JEPARA – Kabupaten Jepara menjadi saksi penyelenggaraan kegiatan edukatif yang sarat inspirasi dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Bertempat di Aula SMA Negeri 1 Jepara, Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Tengah menggelar program inovasi bertajuk Obor Deso (Ojo Bosen Ojo Ragu Diskusi Elaborasi Seluruh Organisasi) dengan mengangkat tema “Temani Tumbuhnya, Dengarkan Suaranya, Lindungi Masa Depannya”.
Kegiatan yang diikuti sekitar 150 guru dari berbagai jenjang pendidikan di Kabupaten Jepara ini berlangsung secara hibrida dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube. Melalui forum diskusi tersebut, BBGTK Provinsi Jawa Tengah berupaya memperkuat sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan membahagiakan bagi anak.
Dipilihnya SMA Negeri 1 Jepara sebagai lokasi penyelenggaraan bukan tanpa alasan. Sekolah yang telah menjadi rujukan nasional sejak 2016 itu dinilai memiliki rekam jejak dalam penguatan pendidikan karakter dan pemenuhan standar nasional pendidikan sehingga menjadi tempat yang tepat untuk menggelar diskusi mengenai perlindungan serta pemenuhan hak-hak anak.
Kepala BBGTK Provinsi Jawa Tengah, Darmadi, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa peran guru tidak hanya sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai teladan dalam membentuk karakter peserta didik di tengah derasnya arus perkembangan teknologi digital.
“Tugas bapak dan ibu guru itu sebenarnya hanya dua: membuat anak-anak kita menjadi pintar dan benar. Pintar dalam sisi skill, dan benar dari sisi etika atau karakter,” ujar Darmadi.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks karena hadirnya budaya digital yang membuat masyarakat mudah larut dalam penggunaan gawai. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai “masyarakat tukang scroll”, sehingga guru dituntut mampu memberi contoh nyata dalam mengelola penggunaan teknologi agar tidak mengurangi kualitas pelayanan kepada peserta didik.
“Tidak akan pernah ada murid yang pintar dan benar apabila lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, maupun media tidak memberikan keteladanan yang sama,” tegasnya.
Perspektif psikologis mengenai pendampingan anak disampaikan oleh dosen Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, Dr. Novi Konitatin, S.Psi., M.A. Ia menjelaskan bahwa guru yang dikenang murid bukan semata-mata karena kepintarannya, melainkan karena mampu memahami kondisi emosional peserta didik dan memberikan perhatian yang tulus.
“Guru yang terkenang oleh murid biasanya bukan yang paling pintar, melainkan yang paling memberikan perhatian. Anak butuh diakui bahwa mereka mampu, butuh diberi pilihan, dan butuh merasa terkoneksi,” kata Dr. Novi.
Dalam paparannya, Dr. Novi menjelaskan empat pilar penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak, yakni memahami, menciptakan rasa aman, mendengarkan, dan mendampingi. Ia juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan dasar berupa rasa kompeten, otonomi dalam mengambil pilihan, serta keterhubungan dengan lingkungan sosialnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kemampuan guru mengelola emosinya sendiri ketika menghadapi perilaku peserta didik yang menantang. Menurutnya, teknik sederhana seperti berhenti sejenak atau melakukan restart emosi dapat membantu guru mengambil keputusan secara lebih bijaksana sehingga proses pembelajaran tetap berlangsung secara positif.
Materi mengenai perlindungan anak dan partisipasi aktif disampaikan oleh Mitra Muda UNICEF Indonesia Wilayah Jawa, Kristina Setianingrum atau yang akrab disapa Kak Itin. Dengan pendekatan komunikatif, ia mengajak para guru memahami dunia anak-anak masa kini yang tidak lepas dari teknologi digital, media sosial, maupun permainan daring seperti Roblox.
“Anak-anak itu bukan investasi untuk masa depan saja, tapi mereka adalah subjek yang harus dilibatkan mulai hari ini. Kita perlu memperkuat pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka agar mampu menghadapi tantangan global,” tegas Kak Itin.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan pendidikan di era Generasi Z dan Generasi Alfa tidak lagi efektif apabila mengandalkan hukuman fisik maupun bentakan. Sebaliknya, komunikasi yang tegas, konsisten, dan penuh empati menjadi kunci membangun hubungan yang sehat antara guru dan peserta didik.
Dalam kesempatan tersebut, Kak Itin juga mengingatkan pentingnya implementasi Konvensi Hak Anak yang mencakup hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan, serta partisipasi. Menurutnya, keberhasilan perlindungan anak membutuhkan kolaborasi seluruh unsur masyarakat.
“Melindungi satu anak membutuhkan satu desa. Semua pihak harus hadir dan bekerja sama agar anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung,” ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif ketika para guru menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi di sekolah. Mulai dari fenomena penggunaan riasan berlebihan oleh siswa hingga kasus yang lebih kompleks seperti kehamilan remaja akibat pengaruh media sosial menjadi pembahasan bersama.
Menanggapi persoalan tersebut, Kak Itin menilai literasi digital harus diperkuat sejak dini. Ia juga menekankan pentingnya keluarga memenuhi kebutuhan kasih sayang anak agar mereka tidak mencari validasi dari pihak yang keliru melalui media sosial.
Sementara itu, Dr. Novi menegaskan sekolah harus tetap menjadi ruang aman bagi peserta didik yang menghadapi masalah. Menurutnya, dukungan psikologis tetap harus diberikan agar anak tidak mengalami trauma yang semakin berat, dengan tetap mengedepankan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku.
Isu pendidikan inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. UNICEF menyatakan komitmennya untuk terus berbagi pengetahuan kepada guru-guru, terutama di daerah terpencil, agar layanan pendidikan bagi anak tunarungu, autisme, maupun kebutuhan khusus lainnya dapat diberikan secara setara.
Program Obor Deso kemudian ditutup dengan ajakan melakukan langkah nyata yang sederhana namun berdampak, seperti lebih banyak mendengarkan suara murid, membangun komunikasi yang sehat, dan menciptakan ruang belajar yang aman secara psikologis. Moderator kegiatan, Zaimatus Saidah, mengajak seluruh peserta menjadikan hasil diskusi tersebut sebagai praktik nyata dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., yang mengikuti kegiatan secara daring, mengapresiasi penyelenggaraan program Obor Deso karena dinilai mampu memperkuat kesadaran seluruh pihak mengenai pentingnya perlindungan anak.
“Perlindungan anak tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan media sebagai Catur Pusat Pendidikan agar anak memperoleh lingkungan yang aman untuk tumbuh dan berkembang,” ujar Ardan.
Ia menambahkan bahwa investasi terbaik bagi anak bukan semata-mata mengejar prestasi akademik, melainkan membangun modal psikologis yang kuat, seperti kemampuan mengelola emosi, memiliki daya tahan atau resiliensi, serta karakter yang baik.
“Anak harus dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap agar mereka siap menghadapi tantangan global serta mampu mengambil keputusan yang benar bagi masa depan mereka sendiri,” pungkasnya.
Melalui penyelenggaraan Obor Deso, BBGTK Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang kolaborasi yang memperkuat kompetensi pendidik sekaligus mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak. Momentum Hari Anak Nasional 2026 pun menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas perlindungan, pendampingan, dan pendidikan yang diterima anak-anak sejak hari ini.

Beri Komentar