SEMARANG – SMKN Jateng di Semarang terus memperkuat kompetensi siswa melalui program pembelajaran yang melibatkan praktisi dari perguruan tinggi dan dunia kerja. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Praktisi Industri Mengajar di SMKN Jateng di Semarang yang dilaksanakan pada Senin, 19 Oktober 2026, pukul 08.00–15.30 WIB. Kegiatan ini menghadirkan Toni Wijanarko Adi Putra, M.Kom., dari Universitas Sains dan Teknologi Komputer (Universitas STEKOM) sebagai narasumber untuk memberikan pembelajaran tentang simulasi pemrograman mikrokontroler Arduino menggunakan platform Wokwi serta penggunaan sensor transduser kepada siswa kelas XI Teknik Elektronika Industri (TEI).
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya sekolah dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi elektronika, sistem kendali, dan otomasi industri. Melalui keterlibatan praktisi, siswa diharapkan memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai penerapan teknologi di luar lingkungan sekolah sekaligus memahami keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan dunia kerja.
Materi yang disampaikan berfokus pada pemanfaatan teknologi simulasi elektronik dan pemahaman sensor sebagai bagian penting dalam sistem berbasis mikrokontroler. Kedua materi tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kompetensi Teknik Elektronika Industri, terutama dalam pengembangan sistem kendali, pemantauan kondisi lingkungan, dan penerapan teknologi Internet of Things (IoT).
Dalam pembelajaran tersebut, siswa kelas XI TEI diperkenalkan dengan Wokwi, sebuah platform simulasi elektronik dan IoT berbasis web yang memungkinkan pengguna merancang rangkaian elektronik, menulis program, dan menguji cara kerja sistem secara virtual melalui peramban internet.
Melalui platform ini, pembelajaran pemrograman mikrokontroler Arduino dapat dilakukan tanpa harus selalu menggunakan perangkat keras fisik. Siswa dapat memilih berbagai komponen elektronik yang tersedia, menyusun rangkaian secara virtual, menuliskan kode program, kemudian menjalankan simulasi untuk mengamati respons sistem secara langsung.
Penggunaan Wokwi memberikan sejumlah keuntungan dalam proses pembelajaran. Selain membantu menghemat biaya pengadaan komponen untuk tahap awal latihan, platform ini juga mengurangi risiko kerusakan perangkat akibat kesalahan penyambungan kabel atau kekeliruan dalam perancangan rangkaian. Siswa dapat mencoba berbagai konfigurasi dan memperbaiki kesalahan program dengan lebih leluasa sebelum menerapkannya pada perangkat elektronik yang sebenarnya.
Wokwi juga mendukung beragam komponen interaktif, seperti LED, tombol, keypad, layar LCD, motor servo, dan berbagai jenis sensor. Fitur tersebut memungkinkan siswa mempelajari hubungan antara program, rangkaian elektronik, dan respons keluaran melalui simulasi yang mudah diamati.
Dalam alur pembelajarannya, siswa dapat memilih komponen dari pustaka Wokwi, menyusun sambungan antarkomponen, kemudian menulis kode program untuk mengatur perilaku rangkaian. Setelah simulasi dijalankan, hasilnya dapat diamati melalui indikator visual atau Serial Monitor. Pendekatan ini membantu siswa memahami proses kerja sistem secara bertahap, mulai dari penyusunan rangkaian hingga pengujian program.
Melalui pengenalan simulasi Arduino menggunakan Wokwi, pembelajaran elektronika menjadi lebih interaktif. Siswa tidak hanya mempelajari konsep pemrograman secara teoretis, tetapi juga dapat mengamati bagaimana perubahan kode atau konfigurasi rangkaian memengaruhi hasil kerja sistem.
Selain simulasi pemrograman mikrokontroler, materi kegiatan Praktisi Industri Mengajar di SMKN Jateng di Semarang juga mencakup penggunaan sensor transduser. Materi ini penting karena sensor merupakan salah satu komponen utama dalam sistem elektronika dan otomasi yang berfungsi mendeteksi perubahan kondisi fisik di lingkungan sekitar.
Secara umum, transduser adalah perangkat yang mengubah satu bentuk energi menjadi bentuk energi lainnya. Dalam sistem berbasis mikrokontroler, sensor berperan sebagai perangkat masukan yang mengubah besaran fisik, seperti suhu, cahaya, tekanan, suara, atau jarak, menjadi sinyal yang dapat diolah oleh rangkaian elektronik.
Sebagai contoh, sensor suhu LM35 dapat mengubah perubahan suhu menjadi sinyal tegangan listrik. Sementara itu, LDR digunakan untuk mendeteksi intensitas cahaya melalui perubahan resistansi. Mikrofon dapat mengubah gelombang suara menjadi sinyal listrik, sedangkan sensor ultrasonik seperti HC-SR04 memanfaatkan gelombang suara untuk membantu mengukur jarak suatu objek.
Pemahaman mengenai karakteristik sensor diperlukan agar siswa dapat menentukan jenis sensor yang sesuai dengan kebutuhan sistem. Siswa juga perlu memahami bagaimana sinyal keluaran sensor dibaca oleh mikrokontroler melalui masukan analog atau digital, bergantung pada karakteristik sensor dan rangkaian yang digunakan.
Dalam penerapan simulasi menggunakan Wokwi, sejumlah sensor dapat diuji secara virtual dengan mengubah parameter masukan yang tersedia. Perubahan tersebut akan memengaruhi nilai sinyal yang diterima oleh Arduino sehingga siswa dapat mengamati respons program terhadap kondisi yang berbeda.
Sebagai ilustrasi, perubahan nilai suhu pada sensor yang disimulasikan dapat digunakan untuk menguji program yang mengendalikan indikator atau menampilkan informasi pada layar. Melalui proses tersebut, siswa dapat mempelajari hubungan antara besaran fisik, sinyal sensor, pemrosesan data oleh mikrokontroler, dan keluaran sistem.
Penggabungan simulasi Wokwi dengan pemahaman sensor transduser memberikan dasar bagi siswa untuk mengembangkan berbagai proyek elektronika. Pengetahuan ini juga relevan dengan sistem pemantauan suhu, pengendalian pencahayaan otomatis, pengukuran jarak, serta berbagai aplikasi otomasi dan IoT yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun lingkungan industri.
Ketua Jurusan Teknik Elektronika Industri (TEI) SMKN Jateng di Semarang, Pandu Fatoni, menilai program guru tamu dari dunia usaha dan dunia industri (DUDI) maupun praktisi terkait merupakan langkah positif untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Kegiatan tersebut dinilai mampu memperkuat hubungan antara pembelajaran di sekolah dan kebutuhan nyata di dunia kerja.
“Menurut saya, program guru tamu dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang memberikan pembelajaran secara langsung kepada siswa SMK, khususnya pada jurusan Teknik Elektronika Industri, merupakan salah satu langkah positif dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Program ini menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri, sehingga kompetensi yang dimiliki siswa dapat selaras dengan kebutuhan dunia kerja,” ujar Pandu Fatoni.
Menurutnya, keterlibatan praktisi dalam kegiatan pembelajaran dapat memberikan wawasan baru kepada siswa mengenai perkembangan teknologi elektronika industri, sistem otomasi, penggunaan peralatan, dan penerapan sistem kendali. Selain itu, siswa dapat memperoleh gambaran mengenai tantangan serta tanggung jawab yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki dunia kerja.
“Melalui kegiatan guru tamu, siswa mendapatkan wawasan dan pengalaman baru mengenai perkembangan teknologi elektronika industri, sistem otomasi, penggunaan peralatan industri, sistem kendali, serta penerapan budaya kerja di lingkungan industri. Materi yang disampaikan oleh praktisi industri juga memberikan gambaran nyata kepada siswa tentang tantangan, keterampilan, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja,” lanjutnya.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa pendidikan vokasi tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan teknis, tetapi juga pada pembentukan sikap profesional. Ketelitian, kedisiplinan, kemampuan memecahkan masalah, dan kemauan untuk terus belajar merupakan bekal penting bagi siswa dalam menghadapi perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Melalui pembelajaran bersama Toni Wijanarko Adi Putra, M.Kom., siswa kelas XI TEI diharapkan semakin memahami pentingnya menguasai dasar pemrograman mikrokontroler dan penggunaan sensor. Kompetensi tersebut dapat menjadi landasan untuk mempelajari sistem kendali yang lebih kompleks serta mengembangkan solusi elektronika sesuai kebutuhan.
Pelaksanaan kegiatan Praktisi Industri Mengajar di SMKN Jateng di Semarang pada 19 Oktober 2026 menjadi bagian dari upaya memperkaya pengalaman belajar siswa melalui pengenalan teknologi yang relevan dengan kompetensi keahlian mereka. Pemanfaatan Wokwi sebagai media simulasi dan pengenalan sensor transduser memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami konsep elektronika melalui pendekatan yang lebih aplikatif.
Kolaborasi dengan praktisi dari Universitas STEKOM juga membuka ruang bagi siswa untuk memperluas perspektif mengenai pemanfaatan mikrokontroler dalam berbagai bidang. Pemahaman yang diperoleh diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran berikutnya, baik dalam kegiatan praktik, pengerjaan proyek, maupun pengembangan kompetensi sesuai bidang Teknik Elektronika Industri.
Dengan terus menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan teori dan penerapan teknologi, SMKN Jateng di Semarang berupaya mempersiapkan siswa agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar, memperkuat pemahaman teknologi elektronika, serta menumbuhkan kesiapan siswa untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri berbasis digital.

Beri Komentar