Minggu, 19-04-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

UNW Gelar ASBS 2026, Dorong Ekosistem Pendidikan Sehat di Jawa Tengah

Diterbitkan : - Kategori : Berita

UNGARAN — Universitas Ngudi Waluyo (UNW) kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang sehat melalui penyelenggaraan Anugerah Sekolah/Madrasah Berbudaya Sehat VI 2026 (ASBS 2026). Program bergengsi yang mengusung tema “Ekosistem Pendidikan yang Sehat: Sekolah Sehat, Guru Hebat, Siswa Kuat” ini resmi dibuka sebagai upaya strategis memperkuat budaya sehat di lingkungan pendidikan, khususnya di wilayah Jawa Tengah.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh UNW sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung transformasi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga kesejahteraan menyeluruh warga sekolah. Program ASBS 2026 akan berlangsung sejak masa pendaftaran pada 1 Januari hingga 10 Mei 2026, dengan puncak acara penganugerahan dijadwalkan pada Sabtu, 7 Juni 2026, bertempat di Aula Universitas Ngudi Waluyo, Gedung E Lantai 2, Ungaran.

Rektor UNW, Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum dalam keterangannya menegaskan bahwa ASBS 2026 bukan sekadar ajang penghargaan seremonial, melainkan sebuah gerakan kolektif yang bertujuan menanamkan budaya sehat secara sistemik dan berkelanjutan. “Sekolah yang sehat adalah prasyarat sekolah yang efektif dan inklusif. Melalui penghargaan ini, kami ingin memantik kompetisi sehat dan pembelajaran antar sekolah di Jawa Tengah,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa program ini mengadopsi pendekatan Health-Promoting Schools (HPS) atau sekolah berwawasan kesehatan sebagai landasan utama. Pendekatan ini menitikberatkan pada empat dimensi budaya sehat, yakni fisik, psikis, sosial, dan ekonomi, yang harus terintegrasi dalam tata kelola sekolah sehari-hari.

ASBS 2026 membuka peluang partisipasi luas bagi guru, kepala sekolah, serta satuan pendidikan dari berbagai jenjang, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, hingga SMK/MAK, baik negeri maupun swasta di seluruh Jawa Tengah. Terdapat delapan kategori yang diperebutkan, yang terbagi dalam tiga kelompok utama.

Pada kategori guru, penghargaan diberikan untuk Guru Pengelola Kelas yang Berbudaya Sehat serta Guru Inovatif dalam Literasi Budaya Sehat. Kategori ini ditujukan bagi pendidik yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang sehat secara holistik dan mengintegrasikan nilai-nilai kesehatan dalam proses pembelajaran.

Sementara itu, kategori kepala sekolah meliputi Kepala Sekolah dengan Manajemen Sekolah Berbudaya Sehat dan Kepala Sekolah Inspiratif dalam Penguatan Budaya Sehat. Penghargaan ini difokuskan pada peran kepemimpinan dalam menanamkan nilai-nilai kesehatan dalam tata kelola sekolah serta menjadi teladan bagi seluruh warga sekolah.

Adapun kategori sekolah atau madrasah mencakup pengelolaan taman, kantin, laboratorium, dan perpustakaan yang berbudaya sehat dan inovatif. Penilaian dalam kategori ini menitikberatkan pada praktik nyata pengelolaan fasilitas sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan sehat dan nyaman.

Ketua panitia ASBS 2026 menjelaskan bahwa biaya pendaftaran ditetapkan sebesar Rp 300.000 per kategori. Peserta juga memiliki opsi paket sebesar Rp 500.000 yang mencakup Buku Anugerah Sekolah Berbudaya Sehat 2026. “Kami berharap biaya ini tidak menjadi hambatan, karena manfaat yang diperoleh jauh lebih besar, terutama dalam hal peningkatan kualitas sekolah,” katanya.

Puncak acara penganugerahan nantinya akan diramaikan dengan berbagai kegiatan, seperti pameran praktik baik sekolah berbudaya sehat, pemutaran video nominator, hingga peluncuran buku Anugerah Sekolah Berbudaya Sehat 2026. Para pemenang akan menerima piagam penghargaan dari Rektor UNW, sementara seluruh finalis akan mendapatkan sertifikat serta kesempatan menjadi mitra binaan UNW dalam pengembangan budaya sehat secara berkelanjutan.

Selain itu, karya-karya unggulan dari peserta akan dihimpun dan diterbitkan dalam buku oleh UNW Press sebagai bentuk dokumentasi sekaligus inspirasi bagi sekolah lain. “Kami ingin praktik baik ini menyebar dan menjadi referensi nasional,” tambah panitia.

Program ini juga selaras dengan kebijakan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) yang terus diperbarui oleh Kementerian Pendidikan. Fokus utama kebijakan tersebut adalah pada implementasi Trias UKS, yaitu pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat.

Sejumlah studi terbaru menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi program kesehatan sekolah sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah serta kultur kolaboratif di kalangan guru. Hal inilah yang menjadi dasar perancangan ASBS 2026 sebagai instrumen akselerasi perubahan dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan tangguh.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, UNW berharap ASBS 2026 mampu menjadi katalis bagi lahirnya lebih banyak sekolah berbudaya sehat di Jawa Tengah. “Ini bukan akhir, melainkan awal dari gerakan besar menuju pendidikan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan,” tutup Rektor.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan