Kamis, 04-06-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

UNNES Perkuat Hilirisasi Inovasi, Gandeng DUDI dan Sekolah dalam FGD Komersialisasi Produk

Diterbitkan : - Kategori : Berita / Perguruan Tinggi

SEMARANG — Upaya mempercepat hilirisasi hasil riset dan komersialisasi produk inovasi terus didorong Universitas Negeri Semarang melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema Kolaborasi DUDI dengan Inovator untuk Komersialisasi Produk Inovasi yang digelar di Ruang Borobudur Gedung LPPM UNNES lantai 3, Kamis, 4 Juni 2026.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB itu diikuti dosen inovator Universitas Negeri Semarang, pelaku Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), kepala SMA/SMK, serta mahasiswa. Forum tersebut menjadi ruang diskusi bersama untuk membangun sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, dan industri dalam mempercepat pemanfaatan hasil inovasi agar memiliki nilai ekonomi dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sekretaris LPPM UNNES, Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, membuka secara resmi kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan penelitian dan inovasi, tetapi juga harus mampu membawa hasil riset tersebut masuk ke dunia industri dan dimanfaatkan masyarakat secara luas.

“Melalui FGD ini kami ingin membangun kolaborasi nyata antara inovator kampus dengan dunia usaha dan dunia industri. Produk inovasi yang dihasilkan sivitas akademika harus memiliki kebermanfaatan dan daya saing sehingga mampu dikomersialisasikan,” ujarnya.

Menurutnya, percepatan hilirisasi produk inovasi menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan ekonomi dan penguatan daya saing daerah. Karena itu, sinergi dengan pemerintah, pelaku industri, dan lembaga pendidikan menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan.

Dalam forum tersebut, sejumlah narasumber hadir memberikan pandangan strategis terkait pengembangan inovasi dan penguatan ekosistem riset. Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, Ardian Agung W, menyampaikan materi bertajuk Kekayaan Intelektual untuk Mendorong Inovasi dan Daya Saing Industri. Ia menekankan pentingnya perlindungan kekayaan intelektual bagi para inovator agar produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah dan kepastian hukum dalam proses komersialisasi.

“Kekayaan intelektual menjadi instrumen penting dalam meningkatkan daya saing industri. Inovasi yang dihasilkan harus memiliki perlindungan hukum agar mampu berkembang dan menarik minat dunia usaha,” katanya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Jawa Tengah, Haris Wahyudi, memaparkan materi mengenai Kolaborasi Berdampak Sinergi UNNES untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Jawa Tengah. Ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah sangat penting untuk membangun kualitas sumber daya manusia yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Sekolah membutuhkan dukungan inovasi dari perguruan tinggi, sementara perguruan tinggi juga memerlukan ruang implementasi di dunia pendidikan. Kolaborasi ini harus terus diperkuat agar berdampak langsung pada peningkatan mutu pendidikan,” ujarnya.

Materi berikutnya disampaikan perwakilan BRIDA Provinsi Jawa Tengah, Eny Hari Widowati, yang membahas Peran BRIDA Jawa Tengah dalam Membangun Ekosistem Riset untuk Inovasi Bernilai Komersial. Ia menegaskan bahwa keberhasilan inovasi tidak hanya ditentukan kualitas produk, tetapi juga dukungan ekosistem riset yang berkelanjutan.

“Ekosistem riset harus dibangun secara terintegrasi mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat. Ketika kolaborasi berjalan baik, maka inovasi akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan dikomersialisasikan,” jelasnya.

Diskusi berlangsung dinamis karena para peserta tidak hanya mendengarkan paparan materi, tetapi juga berdialog langsung mengenai tantangan hilirisasi produk inovasi di lapangan. Sejumlah dosen inovator menyampaikan berbagai kendala yang selama ini dihadapi, mulai dari pemasaran produk, sertifikasi, standar mutu industri, hingga akses kerja sama dengan dunia usaha.

Pelaku DUDI yang hadir juga memberikan masukan terkait kebutuhan industri terhadap produk inovasi dari perguruan tinggi. Menurut mereka, inovasi akan lebih mudah diterima pasar apabila memenuhi standar kualitas, memiliki keberlanjutan produksi, serta mampu menjawab kebutuhan konsumen secara nyata.

Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMKN Jateng di Semarang, Zanuar Nur Wahyudi. Ia menilai FGD tersebut memberikan wawasan penting bagi sekolah, khususnya SMK, dalam memahami standar mutu produk yang dapat diterima dunia industri dan pasar.

“FGD ini sangat bermanfaat karena memberikan gambaran kepada sekolah, terutama SMK, terkait standar mutu produk yang dihasilkan sekolah, khususnya produk Teaching Factory atau TEFA agar dapat dikomersialkan dan diterima konsumen secara luas,” ungkapnya.

Menurut Zanuar, penguatan kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, dan industri menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Produk hasil karya siswa tidak hanya perlu unggul dari sisi kreativitas, tetapi juga harus memiliki kualitas dan daya saing agar mampu masuk ke pasar yang lebih luas.

Ia berharap forum semacam ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga sekolah memperoleh ruang belajar yang lebih luas mengenai pengembangan inovasi dan hilirisasi produk pendidikan vokasi.

Melalui FGD tersebut, Universitas Negeri Semarang menegaskan komitmennya untuk terus membangun kolaborasi strategis dengan berbagai pihak dalam memperkuat hilirisasi hasil riset dan inovasi. Sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan sekolah diharapkan mampu menciptakan ekosistem inovasi yang produktif, berdaya saing, dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan