Minggu, 30-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

EduMind Wellbeing & AI Camp Hari Ketiga, Orang Tua Diajak Jadi “Kompas Digital” bagi Anak di Era AI

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Rangkaian EduMind Wellbeing & AI Camp memasuki hari ketiga dengan fokus pada penguatan peran orang tua dalam mendampingi anak menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan dunia digital. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan WhatsApp tersebut berlangsung Jumat, 28 Agustus 2026, mulai pukul 08.00 hingga 15.30 WIB dan wajib diikuti seluruh peserta serta orang tua siswa yang telah mengikuti rangkaian kegiatan pada hari pertama dan kedua.

Hari ketiga kegiatan dirancang untuk memperluas pemahaman orang tua mengenai tantangan yang dihadapi anak di tengah perkembangan teknologi digital. Selain membahas peran orang tua dan langkah intervensi untuk mendeteksi bullying sejak dini, kegiatan juga diisi dengan sesi presentasi karya terbaik dari masing-masing sekolah sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran dan refleksi peserta.

Founder dan CEO Educourse, Mutiara Hikma M, BBA, MBA, menjadi pemateri dalam sesi Parental Role yang membahas peran strategis orang tua dalam mendampingi anak di era AI. Materi diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa perkembangan teknologi tidak mungkin dihadapi hanya dengan larangan, tetapi membutuhkan pemahaman, komunikasi, aturan, serta pendampingan yang konsisten di dalam keluarga.

Mengawali pemaparannya, Mutiara mengajak orang tua melihat kembali perjalanan anak-anak mereka dalam menghadapi perubahan teknologi. Salah satu pertanyaan yang disampaikan menjadi pemantik refleksi bagi peserta, “AI sudah ada di kamar tidur mereka — kita sadar?”

Pertanyaan tersebut menggambarkan semakin dekatnya teknologi AI dengan kehidupan sehari-hari anak. AI tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya ditemui di lingkungan profesional atau dunia teknologi, tetapi telah hadir dalam berbagai perangkat dan aplikasi yang digunakan anak untuk belajar, berkomunikasi, mencari hiburan, hingga membangun interaksi sosial.

Melalui materi bertajuk “Memahami AI Tanpa Panik”, orang tua diajak mengenali cara kerja, peluang, sekaligus risiko AI tanpa harus memiliki pemahaman teknis yang rumit. AI diperkenalkan sebagai alat yang dapat membantu anak belajar, mencari informasi, mengembangkan kreativitas, menerjemahkan bahasa, hingga mendukung berbagai aktivitas akademik.

Namun, di balik manfaat tersebut terdapat risiko yang perlu menjadi perhatian orang tua. Materi yang disampaikan mencakup potensi munculnya informasi keliru atau misinformation, konten yang tidak sesuai usia, ketergantungan terhadap teknologi, kebocoran privasi, hingga kemungkinan terbentuknya keterikatan emosional yang tidak sehat dengan karakter atau layanan berbasis AI.

Karena itu, orang tua didorong tidak mengambil posisi sebagai pihak yang sekadar melarang penggunaan teknologi. Sebaliknya, orang tua perlu hadir sebagai “kompas digital” yang membantu anak menentukan arah ketika menggunakan internet, media sosial, maupun AI.

Strategi tersebut diwujudkan melalui beberapa pendekatan konkret, antara lain membangun dialog terbuka, menetapkan aturan waktu dan tempat penggunaan gawai, membuat Family Digital Agreement, meningkatkan literasi teknologi orang tua, serta membangun kepercayaan dan hubungan yang sehat dengan anak.

Dalam pendekatan dialog terbuka, orang tua didorong untuk lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memberikan ceramah. Salah satu contoh pertanyaan yang ditawarkan dalam materi adalah, “Cerita dong, AI apa yang kamu pakai?”

Pendekatan tersebut diharapkan membuat anak merasa aman untuk bercerita mengenai pengalaman digitalnya. Dengan komunikasi yang terbuka, orang tua dapat mengetahui aplikasi dan teknologi yang digunakan anak sekaligus memahami persoalan yang mungkin mereka hadapi.

Materi juga menekankan pentingnya membuat aturan penggunaan teknologi secara bersama-sama. Orang tua dan anak dapat menyepakati waktu bebas gawai, termasuk saat makan dan menjelang tidur. Penggunaan AI untuk membantu proses belajar dapat didukung, tetapi penggunaannya untuk sekadar menyalin atau menyelesaikan tugas tanpa proses berpikir perlu menjadi bahan diskusi bersama.

Orang tua juga didorong menempatkan perangkat digital di ruang bersama, bukan di kamar tidur anak. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan digital keluarga yang lebih sehat dan memungkinkan pendampingan dilakukan secara proporsional.

Dalam sesi tersebut, peserta juga diajak mengenali fenomena digital wellbeing, termasuk doomscrolling, gangguan tidur akibat penggunaan perangkat digital, dan brain fog yang dapat memengaruhi kemampuan berkonsentrasi. Orang tua diingatkan bahwa tantangan digital bukan hanya berkaitan dengan keamanan konten, tetapi juga bagaimana teknologi memengaruhi kebiasaan, perhatian, waktu istirahat, dan kualitas interaksi anak.

Kesenjangan cara pandang antara orang tua dan anak terhadap teknologi juga menjadi perhatian. Orang tua dapat memandang AI sebagai sesuatu yang canggih sekaligus menakutkan karena khawatir anak menjadi malas berpikir atau terpapar konten berbahaya. Sementara itu, bagi anak, AI dapat dipandang sebagai teman belajar sehari-hari yang mampu membantu menyelesaikan berbagai persoalan.

Perbedaan perspektif tersebut membuat pendampingan menjadi semakin penting. Anak membutuhkan panduan, bukan semata-mata larangan. Di sisi lain, orang tua perlu meningkatkan pemahaman terhadap teknologi yang digunakan anak agar tidak terjadi kesenjangan literasi digital di dalam keluarga.

Mutiara juga memperkenalkan tiga gaya parenting digital yang dapat menjadi bahan refleksi bagi orang tua, yakni The Blocker, The Absent, dan The Compass. The Blocker menggambarkan orang tua yang melarang hampir seluruh akses AI dan internet karena rasa takut. The Absent menggambarkan orang tua yang membiarkan anak menggunakan teknologi tanpa batasan. Sementara The Compass menempatkan orang tua sebagai pendamping yang membuat aturan bersama sekaligus membangun kepercayaan.

Pendekatan The Compass menjadi arah yang ditawarkan dalam kegiatan tersebut. Anak tetap memperoleh kesempatan memanfaatkan teknologi, tetapi dengan pendampingan, batasan, dan kesadaran terhadap risiko.

Selain membahas AI dan digital wellbeing, hari ketiga EduMind Wellbeing & AI Camp juga memberikan perhatian terhadap perlindungan anak dari bullying. Orang tua mendapatkan materi mengenai peran mereka dalam mengenali tanda-tanda persoalan dan melakukan intervensi sejak dini.

Pemahaman tersebut menjadi semakin penting karena perilaku perundungan dapat terjadi tidak hanya secara langsung di lingkungan sekolah, tetapi juga melalui ruang digital. Oleh sebab itu, komunikasi antara orang tua, anak, dan sekolah perlu dibangun agar persoalan dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.

Dalam materi juga ditekankan pentingnya mendidik anak melalui keteladanan, memberikan pengarahan pada waktu yang tepat, bersikap adil, memenuhi hak anak, mendoakan anak, membantu mereka menjalankan ibadah dan berbakti, serta memberikan umpan balik secara bijaksana.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi presentasi karya terbaik dari masing-masing sekolah. Sesi tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk menunjukkan hasil pembelajaran yang telah mereka lalui selama rangkaian EduMind Wellbeing & AI Camp.

Presentasi karya menjadi bagian penting karena peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga dituntut mengolah pengalaman dan gagasan menjadi karya yang dapat dipresentasikan. Proses tersebut sekaligus menjadi ruang evaluasi terhadap pemahaman dan kemampuan peserta dalam menerapkan materi yang telah diperoleh.

Pada akhir kegiatan, peserta diharapkan mampu membawa pulang langkah nyata untuk diterapkan di lingkungan keluarga. Salah satu gagasan yang diperkenalkan adalah penyusunan Family Digital Agreement dan rencana 30 hari ke depan. Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti setelah sesi daring selesai, tetapi dilanjutkan melalui perubahan kebiasaan dan pola pendampingan di rumah.

Melalui kegiatan hari ketiga ini, EduMind Wellbeing & AI Camp menempatkan orang tua sebagai bagian penting dalam ekosistem pendidikan anak. Guru dan sekolah memiliki peran dalam mendampingi proses belajar, sementara keluarga menjadi lingkungan pertama yang membentuk kebiasaan, karakter, dan cara anak berinteraksi dengan teknologi.

Perkembangan AI pada akhirnya tidak dapat dihindari. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana memastikan teknologi tersebut digunakan secara bijak, aman, produktif, dan tetap menempatkan manusia sebagai pengendali. Anak perlu dipersiapkan agar mampu memanfaatkan peluang teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, kepedulian sosial, serta hubungan nyata dengan keluarga dan lingkungannya.

Hari ketiga EduMind Wellbeing & AI Camp pun menjadi momentum bagi orang tua untuk melihat kembali perannya. Bukan menjadi pengawas yang selalu melarang, bukan pula membiarkan anak berjalan sendiri, tetapi hadir sebagai pendamping dan kompas yang membantu anak menemukan arah di tengah derasnya perkembangan teknologi digital dan AI.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan