SEMARANG-Suasana khidmat menyelimuti Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang saat pelaksanaan Sholat Jumat berjamaah, Jumat (22/5/2026). Ratusan jamaah yang terdiri atas guru, tenaga kependidikan, serta siswa mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan. Pada kesempatan tersebut, Ustad Sugito bertindak sebagai khotib sekaligus imam salat Jumat.
Dalam khutbahnya, Ustad Sugito mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dalam setiap kondisi kehidupan, baik saat lapang maupun sempit. Ia mengawali khutbah dengan pesan agar umat Islam menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya sebagai bentuk ketakwaan yang sejati.
“Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dalam keadaan lapang maupun sempit, senang maupun susah,” ujar Ustad Sugito di hadapan jamaah.
Khutbah Jumat kali ini mengangkat tema tentang musibah sebagai ujian kehidupan yang harus dihadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan solidaritas. Menurutnya, musibah merupakan bagian dari sunnatullah yang pasti akan dialami setiap manusia. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 155-156 yang menjelaskan bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan hasil bumi, serta kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.
Di hadapan jamaah, khotib menegaskan bahwa tidak setiap musibah merupakan bentuk murka Allah. Musibah dapat menjadi peringatan, penghapus dosa, maupun sarana peningkatan derajat seseorang di sisi Allah SWT. Penjelasan tersebut diperkuat dengan hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa setiap rasa sakit, kesedihan, hingga duri yang menusuk seorang muslim dapat menjadi penghapus dosa-dosanya.
“Tidak setiap bencana adalah azab. Bisa jadi itu peringatan, penghapus dosa, atau peningkat derajat bagi seorang hamba,” katanya.
Selain itu, Ustad Sugito juga menjelaskan makna sabar dalam perspektif Islam. Menurutnya, sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan kemampuan menahan diri dari keluh kesah yang dapat melemahkan iman, menjaga lisan, serta tetap istiqamah dalam menjalankan amal saleh di tengah kesulitan.
“Sabar dalam Islam adalah tetap teguh dalam ketaatan. Menahan diri dari ucapan yang merusak iman dan tetap berbuat baik meskipun sedang menghadapi ujian,” tuturnya.
Dalam khutbah tersebut, jamaah juga diajak memahami pentingnya ikhtiar dan solidaritas sosial sebagai bagian dari implementasi keimanan kepada qadha dan qadar. Ustad Sugito menegaskan bahwa tawakal kepada Allah tidak berarti meninggalkan usaha. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW tentang seorang badui yang diminta mengikat untanya terlebih dahulu sebelum bertawakal kepada Allah.
Menurutnya, umat Islam harus aktif membantu sesama ketika terjadi bencana atau musibah. Bentuk kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui bantuan kepada korban, menjaga kebersihan lingkungan, memperkuat mitigasi bencana, hingga tidak menyebarkan informasi bohong atau hoaks yang dapat memicu kepanikan masyarakat.
“Maka selain berdoa dan beristighfar, kita wajib bergerak membantu korban, menyumbang, membersihkan lingkungan, memperkuat sistem mitigasi, dan tidak menyebar hoaks yang menambah kepanikan,” tegasnya.
Pesan khutbah yang disampaikan terasa relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang dihadapkan pada berbagai tantangan sosial maupun bencana alam. Ustad Sugito mengingatkan bahwa musibah sejatinya mengajarkan manusia untuk rendah hati dan menyadari keterbatasan dirinya di hadapan Allah SWT.
“Ketika gunung berguncang, banjir melanda, atau penyakit menyerang, kita sadar bahwa semua kekuatan manusia hanyalah titipan. Hanya Allah tempat berlindung dan meminta pertolongan,” ucapnya.
Ia juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Insyirah ayat 5-6 yang menegaskan bahwa di balik setiap kesulitan terdapat kemudahan. Menurutnya, kemudahan tersebut bisa hadir dalam bentuk pertolongan dari sesama manusia, bertambahnya ilmu dan pengalaman, meningkatnya kualitas iman, maupun tumbuhnya solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Pelaksanaan Sholat Jumat berjamaah di Masjid Baitul Ilmi berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan sejak awal hingga akhir. Para siswa tampak mengikuti khutbah dengan saksama, sementara para guru dan tenaga kependidikan turut larut dalam suasana religius yang tercipta di lingkungan sekolah.
Kegiatan keagamaan rutin tersebut menjadi bagian dari pembinaan karakter di lingkungan SMKN Jateng di Semarang. Tidak hanya sebagai sarana ibadah, Sholat Jumat berjamaah juga menjadi momentum untuk memperkuat nilai spiritual, kedisiplinan, serta kepedulian sosial bagi seluruh warga sekolah.
Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd, M.Pd mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari khutbah yang disampaikan. Ia menilai pesan tentang kesabaran dan kepedulian sosial sangat penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda.
“Khutbahnya sangat menyentuh dan mengingatkan kami agar tetap sabar serta peduli terhadap sesama saat ada musibah,” ujar Ardan usai pelaksanaan salat Jumat.
Melalui khutbah tersebut, SMKN Jateng di Semarang tidak hanya menanamkan pemahaman keagamaan kepada siswa, tetapi juga membangun kesadaran sosial dan karakter kepedulian di lingkungan pendidikan. Nilai-nilai seperti kesabaran, ikhtiar, dan solidaritas diharapkan mampu menjadi bekal penting bagi siswa dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Di akhir khutbahnya, Ustad Sugito mengajak seluruh jamaah untuk terus memperbanyak istighfar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia berharap setiap ujian kehidupan dapat menjadi sarana memperkuat iman sekaligus mempererat persaudaraan antar sesama manusia.

Beri Komentar