SEMARANG – Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang pada Jumat, 23 Oktober 2026, menjadi momentum bagi para santri untuk memperkuat semangat menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh Fuad Hasyim selaku khatib sekaligus imam, para santri diajak untuk menjadi pribadi yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, mengamalkan ilmu, serta menumbuhkan keberkahan ilmu.
Mengangkat tema “Menjadi Santri yang Bersungguh-sungguh: Mencari Ilmu, Mengamalkan Ilmu, dan Menumbuhkan Keberkahan dalam Ilmu”, khutbah tersebut menekankan pentingnya kesungguhan dalam menjalani proses pendidikan. Para santri diingatkan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memahami pelajaran, tetapi juga oleh keikhlasan niat, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, serta kesediaan untuk menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata.
Dalam penyampaiannya, Fuad Hasyim mengingatkan bahwa menjadi santri bukan sekadar mengikuti pengajian, membaca kitab, atau menjalani aktivitas pendidikan keagamaan. Lebih dari itu, menjadi santri merupakan proses membentuk pribadi yang berilmu, beriman, berakhlak mulia, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Menjadi santri adalah perjuangan untuk membentuk diri menjadi manusia yang berilmu, beriman, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama,” demikian pesan yang disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang.
Dalam khutbahnya, Fuad Hasyim menjelaskan bahwa kesungguhan dalam mencari ilmu merupakan langkah pertama yang harus dimiliki setiap santri. Ilmu menjadi bekal penting untuk memahami kehidupan, membedakan kebenaran dan kesalahan, serta menentukan sikap yang sesuai dengan tuntunan agama.
Pesan tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu memiliki kedudukan mulia dan harus dicari dengan niat yang benar.
Para santri pun diajak untuk membangun kebiasaan belajar yang disiplin. Ketika guru menjelaskan pelajaran, mereka hendaknya mendengarkan dengan baik. Apabila menemui kesulitan, santri tidak perlu malu untuk bertanya ataupun menyerah ketika belum memahami materi yang dipelajari.
Fuad Hasyim juga menekankan pentingnya kesabaran dalam proses menuntut ilmu. Tidak semua pelajaran dapat dipahami dalam sekali membaca atau mendengarkan penjelasan. Sebagian materi membutuhkan pengulangan, hafalan, ketekunan, dan waktu yang cukup agar benar-benar dipahami.
Selain kesungguhan belajar, adab kepada guru menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang santri. Kecerdasan perlu diimbangi dengan akhlak yang baik agar ilmu yang diperoleh dapat digunakan secara tepat dan membawa manfaat.
Para santri juga diingatkan untuk meluruskan niat dalam belajar. Ilmu hendaknya dicari karena Allah SWT, bukan semata-mata demi pujian, kedudukan, atau keinginan untuk merasa lebih hebat daripada orang lain. Dengan niat yang ikhlas dan usaha yang sungguh-sungguh, proses pendidikan diharapkan menjadi bekal berharga untuk menghadapi masa depan.
Selain bersungguh-sungguh mencari ilmu, khutbah Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang juga menyoroti pentingnya mengamalkan ilmu. Pengetahuan yang dipelajari tidak cukup hanya dihafalkan atau dipahami, tetapi harus tercermin dalam sikap, perilaku, dan kebiasaan sehari-hari.
Dalam penjelasannya, Fuad Hasyim mengingatkan bahwa seseorang perlu menyelaraskan pengetahuan dengan tindakannya. Belajar tentang kejujuran, misalnya, harus diwujudkan melalui kebiasaan berkata dan bertindak jujur. Demikian pula pelajaran tentang kesabaran, kebersihan, kedisiplinan, dan tanggung jawab harus diterapkan dalam kehidupan nyata.
“Jangan menjadi santri yang hanya pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi tidak melakukannya. Jadilah santri yang mampu memberikan contoh melalui perilaku,” demikian pesan yang ditekankan dalam khutbah tersebut.
Pesan ini mengajak para santri untuk memulai pengamalan ilmu dari hal-hal sederhana. Membantu teman yang mengalami kesulitan, menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan tempat ibadah, menepati janji, menghormati orang tua, serta melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab merupakan contoh nyata penerapan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Khutbah tersebut juga mengingatkan bahwa ilmu seharusnya mendorong seseorang untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Pesan ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath tentang keutamaan manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Dengan demikian, keberhasilan seorang santri tidak hanya terlihat dari banyaknya pengetahuan yang dikuasai, tetapi juga dari kemampuannya menerapkan pengetahuan tersebut untuk menghadirkan kebaikan. Ilmu yang dipelajari di lingkungan pendidikan diharapkan menjadi bekal untuk membantu keluarga, berkontribusi kepada masyarakat, dan menjalankan tanggung jawab dengan lebih baik.
Bagian penting lainnya dalam khutbah Jumat tersebut adalah upaya menumbuhkan keberkahan ilmu. Fuad Hasyim mengajak para santri untuk memahami bahwa keberhasilan belajar bukan semata-mata diukur dari banyaknya pengetahuan, tingginya kedudukan, atau besarnya penghasilan yang kelak diperoleh.
Ilmu yang bermanfaat diharapkan mampu mendekatkan seseorang kepada Allah SWT, memperbaiki akhlaknya, dan mendorongnya untuk melakukan kebaikan. Oleh karena itu, para santri perlu menjaga niat, menghormati guru, berbakti kepada orang tua, mengamalkan ilmu dengan ikhlas, serta tetap rendah hati meskipun telah menguasai banyak pengetahuan.
Penghormatan kepada guru menjadi salah satu perhatian dalam pesan tersebut. Guru memiliki peran penting dalam membimbing peserta didik, memberikan pengetahuan, dan membantu membentuk karakter. Menghargai nasihat guru, menjaga sikap ketika belajar, serta mendoakan kebaikan bagi mereka merupakan bagian dari upaya menjaga adab dalam menuntut ilmu.
Selain itu, para santri diingatkan untuk tidak melupakan perjuangan orang tua yang mendukung pendidikan mereka. Berbicara dengan lembut, menghormati orang tua, menjalankan nasihat yang baik, dan mendoakan mereka menjadi wujud rasa syukur atas dukungan yang diberikan.
Fuad Hasyim juga mengingatkan agar ilmu tidak menjadikan seseorang sombong atau merendahkan orang lain. Semakin banyak ilmu yang diperoleh, seharusnya semakin besar pula kesadaran bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari. Sikap rendah hati, kesabaran, dan kebijaksanaan menjadi bagian penting dari pribadi yang berilmu.
Melalui pesan tersebut, para santri diharapkan mampu membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kekuatan spiritual, dan kemuliaan akhlak. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.
Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang melalui khutbah bertema “Menjadi Santri yang Bersungguh-sungguh” menjadi pengingat tentang pentingnya memanfaatkan waktu pendidikan untuk belajar, memperbaiki diri, dan membangun kebiasaan baik.
Tiga pesan utama yang disampaikan dalam khutbah tersebut adalah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari, dan menumbuhkan keberkahan ilmu melalui niat yang ikhlas serta akhlak yang mulia. Ketiganya saling berkaitan dan menjadi landasan bagi santri untuk menjalani proses pendidikan dengan penuh tanggung jawab.
Bagi para santri, kesempatan menuntut ilmu merupakan amanah yang perlu dijaga. Waktu belajar hendaknya digunakan sebaik mungkin, kesulitan dihadapi dengan kesabaran, dan setiap pengetahuan yang diperoleh dijadikan dorongan untuk memperbaiki perilaku.
Pesan khutbah tersebut juga menegaskan bahwa pribadi yang unggul bukan hanya pribadi yang cerdas dalam berpikir, melainkan juga santun dalam bersikap dan mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Nilai-nilai tersebut penting untuk diterapkan, baik di lingkungan sekolah, tempat ibadah, keluarga, maupun masyarakat.
Menutup khutbahnya, Fuad Hasyim mengajak para santri untuk terus meningkatkan kesungguhan dalam belajar dan memperbaiki akhlak. Harapannya, para santri tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berintegritas, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama.
Doa yang dipanjatkan dalam khutbah turut memohon agar Allah SWT memberikan ilmu yang bermanfaat, hati yang ikhlas, akhlak yang mulia, serta kehidupan yang penuh keberkahan. Doa tersebut menjadi pengingat bahwa usaha menuntut ilmu perlu disertai dengan ikhtiar, adab, dan permohonan pertolongan kepada Allah SWT.
Melalui kegiatan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang, pesan tentang kesungguhan menuntut ilmu diharapkan dapat terus menjadi pedoman bagi para santri dalam menjalani pendidikan dan mempersiapkan masa depan. Dengan ilmu yang diamalkan serta akhlak yang terjaga, santri diharapkan mampu tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga membawa kebaikan bagi lingkungan dan masyarakat.

Beri Komentar