SEMARANG – Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang, Jumat (30/10/2026), berlangsung khidmat dan penuh makna. Dalam khutbahnya, Zaenal Arifin, S.Pd.I., selaku khotib sekaligus imam, mengajak seluruh jamaah, khususnya generasi muda, untuk menjadikan semangat Sumpah Pemuda sebagai inspirasi dalam membangun bangsa dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Mengangkat tema “Sumpah Pemuda dan Empat Hal yang Dibutuhkan Pemuda untuk Membangun Bangsa”, khutbah Jumat tersebut mengingatkan pentingnya peran generasi muda dalam meneruskan perjuangan bangsa. Pemuda tidak cukup hanya memiliki semangat nasionalisme, tetapi juga harus dibekali akidah yang benar, pengetahuan yang baik, kemampuan di berbagai bidang, serta rasa tanggung jawab.
Kegiatan ibadah mingguan yang dilaksanakan di Masjid Baitul Ilmi ini menjadi salah satu sarana pembinaan spiritual dan karakter bagi keluarga besar SMKN Jateng di Semarang. Melalui kegiatan Sholat Jumat, jamaah diajak memperkuat keimanan sekaligus mengambil pelajaran kehidupan yang dapat diterapkan dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan kehidupan berbangsa.
Dalam mengawali khutbahnya, Zaenal Arifin mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga masih diberikan kesempatan untuk melaksanakan kewajiban Sholat Jumat. Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan terbaik, termasuk bagi generasi muda dalam menjalani kehidupan.
Menghubungkan momentum peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober dengan kondisi generasi muda saat ini, khotib mengingatkan kembali sejarah perjuangan para pemuda dari berbagai daerah di Nusantara yang pada 1928 mengikrarkan persatuan bangsa. Perbedaan suku, agama, dan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk menyatukan tekad dalam membangun tanah air.
Semangat persatuan tersebut, menurut pesan khutbah yang disampaikan, harus terus dijaga dan diwujudkan dalam kehidupan generasi muda masa kini. Namun, semangat kebangsaan juga perlu berjalan beriringan dengan nilai-nilai keimanan agar ilmu, kemampuan, dan kekuatan yang dimiliki dapat digunakan untuk kebaikan.
Dalam khutbahnya, Zaenal Arifin juga mengutip hadis Rasulullah SAW tentang tujuh golongan yang memperoleh naungan Allah SWT pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah SWT. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masa muda merupakan kesempatan berharga untuk membangun kualitas diri, memperkuat iman, dan menyiapkan masa depan yang bermanfaat.
Pada bagian inti khutbah, Zaenal Arifin menjelaskan empat hal fundamental yang perlu dimiliki generasi muda agar mampu menjadi penerus perjuangan bangsa sekaligus pribadi yang memiliki nilai di hadapan Allah SWT.
Pertama, pemuda harus memiliki akidah yang benar. Akidah merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Dengan keyakinan dan tauhid yang kuat, seseorang akan mampu mengarahkan ilmu, kemampuan, dan pencapaiannya untuk tujuan yang baik. Khotib mengingatkan jamaah pada pesan dalam Al-Qur’an Surah Luqman ayat 13 tentang nasihat Luqman kepada anaknya agar tidak mempersekutukan Allah SWT karena perbuatan tersebut merupakan kezaliman yang besar.
Pemuda dengan akidah yang kokoh diharapkan mampu bekerja dengan niat ibadah, menjunjung kejujuran, serta tidak menyalahgunakan kemampuan untuk kepentingan yang merugikan orang lain. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada sesama.
Kedua, pemuda harus memiliki pengetahuan yang baik. Islam menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan. Oleh karena itu, generasi muda tidak boleh berhenti belajar dan mengembangkan wawasan. Pengetahuan yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan memperoleh gelar akademis, melainkan ilmu yang bermanfaat atau ilmun nafi’, yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan kehidupan.
Khotib mengingatkan kandungan Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menjelaskan bahwa Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Pesan ini mengajak generasi muda untuk mengembangkan kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional agar mampu berpikir kritis, bersikap bijaksana, serta memberikan solusi bagi masyarakat.
Ketiga, pemuda harus memiliki kemampuan dan keterampilan di berbagai bidang. Menurut Zaenal Arifin, akidah dan ilmu pengetahuan perlu diimbangi dengan kompetensi serta profesionalisme. Generasi muda harus mempersiapkan diri agar mampu bersaing menghadapi perkembangan zaman dan tantangan global.
Ia juga mengingatkan pentingnya prinsip al-itqan, yaitu kesungguhan dan ketuntasan dalam melaksanakan pekerjaan. Setiap tugas harus dikerjakan dengan baik, terarah, dan penuh tanggung jawab. Kisah Nabi Yusuf AS dalam Surah Yusuf ayat 55 menjadi salah satu contoh bahwa kemampuan dan kompetensi merupakan bekal penting ketika seseorang menerima amanah.
Bagi generasi muda, keterampilan di bidang teknologi, ekonomi, pendidikan, kesehatan, pertanian, maupun bidang profesional lainnya perlu terus dikembangkan. Dengan kompetensi yang kuat, pemuda dapat berkontribusi terhadap kemajuan bangsa dan mengurangi ketergantungan pada kemampuan bangsa lain.
Keempat, pemuda harus memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab merupakan karakter penting yang harus melekat dalam diri setiap individu, baik terhadap dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, maupun negara. Khotib mengingatkan hadis Rasulullah SAW yang berbunyi, “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi”, yang berarti setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Pemuda yang bertanggung jawab tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif yang dapat merusak masa depan maupun memecah persatuan bangsa. Mereka juga tidak seharusnya bersikap apatis terhadap persoalan di lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, generasi muda perlu memiliki kepedulian, keberanian mengambil peran, dan kesediaan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bersama.
Menutup bagian inti khutbah, Zaenal Arifin mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan sejauh mana empat bekal tersebut telah dimiliki dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga mengingatkan orang tua, guru, dan tokoh masyarakat agar memiliki kepedulian dalam membimbing serta mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan.
“Empat pilar ini—akidah yang benar, pengetahuan yang baik, kemampuan di segala bidang, dan tanggung jawab—adalah bekal untuk mencetak generasi yang tidak hanya hebat secara nasionalisme, tetapi juga mulia di sisi Allah SWT,” demikian pesan utama yang disampaikan dalam khutbah.
Pesan tersebut memiliki relevansi kuat dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan yang bertugas mempersiapkan peserta didik menjadi generasi terampil, mandiri, dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Kecakapan teknis perlu berjalan seiring dengan pembentukan karakter, kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kekuatan spiritual.
Melalui pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang, diharapkan tumbuh kesadaran bahwa keberhasilan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan keterampilan, tetapi juga oleh kualitas akhlak dan keteguhan iman.
Semangat Sumpah Pemuda yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman menjadi pesan penting bagi seluruh jamaah. Pemuda masa kini harus mampu menjadi generasi yang berilmu, beriman, terampil, dan bertanggung jawab. Bukan sekadar menjadi penonton perubahan, melainkan mengambil peran sebagai pelaku yang menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.
Khutbah Jumat kali ini menjadi pengingat bahwa membangun bangsa merupakan tanggung jawab bersama. Sekolah, keluarga, masyarakat, dan generasi muda perlu berjalan beriringan dalam menyiapkan generasi penerus yang memiliki karakter kuat, kompetensi unggul, serta semangat pengabdian. Dari Masjid Baitul Ilmi, pesan tersebut diharapkan terus tumbuh menjadi inspirasi bagi keluarga besar SMKN Jateng di Semarang untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Beri Komentar