SEMARANG — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Baitul Ilmi, SMK Negeri Jawa Tengah di Semarang, Jumat (21/8/2026). Guru, karyawan, dan siswa mengikuti pelaksanaan Sholat Jumat yang dimulai sekitar pukul 12.00 WIB hingga selesai. Dalam khutbahnya, khatib Zainal Arifin, S.Pd.I., mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan sifat dan akhlak Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan Sholat Jumat tersebut menjadi salah satu momentum bagi warga SMKN Jateng untuk memperkuat keimanan sekaligus merefleksikan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan di lingkungan sekolah. Tidak hanya menekankan aspek ibadah, khutbah Jumat juga mengajak jamaah untuk menerapkan keteladanan Rasulullah SAW dalam bekerja, belajar, bermasyarakat, serta berinteraksi dengan sesama.
Mengawali khutbahnya, Zainal Arifin mengajak jamaah untuk senantiasa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan. Menurutnya, kesempatan untuk melaksanakan ibadah Sholat Jumat merupakan bentuk pemenuhan panggilan Allah SWT sekaligus kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan.
“Wasiat taqwa senantiasa menjadi bekal utama kita. Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, hanya dengan taqwalah kita akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT,” ujar Zainal dalam khutbahnya.
Dalam khutbah tersebut, Zainal mengangkat tema “Meneladani Sifat dan Akhlak Rasulullah SAW”. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan sosok teladan terbaik atau Uswatun Hasanah bagi umat Islam. Keteladanan tersebut menjadi pedoman penting bagi umat dalam menjalani kehidupan, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dalam hubungan dengan sesama manusia.
Zainal mengingatkan jamaah mengenai firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 21 yang menjelaskan bahwa pada diri Rasulullah SAW terdapat suri teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah, hari akhir, dan banyak mengingat Allah.
Menurut dia, ayat tersebut menjadi landasan penting bagi umat Islam untuk menempatkan Rasulullah SAW sebagai contoh dalam perilaku sehari-hari. Ia juga mengutip penjelasan Ibnu Katsir yang menempatkan ayat tersebut sebagai kaidah penting dalam meneladani Rasulullah SAW.
“Siapa pun yang menginginkan keselamatan di dunia dan akhirat, maka jalan utamanya adalah mengikuti jejak langkah, perkataan, dan akhlak beliau,” kata Zainal.
Lebih lanjut, khatib menjelaskan bahwa keteladanan Rasulullah SAW tercermin dalam seluruh perilakunya. Hal tersebut sebagaimana keterangan Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab, “Kāna khuluquhul Qur’ān,” yang berarti akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an.
Zainal menjelaskan, ungkapan tersebut menunjukkan bahwa perilaku Rasulullah SAW merupakan manifestasi dari nilai-nilai Al-Qur’an. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi harus diterjemahkan dalam tindakan nyata.
Salah satu sifat Rasulullah yang ditekankan dalam khutbah adalah shiddiq atau jujur dan amanah atau dapat dipercaya. Kedua sifat tersebut dinilai semakin penting untuk diterapkan di tengah perkembangan teknologi dan era digital yang diwarnai derasnya arus informasi.
Zainal mengingatkan bahwa masyarakat saat ini menghadapi berbagai persoalan seperti hoaks, fitnah, dan penipuan. Karena itu, kejujuran harus menjadi prinsip dalam setiap aktivitas, termasuk ketika seseorang bekerja, berkomunikasi melalui media sosial, maupun melakukan hubungan sosial dan ekonomi dengan orang lain.
“Rasulullah ﷺ dikenal sebagai Al-Amin bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Dalam berdagang beliau tidak menipu, dalam berbicara beliau tidak berdusta, dan dalam berjanji beliau menepatinya,” tuturnya.
Ia kemudian mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi dan menilai sejauh mana nilai kejujuran dan amanah telah diterapkan dalam kehidupan masing-masing. Menurutnya, keteladanan Rasulullah harus terlihat dalam tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Selain kejujuran dan amanah, jamaah juga diajak meneladani sifat rahman dan rahim, yakni kasih sayang. Rasulullah SAW digambarkan sebagai sosok yang memiliki kepedulian besar terhadap anak yatim, fakir miskin, keluarga, tetangga, dan masyarakat luas.
Zainal mengingatkan kisah Rasulullah SAW ketika menghadapi perlakuan buruk dari penduduk Tha’if. Meski mendapatkan perlakuan yang menyakitkan, Rasulullah tidak membalas dengan doa kebinasaan. Sebaliknya, beliau menunjukkan kasih sayang dan berharap agar generasi setelah mereka memperoleh hidayah dan menyembah Allah SWT.
“Dalam rumah tangga, beliau adalah sosok suami yang paling lembut. Beliau bersabda, ‘Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku,’” ujar Zainal.
Pesan tersebut dinilai relevan untuk diterapkan oleh seluruh jamaah, baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam kehidupan sosial. Kasih sayang, kelembutan, dan kepedulian terhadap orang lain menjadi bagian penting dari akhlak yang harus dibangun dalam kehidupan sehari-hari.
Sifat ketiga yang disampaikan dalam khutbah adalah tawadhu atau rendah hati. Zainal menjelaskan bahwa meskipun Rasulullah SAW merupakan utusan Allah, pemimpin negara, dan panglima perang, beliau tetap menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan dan tidak menunjukkan kesombongan.
Rasulullah SAW, kata Zainal, dikenal tidak segan melakukan pekerjaan untuk dirinya sendiri, termasuk menambal sandal dan menjahit pakaian. Beliau juga bergaul bersama para sahabat tanpa menciptakan sekat yang menunjukkan dirinya lebih tinggi daripada orang lain.
“Di zaman di mana banyak orang berlomba-lomba pamer kemewahan dan merasa lebih hebat dari orang lain, sifat tawadhu Rasulullah adalah obat yang paling mujarab bagi penyakit hati kita,” katanya.
Di hadapan jamaah Sholat Jumat, Zainal menegaskan bahwa meneladani Rasulullah SAW bukan sekadar bentuk kecintaan yang disampaikan melalui lisan. Keteladanan harus diwujudkan melalui perbuatan, mulai dari memperbaiki ibadah, cara mencari rezeki, hingga cara berinteraksi dan bermasyarakat.
Ia mengajak jamaah untuk memperbaiki kualitas shalat sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW, mencari rezeki dengan cara yang halal dan thayyib, serta membangun hubungan sosial dengan hikmah dan kelembutan.
“Cinta kita kepada beliau harus dibuktikan dengan menghidupkan sunnahnya, baik sunnah dalam ibadah mahdhah maupun sunnah dalam muamalah dan akhlak sehari-hari,” tegasnya.
Pesan tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh warga SMKN Jateng, baik guru, karyawan maupun siswa, untuk menjadikan akhlak sebagai bagian penting dalam kehidupan di lingkungan sekolah. Kejujuran, amanah, kasih sayang, dan rendah hati merupakan nilai yang dapat diterapkan dalam proses belajar, bekerja, berorganisasi, maupun membangun hubungan dengan sesama.
Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi pun tidak hanya menjadi rutinitas ibadah mingguan, tetapi juga menjadi ruang pembinaan karakter bagi warga sekolah. Melalui pesan keagamaan yang disampaikan dalam khutbah, jamaah diajak menghubungkan nilai-nilai agama dengan persoalan dan tantangan kehidupan sehari-hari.
Mengakhiri khutbahnya, Zainal mengajak seluruh jamaah untuk memohon taufik dan hidayah Allah SWT agar mampu menghidupkan sunnah serta meneladani akhlak Rasulullah SAW secara konsisten.
“Semoga Allah SWT memberikan kita taufik dan hidayah untuk mampu menghidupkan sunnah dan meneladani akhlak Rasulullah SAW, serta mengumpulkan kita bersama beliau di telaga Al-Kautsar pada hari kiamat kelak. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin,” pungkas Zainal.
Dengan pesan tersebut, rangkaian Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang berlangsung dalam suasana khidmat. Khutbah tentang keteladanan Rasulullah SAW menjadi pengingat bahwa pembentukan pribadi yang berkarakter tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kejujuran, amanah, kasih sayang, kerendahan hati, serta kemauan untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan nyata.

Beri Komentar