SEMARANG – Suasana haru dan kebahagiaan mewarnai Upacara Penutupan Pendidikan Dasar Kepemimpinan Berintegritas 2026 di Lapangan Hijau SMKN Jawa Tengah di Semarang, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini menandai berakhirnya Pendidikan Dasar Kepemimpinan Berintegritas Angkatan 13 yang telah dijalani murid kelas X selama 90 hari. Momen tersebut menjadi istimewa karena para murid akhirnya dapat bertemu kembali dengan orang tua dan wali setelah tiga bulan menjalani pendidikan dan pembinaan karakter di sekolah.
Upacara penutupan diikuti murid kelas X sebagai peserta upacara dan didukung murid kelas XI yang bertugas membantu kelancaran kegiatan. Hadir dalam acara tersebut Pengawas Pembina SMKN Jateng di Semarang, Dra. Sri Maryati, M.T., selaku pembina upacara, Kepala SMKN Jateng di Semarang, Lurah Plombokan, Bhabinkamtibmas, para alumni, orang tua dan wali murid, serta tamu undangan lainnya.
Dalam amanatnya, Dra. Sri Maryati, M.T. menyampaikan bahwa upacara penutupan tersebut menjadi momen istimewa, bukan hanya bagi para murid yang telah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga bagi orang tua dan wali yang kembali bertemu dengan putra-putri mereka setelah tiga bulan berpisah.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai positif yang telah ditanamkan selama mengikuti Pendidikan Dasar Kepemimpinan Berintegritas harus terus dijaga dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika murid kembali berada di lingkungan keluarga.
“Hari ini merupakan momen yang istimewa karena orang tua dan wali murid dapat bertemu kembali dengan putra-putri mereka setelah tiga bulan menjalani pendidikan. Hal-hal baik yang telah diperoleh selama pendidikan hendaknya terus dipertahankan dan jangan sampai luntur,” pesan Sri Maryati.
Ia juga mengharapkan adanya kerja sama yang baik antara pihak sekolah dan orang tua dalam mendampingi perkembangan murid. Menurutnya, pembentukan karakter tidak berhenti ketika kegiatan pendidikan dasar berakhir, melainkan harus berlanjut melalui pembiasaan dan keteladanan di rumah maupun di lingkungan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Sri Maryati turut menyampaikan ucapan selamat kepada murid kelas X yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan selama 90 hari. Pencapaian tersebut diharapkan menjadi bekal penting bagi para murid untuk melanjutkan perjalanan pendidikan dengan semangat, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang lebih kuat.
Sebelum upacara penutupan dimulai, rangkaian praacara turut menyemarakkan suasana di Lapangan Hijau SMKN Jateng di Semarang. Para murid kelas X menampilkan persembahan dalam rangka perayaan Hari Santri yang berlangsung penuh semangat. Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan apresiasi terhadap nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan semangat perjuangan.
Suasana semakin meriah dengan penampilan marching band Gita Kartika Buana. Iringan musik dan kekompakan para pemain menghadirkan nuansa semarak sekaligus menunjukkan kemampuan murid dalam bekerja sama, menjaga disiplin, dan menampilkan performa secara terkoordinasi.
Setelah rangkaian praacara, murid kelas X menampilkan defile dan yel-yel yang mencerminkan semangat, kekompakan, serta rasa bangga sebagai bagian dari keluarga besar SMKN Jateng di Semarang. Penampilan tersebut sekaligus menjadi gambaran hasil pembinaan selama mengikuti Pendidikan Dasar Kepemimpinan Berintegritas Angkatan 13.
Berakhirnya pendidikan selama 90 hari menjadi momen yang dinantikan oleh para murid dan keluarga. Setelah menjalani masa pendidikan dengan berbagai pembiasaan dan kegiatan pembinaan, para murid akhirnya berkesempatan bertemu kembali dengan orang tua dan wali masing-masing.
Pertemuan tersebut menghadirkan suasana emosional yang menggambarkan kerinduan setelah tiga bulan tidak menjalani kebersamaan seperti sebelumnya. Pelukan, senyum, dan kebahagiaan keluarga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian penutupan.
Bagi para orang tua, momen ini bukan sekadar kesempatan untuk melepas rindu, melainkan juga waktu untuk melihat perkembangan putra-putri mereka setelah menjalani pendidikan. Sementara bagi para murid, pertemuan tersebut menjadi penyemangat untuk melanjutkan perjalanan pendidikan dengan membawa pengalaman dan nilai-nilai positif yang telah diperoleh.
Pada bagian akhir kegiatan, Kepala SMKN Jateng di Semarang memberikan arahan kepada orang tua dan wali murid kelas X. Ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga keberlanjutan pembinaan karakter setelah para murid menyelesaikan Pendidikan Dasar Kepemimpinan Berintegritas.
Orang tua diharapkan tetap melakukan pengawasan terhadap aktivitas anak, termasuk dalam hal keselamatan dan kedisiplinan. Salah satu hal yang ditekankan ialah larangan bagi murid untuk mengendarai sepeda motor. Arahan tersebut menjadi pengingat agar keselamatan murid tetap menjadi perhatian bersama antara sekolah dan keluarga.
Selain itu, orang tua diminta mendukung keberlanjutan kebiasaan baik yang telah dibangun selama tiga bulan pendidikan. Kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kepatuhan terhadap aturan, serta sikap saling menghormati perlu terus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kerja sama antara sekolah dan keluarga dinilai penting agar pembinaan yang telah dilakukan tidak berhenti setelah upacara penutupan. Dengan pendampingan yang konsisten, nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bagian dari karakter murid, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Upacara Penutupan Pendidikan Dasar Kepemimpinan Berintegritas 2026 menjadi penanda berakhirnya satu tahap penting dalam perjalanan pendidikan murid kelas X SMKN Jateng di Semarang. Namun, berakhirnya program selama 90 hari bukan berarti berakhir pula proses pembentukan karakter.
Pengalaman yang diperoleh selama pendidikan diharapkan menjadi fondasi bagi para murid untuk tumbuh sebagai generasi yang disiplin, mandiri, bertanggung jawab, dan berintegritas. Dukungan sekolah dan keluarga menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi penerapan nilai-nilai tersebut.
Melalui penutupan Pendidikan Dasar Kepemimpinan Berintegritas Angkatan 13, SMKN Jateng di Semarang berharap seluruh murid mampu menerapkan pembelajaran yang telah diperoleh dalam kehidupan nyata, terus mengembangkan potensi diri, serta meraih prestasi yang membanggakan.
Lebih dari sekadar seremoni penutupan, pertemuan kembali antara murid dan orang tua menjadi pengingat bahwa di balik setiap proses pendidikan terdapat doa, pengorbanan, dan harapan keluarga. Semoga para murid tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, mampu mengukir prestasi, dan kelak menjadi anak-anak yang membanggakan serta membahagiakan orang tua.

Beri Komentar