Rabu, 15-04-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Membangun Kembali Marwah Guru

Diterbitkan : Kamis, 19 Februari 2026

Di banyak ruang kelas hari ini, sebuah pemandangan yang dulu terasa mustahil kini menjadi biasa: seorang guru berdiri di depan, menjelaskan materi dengan penuh kesungguhan, sementara sebagian murid menunduk bukan karena mencatat, melainkan karena tenggelam dalam layar gawai. Jari mereka bergerak lincah, bukan menulis konsep penting, tetapi menggulir timeline yang tak ada hubungannya dengan pelajaran. Tugas yang diberikan diabaikan atau dikerjakan sekadarnya. Tatapan mata kosong, interaksi sosial terasa dingin, dan kehadiran fisik murid tidak selalu diikuti kehadiran mental. Dalam situasi seperti itu, guru seolah berbicara ke ruang hampa—didengar tanpa benar-benar disimak, dilihat tanpa benar-benar diperhatikan.

Fenomena ini bukan sekadar masalah disiplin kelas atau dampak teknologi digital. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih mendasar: memudarnya marwah guru dalam dunia pendidikan. Marwah di sini bukan hanya kewibawaan jabatan yang melekat karena posisi formal, melainkan martabat dan kehormatan yang tumbuh dari kualitas pribadi. Dahulu, guru dihormati bahkan di luar sekolah. Kata-katanya dipercaya, nasihatnya didengar, dan kehadirannya membawa aura keteladanan. Kini, penghormatan itu tidak lagi otomatis hadir. Ia harus diperjuangkan, dibangun, dan dipelihara—atau perlahan hilang tanpa disadari.

Gejala hilangnya marwah guru tampak dalam banyak bentuk. Suara guru mudah dipotong atau diabaikan. Sikap murid menjadi kurang sopan, bahkan cenderung acuh. Tenggat waktu tugas tidak dipedulikan, dan sosok guru lebih sering dihindari daripada didekati. Dalam beberapa kasus, murid merasa tidak ada konsekuensi moral ketika mengabaikan guru. Hubungan yang seharusnya dilandasi rasa hormat berubah menjadi relasi formal semata: hadir, duduk, pulang, selesai. Di balik semua itu tersimpan paradoks yang menyakitkan—guru menuntut murid melakukan hal-hal yang tidak selalu ia lakukan sendiri.

Guru menuntut murid rajin belajar, tetapi enggan membaca atau memperbarui pengetahuan. Guru mendorong murid berpikir kritis, tetapi tampak apatis terhadap perkembangan ilmu dan isu kontemporer. Guru menginginkan disiplin, namun kerap datang terlambat atau menunda pekerjaan. Guru meminta komunikasi efektif, tetapi tidak melatih diri untuk menyampaikan materi dengan menarik dan relevan. Ketika tuntutan tidak diiringi keteladanan, pesan kehilangan daya moralnya. Murid, yang hidup di era keterbukaan informasi, mampu melihat ketidaksinkronan antara kata dan perbuatan. Mereka mungkin tetap diam, tetapi di dalam hati, rasa hormat perlahan memudar.

Di sinilah letak akar masalahnya: marwah tidak hilang karena murid berubah, melainkan karena guru kehilangan fondasi marwah dalam dirinya sendiri. Marwah tidak bisa dipaksakan dari luar melalui aturan atau ancaman. Ia lahir dari integritas pribadi yang konsisten. Seorang guru bisa saja memiliki otoritas formal, tetapi tanpa kualitas internal, otoritas itu menjadi rapuh. Sebaliknya, guru yang memiliki integritas kuat sering dihormati bahkan tanpa harus meninggikan suara.

Membangun kembali marwah guru harus dimulai dari dalam, bukan dari tuntutan eksternal. Pilar pertama adalah kesadaran marwah diri. Guru perlu memandang profesinya bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan amanah mulia yang menentukan arah masa depan bangsa. Di tangan guru, bukan hanya pengetahuan yang ditransfer, tetapi cara berpikir, nilai hidup, dan karakter generasi mendatang dibentuk. Guru adalah arsitek peradaban yang bekerja dalam senyap. Kesadaran ini menumbuhkan kebanggaan sekaligus tanggung jawab moral. Ketika guru menyadari betapa strategis perannya, ia akan menjaga perilaku, ucapan, dan sikapnya dengan lebih sungguh-sungguh.

Pilar kedua adalah peningkatan kualitas pedagogik. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan merancang pengalaman belajar. Guru perlu menguasai strategi pembelajaran yang menantang sekaligus menyenangkan, yang membuat murid merasa terlibat, bukan dipaksa. Metode diskusi, pembelajaran berbasis proyek, simulasi, atau pemanfaatan teknologi secara kreatif dapat menghidupkan kelas yang sebelumnya pasif. Penilaian pun harus dirancang adil dan bermakna, tidak hanya mengukur hafalan tetapi juga pemahaman dan keterampilan. Murid cenderung menghargai guru yang membuat mereka merasa benar-benar belajar, bukan sekadar diberi pelajaran. Ketika kelas menjadi ruang eksplorasi, bukan ruang hukuman, hubungan emosional antara guru dan murid akan tumbuh.

Pilar ketiga adalah semangat lifelong learning. Di era perubahan cepat, pengetahuan tidak lagi statis. Guru yang berhenti belajar akan segera tertinggal, sementara murid justru terpapar informasi baru setiap hari. Membaca buku dan jurnal, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan sesama guru, bahkan belajar dari murid sendiri menjadi kebutuhan mutlak. Kerendahan hati untuk mengakui bahwa guru juga pembelajar akan meningkatkan kredibilitas di mata murid. Mereka melihat sosok yang terus berkembang, bukan figur yang terjebak dalam rutinitas. Relevansi adalah kunci: guru yang mampu mengaitkan materi dengan realitas kehidupan murid akan lebih mudah didengar.

Pilar keempat adalah keteladanan yang konsisten. Nilai-nilai seperti disiplin, kejujuran, tanggung jawab, dan semangat belajar tidak cukup diajarkan; ia harus ditunjukkan. Keteladanan adalah bahasa universal yang melampaui kata-kata. Guru yang datang tepat waktu, mempersiapkan materi dengan serius, mengakui kesalahan, dan memperlakukan murid dengan hormat akan memperoleh kepercayaan tanpa perlu memintanya. Konsistensi menjadi faktor penentu, karena keteladanan sesekali tidak cukup membangun marwah. Ia harus hadir setiap hari, dalam tindakan kecil sekalipun.

Jika keempat pilar ini dijalankan, perubahan yang terjadi tidak hanya pada guru, tetapi juga pada suasana kelas secara keseluruhan. Guru yang memiliki kualitas dan integritas akan menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Murid datang bukan karena takut absen, tetapi karena merasa ada sesuatu yang berharga untuk didapat. Marwah guru menjadi kokoh—dihargai bukan karena paksaan, melainkan karena kepercayaan. Kelas berubah menjadi ruang yang dinamis: diskusi hidup, tawa sesekali pecah, dan kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan aib yang harus disembunyikan.

Kepribadian guru yang demikian biasanya memadukan ketegasan dan kehangatan. Ia disiplin namun tidak kaku, tegas namun penuh empati. Murid merasa aman untuk bertanya, berpendapat, bahkan berbeda pandangan. Dalam jangka panjang, guru seperti ini tidak hanya berhasil mengajar, tetapi juga membentuk kenangan mendalam. Ia menjadi sosok yang dirindukan di kelas, dihormati di luar kelas, dan dikenang sepanjang hayat. Banyak orang dewasa mengakui bahwa keberhasilan mereka hari ini tidak lepas dari satu atau dua guru yang pernah mempercayai mereka ketika orang lain meragukan.

Pada akhirnya, marwah guru bukanlah hak otomatis yang melekat karena status profesi. Ia adalah tanggung jawab yang harus dibangun dan dijaga setiap hari. Konsistensi antara kata dan perbuatan, kerendahan hati untuk terus belajar, serta keberanian untuk menjadi teladan adalah fondasi utamanya. Tidak ada jalan pintas untuk memperoleh penghormatan sejati. Ia tumbuh perlahan, melalui interaksi yang tulus dan integritas yang tak tergoyahkan.

Ketika guru hadir dengan marwah yang utuh, kelas tidak lagi sekadar ruang transfer pengetahuan, melainkan medan peradaban. Di sana lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter. Murid mungkin akan lupa rumus matematika, tanggal sejarah, atau definisi ilmiah yang pernah diajarkan. Namun mereka hampir tidak pernah lupa bagaimana seorang guru membuat mereka merasa dihargai, dipercaya, dan mampu. Perasaan itulah yang membentuk kepercayaan diri dan arah hidup mereka di masa depan.

Maka, jika hari ini ada guru yang merasa suaranya tidak lagi didengar, mungkin yang perlu dilakukan bukan berteriak lebih keras, melainkan memperdalam kualitas diri. Bukan menuntut hormat, tetapi menumbuhkan alasan untuk dihormati. Marwah sejati tidak datang dari kekuasaan, melainkan dari keteladanan. Dan ketika marwah itu kembali, ruang kelas akan berubah—bukan karena aturan baru, tetapi karena hadirnya sosok guru yang kembali menjadi cahaya bagi generasi yang sedang mencari arah.

Penulis : Lilis Sumantri, S.Sos., Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Mojolaban Sukoharjo

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan