Rabu, 15-04-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Penulis : Terhormat di Panggung, Terlunta di Kehidupan Nyata

Diterbitkan : Jumat, 20 Februari 2026

Kita gemar menyebut penulis sebagai “lentera zaman”. Kita undang mereka ke seminar, kita minta tanda tangan di halaman depan buku, kita foto bersama untuk diunggah di media sosial. Tetapi selepas lampu panggung padam, kehidupan sosial-ekonomi mereka kembali ke titik sunyi: honor tak seberapa, royalti tipis, dan pasar yang dingin.

Pengarang—yang mestinya menjadi inspirator, penggerak kesadaran, penafsir zaman—justru sering terpinggirkan dalam kehidupan nyata. Di negeri dengan tingkat literasi yang masih rendah, profesi ini seperti berjalan melawan arus deras budaya instan. Yang cepat, yang viral, yang sensasional—itulah yang menang. Yang reflektif dan panjang—sering kalah sebelum dibaca.

Guru Menulis, Pasar Diam

Lebih getir lagi ketika yang menulis itu adalah guru.

Guru didorong naik pangkat lewat karya tulis ilmiah. Guru diminta kreatif menulis buku ajar, modul, bahkan karya sastra. Guru dimotivasi untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tetapi ketika karya itu benar-benar lahir, realitas pasar berkata lain: tidak ada pembaca.

Buku hasil jerih payah berbulan-bulan ditawarkan di komunitas literasi—yang anggotanya sarjana, magister, doktor—tetap saja sepi. Respons formalitas, pujian basa-basi, tetapi transaksi nihil. Bahkan untuk membeli satu eksemplar pun terasa berat.

Lebih ironis lagi: jika buku itu dibagikan gratis, belum tentu dibaca. Ia hanya berpindah dari meja penulis ke rak pembaca, lalu berdebu bersama niat baik yang tak pernah sempat tumbuh.

Di sini kita melihat paradoks pahit: guru didorong produktif menulis, tetapi tidak ditopang oleh ekosistem pembaca. Karya tulis ilmiah menjadi syarat administratif, bukan kebutuhan intelektual. Karya kreatif menjadi kebanggaan pribadi, bukan konsumsi publik.

Akhirnya, guru yang menulis sering merasa seperti berbicara kepada dinding. Ia tetap mengajar di kelas, tetapi gagasannya tak pernah benar-benar menjelma menjadi percakapan luas.

Menulis Keresahan, Berhadapan dengan Kekuasaan

Ada lapisan lain yang lebih sensitif. Penulis yang menuliskan keresahan sosial—tentang ketimpangan budaya, ketidakadilan hukum, kesenjangan ekonomi—sering dianggap terlalu kritis. Tulisannya dinilai “tidak nyaman”. Bukan karena salah, tetapi karena menyentuh titik rawan.

Dalam masyarakat yang belum sepenuhnya matang berdialog, kritik kerap disamakan dengan permusuhan. Penulis yang jujur pada realitas bisa dicap provokatif. Ia tidak dilarang secara terang-terangan, tetapi dipinggirkan secara halus: tidak diundang, tidak dipromosikan, tidak diberi ruang.

Yang terjadi bukan keterbukaan ide, melainkan pembungkaman yang tersamar. Bukan debat argumentatif, melainkan penghindaran sistematis. Suara yang berbeda tidak dilawan dengan argumen, tetapi diabaikan hingga lelah.

Di titik ini, pengarang berada di posisi rawan. Jika ia menulis aman, ia kehilangan nurani. Jika ia menulis jujur, ia berisiko kehilangan ruang.

Inspirator Tanpa Insentif

Kita sering menyebut penulis sebagai agen perubahan. Tetapi agen perubahan tanpa insentif adalah idealisme yang dipaksa bertahan dengan tenaga sendiri. Sementara profesi lain yang lebih pragmatis dihargai dengan ukuran ekonomi yang jelas, penulis diminta puas dengan pengakuan moral.

Padahal menulis bukan kerja ringan. Ia menuntut riset, ketekunan, keberanian berpikir, dan kesanggupan menghadapi sepi. Ia memeras waktu keluarga, mengorbankan jam istirahat, dan sering tidak memberikan jaminan finansial yang memadai.

Ketika inspirator justru hidup dalam ketidakpastian sosial-ekonomi, pesan apa yang kita kirimkan kepada generasi muda? Bahwa berpikir kritis itu penting—tetapi jangan berharap hidup layak darinya?

Lingkaran Sunyi Harus Diputus

Masalah ini bukan sekadar soal buku tidak laku. Ini soal budaya yang belum menempatkan gagasan sebagai kebutuhan dasar. Selama membaca belum menjadi kebiasaan, selama kritik belum dianggap vitamin demokrasi, selama karya intelektual hanya dihargai secara simbolis—pengarang akan terus berada di tepi.

Memutus lingkaran ini membutuhkan keberanian kolektif:

  1. Sekolah dan kampus menjadikan karya lokal sebagai bacaan wajib diskusi, bukan sekadar referensi administratif.
  2. Pemerintah benar-benar membeli dan mendistribusikan buku penulis dalam negeri secara sistematis ke perpustakaan.
  3. Komunitas literasi tidak berhenti pada slogan, tetapi membangun tradisi membeli dan membaca.
  4. Media memberi ruang dialog, bukan sekadar sensasi.

Pengarang tidak meminta dimuliakan berlebihan. Ia hanya ingin dihargai secara wajar—dibaca, didiskusikan, dan dihidupi oleh ekosistem yang sehat.

Jika tidak, kita akan terus menyaksikan pemandangan yang sama: para penulis yang berani mengungkap keresahan, tetapi hidup dalam kesunyian; guru-guru yang menulis dengan idealisme, tetapi disambut pasar dengan dingin; dan masyarakat yang kehilangan kesempatan berdialog secara jujur dengan dirinya sendiri.

Dan ketika suara-suara kritis itu benar-benar berhenti menulis, mungkin kita baru sadar: yang sunyi bukan lagi hanya kehidupan pribadi pengarang—melainkan nurani publik kita sendiri.Dan jika itu terjadi, masyarakat semakin miskin literasi, kehancuran peradaban akan segera terjadi.

Ajibarang, 18 Feb 2026

Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

11 Komentar

Diyah Wihartati
Sabtu, 21 Feb 2026

Bagus sekali. Itulah realitasi yang kita hadapi dalam perkembangan literasi kita.

Balas
    Trisnatun, M.Pd
    Sabtu, 21 Feb 2026

    Dan jangan berhenti menulis

    Balas
Brave Banjarnegara
Sabtu, 21 Feb 2026

Kuncinya pada cara penulis menyiasati zaman yang lebih cepat. Penulis harus belajar dan mengalahkan zaman. Tidak bisa bersandar kepada pemerintah atau para pembaca yang sudah berganti sudut pandang.

Balas
    Selasa, 24 Feb 2026

    Setiap perubahan jaman manusia memang harus beradaptasi , menyesuaikan diri dan bersiasat

    Balas
Sabtu, 21 Feb 2026

Mantap. Meski demikian kiranya tidak harus berhenti menulis. Supaya tidak menambah ruang- ruang sepi literasi semakin sunyi.

Balas
    Trisnatun, M.Pd
    Selasa, 24 Feb 2026

    Dam harus ada yang terus membaca ya Pak.Ikut memumbuhkan budaya baca, budaya tulis dan akhirnya baca+tulis

    Balas
Murdo Yoko
Sabtu, 21 Feb 2026

menulislah..maka dunia akan mengenal dan mengenangmu

Balas
    Trisnatun, M.Pd
    Selasa, 24 Feb 2026

    Setidaknya itu terjadi di jaman orang menulis surat cinta nggih Mas Yoko..hehe. pembacanya akan ingat terus kecuali lupa

    Balas
Sabtu, 21 Feb 2026

Apalagi penguasa kita getol membanggakan AI seperti sebagai satu2nya solusi di era saat ini…harusnya buku jangan ditinggalkan, literasi digital digiatkan…royalti penulis jangan hanya 10 prosen

Balas
    Hidayat
    Senin, 23 Feb 2026

    Jaman semakin modern, ketika teknologi Informasi belum secanggih sekarang ini,surat kabar juga laris, terutama Kompas, Jawa Pos, laris manis, sekarang Jawa Pos melaui pernyataan Dahlan Ikhsan selaku pemilik Jawa Pos mengalami kerugian yang sangat besar.
    Dan beliao mengevaluasi penyebab kerugian, dan Alhamdulillah, sekarang molai ada sedikit kemajuan.
    Demikian pula sebagai penulis buku rupanya juga mengalami hal serupa, dengan produk Surat Kabar, barangkali saya unya sedikit penilaian, bahwa Buku buku sekarang, kwalitas kertas juga kurang, sehingga, mempengaruhi kwalitas hurup hurup menjadi kurang jelas, apalagi mata yang sudah usia 60 tahun ke atas semakin kabur.
    Mungkin itu tanggapan saya sebagai orang awam.
    *Hidayat*

    Balas
    Trisnatun, M.Pd
    Selasa, 24 Feb 2026

    Seratus prosen untuk penulis jika mau. Cobalah

    Balas

Beri Komentar

Balasan