SEMARANG-SMKN Jawa Tengah di Semarang menggelar kegiatan Penyegaran Karakter bagi peserta didik kelas XI dan XII pada Rabu (22/7/2026) di Convention Hall SMKN Jateng di Semarang. Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga malam tersebut menjadi bagian dari penguatan karakter sekaligus pembekalan menyeluruh bagi peserta didik dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan, dunia kerja, maupun kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan ini diikuti seluruh siswa kelas XI dan XII dengan menghadirkan berbagai narasumber dari internal maupun eksternal sekolah. Materi yang diberikan dirancang secara komprehensif, mulai dari penguatan karakter, budaya sekolah, kesiapan menghadapi dunia industri, wawasan kebangsaan, hingga pembentukan pola pikir dan daya juang sebagai bekal memasuki jenjang kehidupan berikutnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penguatan materi dari Kepala SMKN Jateng di Semarang, dilanjutkan penguatan bidang kurikulum, penyuluhan dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP), penguatan budaya sekolah oleh Koordinator Penjamin Mutu Sekolah, serta pembinaan mengenai penggunaan sarana dan prasarana sekolah maupun asrama secara bijak oleh Bidang Sarana dan Prasarana.
Selanjutnya, peserta memperoleh materi mengenai pentingnya tracer study yang disampaikan oleh tim Humas, Hubungan Industri (Hubin), dan Bimbingan Konseling (BK). Materi tersebut memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang pentingnya menjaga hubungan dengan almamater setelah lulus sebagai bagian dari evaluasi mutu pendidikan sekaligus pengembangan jejaring alumni.
Pada sesi berikutnya, Bidang Kesiswaan mengajak peserta didik melakukan refleksi diri sekaligus mengisi dream goal sebagai bentuk komitmen dalam merancang tujuan hidup dan karier di masa depan. Setelah istirahat dan ibadah, kegiatan dilanjutkan dengan persiapan materi lapangan, pembekalan dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas, serta apel yang diakhiri dengan materi dari para pamong mengenai daya juang dan pola berpikir.
Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., dalam paparannya menegaskan bahwa keberhasilan seseorang bukanlah hasil dari kebetulan, melainkan lahir dari sebuah perencanaan yang matang dan usaha yang konsisten. Ia mengajak seluruh peserta didik untuk mulai merancang masa depan sejak masih berada di bangku sekolah.
“Kesuksesan tidak pernah terjadi secara kebetulan. Kesuksesan membutuhkan desain yang jelas, fondasi yang kuat, dan proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh. Kalian harus mulai membangun diri dari sekarang, membersihkan segala hambatan yang menghalangi perkembangan, agar mampu mencapai tujuan yang lebih besar,” ujar Ardan di hadapan ratusan peserta didik.
Dalam materinya, Ardan menjelaskan filosofi dasar pembangunan kesuksesan yang terdiri atas tiga komponen utama, yakni material sebagai sumber daya, struktur sebagai fondasi dan sistem yang kuat, serta skala yang menggambarkan luasnya pengaruh dan manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. Namun, sebelum membangun ketiga komponen tersebut, seseorang harus mampu membersihkan “puing-puing hambatan” berupa kebiasaan buruk, pola pikir negatif, maupun berbagai faktor yang menghambat pertumbuhan diri.
Ia juga mengingatkan peserta didik mengenai pentingnya keluar dari zona nyaman. Menurutnya, banyak generasi muda gagal berkembang karena terjebak dalam rutinitas yang membuat mereka enggan menghadapi tantangan baru.
“Zona nyaman sering kali terlihat menyenangkan, tetapi justru menjadi perangkap yang membuat seseorang berhenti bertumbuh. Sebaliknya, zona pertumbuhan memang penuh tantangan, tetapi di sanalah kemampuan, karakter, dan mental kita ditempa. Jangan takut gagal, karena kegagalan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan,” katanya.
Ardan turut menyoroti fenomena prokrastinasi atau kebiasaan menunda pekerjaan yang kerap dialami generasi muda. Ia menegaskan bahwa prokrastinasi bukan sekadar bentuk kemalasan, melainkan siklus ketakutan yang muncul akibat budaya instan dan rasa takut gagal.
“Ketika seseorang takut gagal, ia memilih menunda pekerjaan. Akibatnya pekerjaan menumpuk, muncul stres, hasil menjadi tidak maksimal, lalu rasa takut semakin besar. Siklus ini harus diputus dengan disiplin, keberanian, dan kemampuan mengelola emosi,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ardan juga mengajak peserta didik memahami pentingnya kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) sebagai faktor utama keberhasilan karier. Mengacu pada riset Daniel Goleman, ia menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient atau IQ), tetapi lebih banyak dipengaruhi kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan sosial, dan menjaga motivasi diri.
Ia mengibaratkan kompetensi seseorang seperti gunung es. Menurutnya, kemampuan akademik dan hard skills hanya menjadi pintu masuk untuk memperoleh kesempatan, sedangkan kecerdasan emosional menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan jangka panjang.
“Hard skills mungkin membawa kalian sampai ke ruang wawancara kerja, tetapi yang membuat seseorang dipercaya menjadi pemimpin, mampu bertahan, bahkan terus berkembang adalah soft skills dan kecerdasan emosionalnya,” ungkap Ardan.
Lebih lanjut, ia memaparkan lima pilar utama kecerdasan emosional yang perlu dimiliki setiap peserta didik, yaitu kesadaran diri, kemampuan mengelola emosi, motivasi diri, empati, serta keterampilan sosial. Menurutnya, kelima aspek tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan yang begitu cepat di era digital.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi harus dimanfaatkan secara bijaksana. Generasi muda, katanya, perlu memiliki literasi digital yang baik agar tidak terjebak dalam fenomena filter bubble, budaya membandingkan diri dengan orang lain, maupun kecemasan akibat penggunaan media sosial secara berlebihan.
“Teknologi harus menjadi alat untuk memperluas jaringan dan membuka peluang, bukan menggantikan hubungan yang autentik. Gunakan media digital secara cerdas, tetap bangun komunikasi langsung, dan jangan biarkan media sosial mengendalikan kehidupan kalian,” pesannya.
Selain membangun karakter internal, Ardan juga menekankan pentingnya keberadaan mentor dan jejaring profesional sebagai akselerator kesuksesan. Ia menjelaskan bahwa seorang mentor mampu membantu seseorang menghindari kesalahan yang tidak perlu, memberikan perspektif objektif, membuka akses terhadap jaringan profesional, sekaligus mempercepat proses pengembangan kepemimpinan.
Menurutnya, membangun jejaring tidak boleh sekadar bersifat transaksional, tetapi harus dilakukan secara relasional melalui hubungan yang saling memberi manfaat dan dibangun secara konsisten.
“Networking bukan soal mengumpulkan sebanyak mungkin nomor telepon atau kartu nama. Jejaring yang kuat dibangun dengan kepercayaan, kepedulian, komunikasi dua arah, dan kemauan memberikan nilai tambah kepada orang lain,” tegasnya.
Ardan mengajak peserta didik mulai membangun jejaring sejak berada di lingkungan sekolah, kemudian memperluasnya melalui komunitas, organisasi, media digital seperti LinkedIn, hingga berbagai kegiatan seminar dan lokakarya yang relevan dengan bidang keahlian masing-masing.
Ia menegaskan bahwa seluruh materi yang diberikan dalam kegiatan penyegaran karakter saling berkaitan dan membentuk sebuah ekosistem kesuksesan. Keluar dari zona nyaman membutuhkan motivasi dan kecerdasan emosional, menemukan mentor memerlukan kemampuan berkomunikasi dan empati, sedangkan membangun jejaring profesional juga tidak dapat dilepaskan dari karakter yang kuat.
“Kalian adalah generasi yang akan menghadapi perubahan sangat cepat. Bekal terbaik bukan hanya nilai akademik, tetapi karakter, daya juang, kemampuan beradaptasi, integritas, dan kemauan terus belajar. Jika semua itu dimiliki, saya yakin kalian akan menjadi lulusan SMKN Jawa Tengah di Semarang yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” pungkasnya.
Melalui kegiatan Penyegaran Karakter ini, SMKN Jateng di Semarang menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada penguasaan kompetensi kejuruan, tetapi juga membentuk pribadi yang berintegritas, tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja maupun pendidikan tinggi. Pembekalan karakter yang diberikan diharapkan menjadi fondasi kuat bagi peserta didik untuk meraih kesuksesan yang dirancang melalui proses, disiplin, serta semangat belajar sepanjang hayat.

Beri Komentar