubahan, serta menghargai kontribusi setiap anggota organisasi.
Melalui kegiatan berbagi pengalaman seperti ini, SMKN Jateng di Semarang terus mendorong penguatan kompetensi dan budaya kerja yang positif di lingkungan sekolah. Nilai adaptif dan kolaboratif diharapkan tidak berhenti sebagai pemahaman dalam forum diskusi, tetapi diterapkan secara konsisten dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Pada akhirnya, pelayanan yang berkualitas lahir dari perpaduan kompetensi, kepedulian, dan kerja sama. Dengan terus mengembangkan sikap siap berubah dan semangat maju bersama, seluruh warga sekolah dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih sehat, profesional, dan produktif.

Beri Komentar