Semarang – Upaya membangun generasi muda yang sehat tidak cukup hanya melalui pendidikan akademik, tetapi juga harus diawali dengan kondisi kesehatan peserta didik yang terpantau secara menyeluruh. Semangat itulah yang menjadi dasar pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi siswa kelas X SMKN Jateng di Semarang yang diselenggarakan oleh Puskesmas Bulu Lor Kota Semarang di lingkungan SMKN Jateng di Semarang, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) Sekolah yang bertujuan mendeteksi secara dini berbagai faktor risiko kesehatan pada remaja sehingga dapat dilakukan intervensi sejak awal.
Program tersebut menyasar seluruh peserta didik baru kelas X yang semuanya akan tinggal di asrama sekolah. Pemeriksaan dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan tenaga kesehatan Puskesmas, guru UKS, guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK), serta dukungan penuh dari pihak sekolah. Seluruh hasil pemeriksaan nantinya akan diinput secara digital ke dalam Website ASIK (Aplikasi Sehat IndonesiaKu) sehingga terintegrasi dengan rekam medis elektronik pada platform Satu Sehat.
Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program tersebut karena memberikan manfaat besar dalam mendukung pembinaan kesehatan peserta didik, khususnya bagi siswa yang akan menjalani kehidupan di asrama.
“Kami menyambut baik pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis bagi siswa kelas X SMKN Jateng di Semarang. Data hasil pemeriksaan kesehatan ini menjadi pedoman yang sangat penting bagi sekolah dalam mempersiapkan pengawalan kesehatan anak selama tinggal di asrama. Dengan mengetahui kondisi kesehatan sejak awal, sekolah bersama Puskesmas dapat memberikan pendampingan, pemantauan, maupun penanganan yang lebih tepat apabila ditemukan faktor risiko tertentu,” ujar Ardan.
Menurutnya, keberadaan data kesehatan yang lengkap akan membantu sekolah merancang pola pembinaan yang lebih efektif, mulai dari pengaturan pola makan, aktivitas olahraga, hingga layanan kesehatan di lingkungan asrama. Ia berharap program tersebut dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga perkembangan kesehatan siswa dapat terus dipantau.
Pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis ini dilatarbelakangi masih tingginya berbagai persoalan kesehatan anak dan remaja di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 dan Global School-based Student Health Survey (GSHS) Tahun 2023, remaja masih menghadapi berbagai tantangan mulai dari masalah gizi, kesehatan mental, hingga perilaku berisiko. Kasus obesitas dan anemia pada remaja masih menjadi perhatian, diiringi tingginya konsumsi minuman berpemanis yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit tidak menular di usia produktif.
Selain itu, persoalan kesehatan mental juga menjadi tantangan serius. Masih ditemukan remaja yang mengalami gejala depresi hingga percobaan bunuh diri sehingga diperlukan deteksi dini melalui skrining kesehatan jiwa. Dari sisi perilaku berisiko, angka perokok usia dini masih cukup tinggi, termasuk berbagai persoalan kesehatan reproduksi yang ditandai dengan masih adanya dispensasi kawin pada usia remaja.
Gaya hidup remaja juga menjadi perhatian pemerintah. Kurangnya aktivitas fisik, waktu tidur yang belum mencukupi, serta kebiasaan mencuci tangan yang belum optimal menjadi faktor yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan peserta didik dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan tidak hanya difokuskan pada kondisi fisik, tetapi juga mencakup aspek perilaku dan gaya hidup.
Dalam Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis Sekolah, sasaran pemeriksaan sebenarnya mencakup seluruh peserta didik mulai dari jenjang SD/MI hingga SMA/SMK/MA serta pondok pesantren. Khusus siswa SMA atau SMK berusia 16 hingga 17 tahun, terdapat 14 jenis pemeriksaan yang dilakukan. Pemeriksaan tersebut meliputi pengukuran status gizi, pemeriksaan tekanan darah, kesehatan gigi, pemeriksaan kadar gula darah sewaktu (GDS), pemeriksaan anemia khusus remaja putri kelas X melalui pemeriksaan hemoglobin (Hb), kesehatan reproduksi, pemeriksaan mata, telinga, hingga skrining kesehatan jiwa dan faktor risiko penyakit lainnya.
Sebelum pelaksanaan pemeriksaan, berbagai tahapan persiapan telah dilakukan secara terpadu. Puskesmas Bulu Lor Kota Semarang bertugas memetakan sasaran peserta, mendaftarkan sekolah ke Website ASIK, menyiapkan jadwal kegiatan, tenaga kesehatan, peralatan, serta Bahan Medis Habis Pakai (BMHP). Di sisi lain, sekolah melakukan pendataan peserta didik, menyiapkan dua ruang pemeriksaan yang salah satunya memiliki panjang lebih dari enam meter untuk pemeriksaan mata menggunakan Snellen Chart, menyiapkan lapangan olahraga, serta menunjuk Guru UKS dan Guru PJOK sebagai pendamping kegiatan.
Sementara itu, siswa bersama orang tua diwajibkan melakukan pendaftaran melalui aplikasi Satu Sehat Mobile maupun layanan WhatsApp Chatbot, mengisi informed consent sebagai bentuk persetujuan tindakan medis, serta melengkapi kuesioner skrining mandiri paling lambat tujuh hari sebelum pelaksanaan pemeriksaan. Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Provinsi maupun Kabupaten/Kota juga berperan melakukan koordinasi lintas sektor, pemetaan fasilitas pelayanan kesehatan, serta distribusi sasaran pemeriksaan.
Pelaksanaan kegiatan diawali sejak H-7 dengan sosialisasi kepada orang tua dan peserta didik sekaligus pembagian tautan pengisian kuesioner skrining kesehatan. Dua hari sebelum pemeriksaan atau H-2, pihak Puskesmas memastikan seluruh kuesioner telah diisi dan seluruh BMHP dalam kondisi siap digunakan.
Pada hari pelaksanaan, alur pemeriksaan dibagi ke dalam beberapa lokasi. Di ruang pertama, yang didampingi Guru UKS, dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan kesehatan gigi, pemeriksaan kadar hemoglobin untuk mendeteksi anemia, serta pemeriksaan gula darah sewaktu. Selanjutnya di ruang kedua, tenaga kesehatan Puskesmas melakukan pemeriksaan telinga, pemeriksaan mata, serta evaluasi hasil kuesioner yang mencakup kesehatan jiwa, risiko tuberkulosis, perilaku merokok, dan berbagai faktor risiko kesehatan lainnya.
Sementara itu, di lapangan sekolah, petugas memandu pelaksanaan tes kebugaran berupa lari 1.600 meter bagi peserta didik SMK setelah terlebih dahulu dipastikan aman melalui pengisian kuesioner Par-Q Child. Seluruh rangkaian pemeriksaan berlangsung secara sistematis agar seluruh peserta memperoleh layanan yang sama tanpa mengganggu aktivitas pembelajaran.
Untuk mendukung kelancaran kegiatan, sekolah menyediakan berbagai sarana seperti timbangan digital, stadiometer untuk pengukuran tinggi badan, Snellen Chart untuk pemeriksaan mata, stopwatch, ruang pemeriksaan, serta lapangan olahraga. Adapun Puskesmas menyediakan berbagai peralatan medis seperti penlight, tensimeter digital anak, glukometer, alat pemeriksaan hemoglobin, lancet, alkohol swab, strip pemeriksaan gula darah dan Hb, hingga Rapid Diagnostic Test (RDT) Hepatitis B dan Hepatitis C sesuai kebutuhan pemeriksaan.
Seluruh hasil pemeriksaan kesehatan kemudian dicatat secara digital melalui Website ASIK oleh tenaga kesehatan yang telah ditunjuk. Sistem tersebut memungkinkan data kesehatan peserta didik tersimpan secara terintegrasi dalam rekam medis elektronik Satu Sehat sehingga memudahkan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan.
Program ini tidak berhenti pada proses pemeriksaan semata. Apabila ditemukan peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan maupun memiliki faktor risiko tertentu, mereka akan dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat pertama, Puskesmas, atau rumah sakit sesuai indikasi medis. Selain tindak lanjut secara individu, Puskesmas juga akan melakukan analisis hasil pemeriksaan secara kelompok. Jika ditemukan permasalahan kesehatan yang dominan, seperti tingginya kasus karies gigi, maka akan diselenggarakan penyuluhan sikat gigi massal. Apabila banyak siswa mengalami obesitas atau tingkat kebugaran rendah, akan dirancang program intervensi berupa edukasi gizi, pengaturan pola makan, serta aktivitas olahraga rutin di sekolah.
Keberhasilan Program Cek Kesehatan Gratis juga ditopang melalui sinergi lintas sektor. Dinas Pendidikan berperan menyediakan data sekolah, menerbitkan surat edaran, serta melakukan monitoring pelaksanaan kegiatan. Kantor Kementerian Agama mendukung pendataan dan koordinasi pelaksanaan pada madrasah maupun pondok pesantren. Sementara itu, Dinas Sosial berperan menyediakan data serta mengoordinasikan pelaksanaan program bagi Sekolah Rakyat dan kelompok anak rentan agar seluruh peserta didik memperoleh akses pelayanan kesehatan yang setara.
Melalui kolaborasi antara Puskesmas, sekolah, pemerintah daerah, orang tua, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, Program Cek Kesehatan Gratis di SMKN Jateng di Semarang diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal. Dengan data kesehatan yang akurat sejak awal masa pendidikan, sekolah memiliki dasar yang kuat untuk mengawal kesehatan siswa selama menempuh pendidikan dan tinggal di asrama, sehingga mereka dapat belajar, berprestasi, dan berkembang secara maksimal.

Beri Komentar