Berbicara di depan orang lain menjadi salah satu hal yang ditakuti sebagian orang. Begitu juga dengan siswa. Ada siswa yang bersemangat saat mempresentasikan hasil kerja, ada pula yang diam saja karena tidak percaya diri saat diharuskan tampil di depan kelas. Kondisi ini terjadi dalam kelas Bahasa Indonesia kelas X. Beberapa siswa masih malu-malu untuk mengungkapkan pendapat ataupun mempresentasikan hasil kerja mereka. Tentu saja ini menjadi tantangan bagi pembelajaran Bahasa Indonesia yang notabene adalah pembelajaran untuk berkomunikasi.
Sementara itu, salah satu materi pembelajaran Bahasa Indonesia fase E yang memerlukan kepercayaan diri untuk berbicara adalah negosiasi. Negosiasi merupakan bentuk interaksi sosial yang melibatkan dua pihak atau lebih dengan kepentingan berbeda untuk mencapai kesepakatan bersama dan menyelesaikan perbedaan melalui dialog. Dalam dunia bisnis, negosiasi merupakan proses tawar-menawar untuk menetapkan keputusan yang dapat diterima kedua belah pihak terkait tindakan di masa depan. Selain sebagai alat komunikasi transaksional, negosiasi dianggap sebagai cara yang lebih efektif daripada kekerasan dalam menyelesaikan konflik atau perbedaan kepentingan.
Negosiasi merupakan materi yang penting sebagai salah satu softskill yang perlu dimiliki siswa sebagai modal untuk persiapan menghadapi dunia kerja. Dalam dunia kerja nantinya siswa akan dihadapkan pada masalah-masalah yang perlu dinegosiasikan. Misalnya, menegosiasikan harga barang mentah yang akan diolah menjadi bahan jadi, menegosiasikan gaji yang akan diterima, dan lain-lain.
Tantangan yang dihadapi secara umum dalam pembelajaran teks negosiasi adalah struktur teks negosiasi yang dibuat siswa tidak lengkap, terutama sering menghilangkan orientasi dalam teks negosiasi yang disusun; berkurangnya kesantunan berbahasa di kalangan remaja, yaitu dengan langsung ke inti pembicaraan tanpa memperhatikan kata sapaan atau etika; sering kali merasa tidak tertarik pada tugas menulis atau pelajaran Bahasa Indonesia karena dianggap membosankan; siswa mengalami kendala dalam mengungkapkan ide secara logis, komunikatif, dan persuasif untuk mencapai kesepakatan; dan banyak siswa yang belum memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi situasi negosiasi yang nyata di lapangan.
Tantangan ini juga ada di pembelajaran Bahasa Indonesia di SMKN Jateng di Semarang, terutama tingkat kepercayaan diri siswa untuk berbicara di depan kelas tidak begitu tinggi. Masih ada siswa yang malu-malu dan takut melakukan kesalahan saat berbicara di depan umum. Kadang mereka malah tidak mau mengungkapkan pendapat karena malas berdebat dengan teman lainnya. Padahal, mereka memiliki potensi yang besar. Selama masa pembelajaran, tidak ada kata salah, semua adalah proses yang perlu dilalui agar mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.
Dari tantangan-tantangan tersebut guru Bahasa Indonesia perlu memikirkan dan merencanakan pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk belajar bernegosiasi dengan lebih menyenangkan. Metode pembelajaran konvensional seperti ceramah dalam memberikan materi tidak cukup untuk memberikan pengalaman nyata bagi siswa dalam bernegosiasi. Metode pembelajaran yang menarik dan kontekstual diperlukan tidak hanya untuk memberikan pengalaman nyata, tetapi juga mampu mengasah kepercayaan diri siswa untuk berbicara di depan umum.
Model pembelajaran yang berpusat pada siswa diperlukan untuk mendorong siswa mengerahkan segala daya dan potensi yang dimiliki sehingga mereka memiliki kemampuan bernegosiasi yang baik. Salah satu pembelajaran yang digunakan adalah role playing atau bermain peran.
Role playing (bermain peran) merupakan metode pembelajaran yang menghadirkan peran di kehidupan sehari-hari untuk ditampilkan di kelas. Metode pembelajaran role playing memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan, mengungkapkan, mengekspresikan suatu perilaku, sikap, atau apa yang dipikirkan apabila ia menjadi sosok yang tengah diperankannya. Siswa perlu kepercayaan diri agar peran yang ditampilkan mampu diterima utuh oleh siswa lainnya yang mengamati.
Metode role playing yang dilaksanakan dalam pembelajaran bernegosiasi di kelas X SMKN Jateng di Semarang merupakan metode yang sintaksnya dimodifikasi. Beberapa modifikasi yang dilaksanakan adalah cerita dan naskah role playing disusun sendiri oleh siswa secara berkelompok, guru hanya memberikan arahan garis besar apa yang perlu diperankan, siswa dalam kelompok secara bergantian menampilkan peran dari naskah yang dibuat, dan siswa yang melihat, menyimak, dan mengamati akan memberikan tanggapan, komentar, atau penilaian dari penampilan peran kelompok lain.
Salah satu pembelajaran role playing bernegosiasi dilaksanakan di kelas X Teknik Elektronika Industri. Ada kelompok yang meyajikan bagaimana tukang servis elektronika bernegosiasi dengan klien yang ingin memperbaiki peralatan elektronikanya. Mereka bernegosiasi tentang harga servis, apa saja yang perlu diganti, dan berapa lama masa servis barang tersebut. Negosiasi ini berjalan lancar, masing-masing siswa memerankan peran dengan baik, baik sebagai tukang servis, maupun sebagai kliennya. Begitu pun di kelas X Teknik Kendaran Ringan, siswa menampilkan role playing bertemakan servis kendaraan.
Sementara itu pembelajaran di kelas lainnya, di kelas X Teknik Instalasi Tenaga Listrik, mempraktikkan negosiasi dalam bidang penjualan barang. Ada yang memerankan sebagai karyawan toko, pemilik toko atau perusahaan, atau pembeli. Masing-masing siswa memerankan perannya dengan baik, meskipun masih ada yang sambil mengingat naskah karena grogi dilihat teman-teman lainnya.
Dari penampilan tersebut, ada beberapa siswa dari kelompok lain (kelompok yang mengamati penampilan) memberikan komentar, tanggapan, dan penilaian tentang bagaimana siswa memerankan peran sebagai pemilik rumah, pemilik tempat servis, mekanik, penjual atau pun pembeli. Tanggapan tersebut juga beragam. Ada yang menanggapi penggunaan bahasa. Ada yang menanggapi bagian-bagian negosiasi. Ada pula yang menanggapi ekspresi wajah dan cara memerankan.
Penampilan memerankankan tokoh dan saling memberikan tanggapan ini membuat suasana kelas menjadi hidup. Siswa merasa lebih senang, apalagi saat diberikan kesempatan untuk mengomentari penampilan teman-temannya. Ada kritikan yang bagus dan membangun. Ada pengingat untuk memperbaiki penampilan. Ada juga apresiasi yang luar biasa untuk penampilan temannya.
Dalam pembelajaran ini, tidak hanya performansi siswa dalam memerankan tokoh dalam bernegosiasi yang dinilai, tetapi juga ada reward penambahan nilai untuk siswa yang memberikan tanggapan. Tentu saja ini akan menambah motivasi siswa untuk mau dan percaya diri dalam mengungkapkan pendapatnya di kelas.
Dari pengalaman pembelajaran role playing dalam materi bernegosiasi ini, didapatkan beberapa manfaat sekaligus. Pertama, siswa lebih percaya diri dalam berbicara di kelas karena mendapatkan peran yang jelas dan tampil tidak sendirian (bersama kelompok), serta mendapatkan kesempatan bicara yang bebas untuk mengungkapkan pendapatnya setelah melihat penampilan siswa lain. Kedua, siswa mendapatkan pengalaman nyata dalam bernegosiasi sehingga mendapatkan gambaran bagaimana negosiasi di dunia kerja nantinya. Ketiga, suasana kelas lebih hidup dan menyenangkan. Keempat, pembelajaran ini mengasah interaksi sosial antarsiswa dan siswa dengan guru sehingga ada ikatan yang kuat untuk memperkuat pembelajaran Bahasa Indonesia.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran role playing dapat meningkatkan semangat siswa untuk belajar bernegosiasi dan melatih kepercayaan diri siswa untuk berbicara di kelas. Pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Dari manfaat-manfaat tersebut, metode pembelajaran role playing dapat menjadi alternatif pembelajaran Bahasa Indonesia untuk menciptakan pengalaman nyata di kelas, terutama dunia kerja untuk pembelajaran di kelas sekolah menengah kejuruan (SMK).
Penulis: Daning Wahyu Rokhana, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia SMKN Jateng di Semarang

Beri Komentar