Sabtu, 29-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng, Munjawir Ajak Jamaah Meneladani Akhlak Rasulullah

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang, Jumat, 28 Agustus 2026, berlangsung mulai pukul 12.00 WIB. Dalam khutbahnya, khatib sekaligus imam, Munjawir, mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada pengakuan cinta kepada Rasulullah SAW, tetapi membuktikannya melalui akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Mengangkat tema keteladanan Rasulullah SAW, Munjawir mengawali khutbah dengan mengajak jamaah melakukan refleksi terhadap hubungan seorang Muslim dengan Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, bershalawat dan mengaku mencintai Rasulullah harus diikuti dengan upaya sungguh-sungguh untuk menjadikan akhlak beliau sebagai pedoman dalam kehidupan.

“Pada kesempatan yang mulia ini, khatib ingin mengajak kita semua untuk merenungkan kembali posisi kita terhadap Rasulullah SAW. Kita mengaku cinta kepada beliau, kita bershalawat kepadanya, namun pertanyaannya: Sudahkah akhlaq dan perilaku kita mencerminkan akhlaq beliau?” ujar Munjawir dalam khutbahnya.

Ia kemudian mengingatkan jamaah bahwa Allah SWT telah memberikan standar keteladanan yang sempurna melalui pribadi Rasulullah SAW. Landasan tersebut terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 21 yang menegaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat uswatun hasanah, atau teladan yang baik, bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah, hari akhir, dan senantiasa mengingat Allah.

Menurut Munjawir, ayat tersebut menjadi salah satu pondasi penting dalam membangun karakter seorang Muslim. Istilah uswatun hasanah tidak sekadar bermakna mengetahui perjalanan hidup Rasulullah atau mengungkapkan kecintaan kepada beliau secara lisan. Lebih jauh, umat Islam diperintahkan untuk meniru, meneladani, dan mengikuti nilai-nilai kehidupan Rasulullah dalam berbagai aspek kehidupan.

“Allah tidak hanya menyuruh kita untuk mengetahui sejarah Nabi, atau mencintai Nabi secara lisan saja, tetapi Allah memerintahkan kita untuk meniru, meneladani, dan mengikuti jejak langkah beliau dalam setiap aspek kehidupan,” kata Munjawir.

Dalam khutbah tersebut, ia menjelaskan sejumlah alasan mengapa akhlak Rasulullah SAW harus menjadi teladan umat Islam. Salah satunya karena Rasulullah merupakan gambaran nyata dari nilai-nilai Al-Qur’an yang diterapkan dalam kehidupan. Hal itu tercermin dari jawaban Aisyah RA ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah. Aisyah menggambarkan bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an.

Menurut Munjawir, kehidupan Rasulullah memberikan contoh konkret tentang bagaimana ajaran Islam diterapkan dalam hubungan dengan keluarga, tetangga, masyarakat, bahkan dengan orang-orang yang memusuhinya. Karena itu, memahami Islam secara utuh tidak cukup hanya melalui pengetahuan, tetapi juga melalui praktik akhlak sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

“Jika kita ingin memahami Islam secara utuh dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, kita harus melihat bagaimana Rasulullah berinteraksi dengan istrinya, dengan tetangganya, dengan musuhnya, dan dengan Allah SWT,” tuturnya.

Ia juga mengaitkan keteladanan Rasulullah dengan upaya seorang Muslim memperoleh cinta Allah SWT. Dalam Surah Ali Imran ayat 31, Allah SWT memberikan penegasan bahwa kecintaan kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah SAW. Dengan demikian, mengikuti ajaran dan akhlak Nabi menjadi bagian penting dari perjalanan seorang Muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Munjawir mengingatkan bahwa kesadaran terhadap kehidupan akhirat juga seharusnya mendorong seseorang untuk memperbaiki akhlaknya. Kesadaran bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah membuat seorang Muslim perlu berhati-hati dalam perkataan maupun perbuatannya.

Ia mencontohkan kejujuran Rasulullah SAW yang telah melekat bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Gelar Al-Amin atau orang yang terpercaya menjadi bukti bahwa kejujuran merupakan karakter yang harus melekat dalam diri seorang Muslim.

“Apakah kita jujur dalam berbisnis? Jujur dalam berkata? Jujur dalam bermedia sosial? Atau kita mudah berbohong demi keuntungan sesaat?” kata Munjawir, mengajak jamaah melakukan evaluasi terhadap perilaku masing-masing.

Menurutnya, tantangan menerapkan kejujuran pada masa sekarang semakin luas. Kejujuran tidak hanya diuji dalam transaksi ekonomi atau percakapan langsung, tetapi juga dalam penggunaan media sosial. Informasi yang disampaikan kepada orang lain harus dipastikan kebenarannya agar tidak menimbulkan kerugian maupun fitnah.

Selain kejujuran, Munjawir mengajak jamaah meneladani kesabaran dan sifat pemaaf Rasulullah SAW. Salah satu contoh yang disampaikan adalah sikap Nabi ketika memasuki Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah. Dalam kondisi telah memperoleh kemenangan, Rasulullah justru menunjukkan sikap pemaaf terhadap orang-orang yang sebelumnya melakukan berbagai tindakan menyakitkan kepada beliau dan para pengikutnya.

“Pergilah, kalian bebas,” demikian pesan pemaafan Rasulullah yang disampaikan kembali dalam khutbah tersebut.

Kisah itu, menurut Munjawir, menjadi bahan perenungan bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Ia mengajak jamaah bertanya kepada diri sendiri apakah sudah mampu memaafkan kesalahan orang lain atau masih menyimpan dendam.

Keteladanan Rasulullah juga dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga. Munjawir menyampaikan bahwa Rasulullah SAW merupakan sosok yang lembut terhadap keluarganya. Beliau membantu pekerjaan rumah, bercanda bersama istri, serta tidak melakukan kekerasan fisik.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keteladanan Rasulullah tidak hanya berlaku dalam kehidupan sosial dan keagamaan, tetapi juga dalam hubungan paling dekat, yakni keluarga. Kelembutan, penghargaan, kasih sayang, dan sikap saling membantu merupakan nilai yang perlu dihadirkan dalam kehidupan rumah tangga.

Aspek kepedulian sosial juga menjadi bagian penting dalam khutbah. Munjawir mengingatkan bahwa Rasulullah SAW merupakan sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap anak yatim dan masyarakat miskin. Meskipun hidup sederhana, Rasulullah senantiasa mendorong umatnya untuk berbagi dan memperhatikan orang-orang yang membutuhkan.

Bagi jamaah di lingkungan SMKN Jateng di Semarang, pesan tersebut juga relevan dengan pembentukan karakter dalam kehidupan pendidikan. Nilai kejujuran, amanah, kepedulian, kesabaran, kedisiplinan, dan kelembutan merupakan karakter yang dapat diterapkan dalam interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Munjawir menegaskan bahwa meneladani Rasulullah tidak berarti sekadar meniru aspek lahiriah kehidupan beliau. Hal yang lebih utama adalah mengambil substansi nilai yang terkandung dalam keteladanan tersebut dan menerapkannya sesuai konteks kehidupan masa kini.

“Meneladani Rasulullah bukan berarti kita harus berpakaian persis sama atau hidup di gua seperti beliau di masa lalu, tetapi kita harus mengambil substansi nilai kehidupan beliau,” tegasnya.

Ia kemudian merangkum pesan khutbah dengan sejumlah prinsip sederhana tetapi mendasar. Seorang Muslim dituntut untuk tetap jujur meskipun berada di tengah lingkungan yang tidak jujur, amanah ketika menghadapi orang yang berkhianat, lembut ketika berhadapan dengan kekasaran, serta dermawan ketika berada di tengah masyarakat yang memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri.

“Jujur di tengah masyarakat yang korup. Amanah di tengah masyarakat yang khianat. Lemah lembut di tengah masyarakat yang kasar. Dermawan di tengah masyarakat yang kikir. Itulah makna Uswatun Hasanah,” ujar Munjawir.

Khutbah Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang tersebut menjadi momentum untuk menguatkan kembali pendidikan karakter melalui nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW. Pesan yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menyentuh hubungan dengan keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat.

Melalui keteladanan Rasulullah, jamaah diajak memahami bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Shalawat dan penghormatan kepada Rasulullah menjadi semakin bermakna ketika diikuti dengan perubahan perilaku menuju pribadi yang lebih jujur, amanah, sabar, pemaaf, lembut, dan peduli terhadap sesama.

Dengan demikian, peringatan dan penghayatan terhadap keteladanan Rasulullah tidak berhenti pada pengetahuan tentang sejarah beliau. Nilai uswatun hasanah justru menemukan maknanya ketika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pendidikan, keluarga, tempat kerja, dan masyarakat.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan