Minggu, 23-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Dari Fix Mindset ke Growth Mindset, Kepala SMKN Jateng di Semarang Dorong Transformasi Sekolah Penuh Masalah Menjadi Langganan Juara

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Upaya membangun budaya pembelajaran yang berorientasi pada perubahan dan peningkatan kualitas terus dilakukan melalui kegiatan Pendampingan dengan FKK (8 JP) Siklus 2. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026, pukul 07.45 hingga 15.30 WIB tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus pembelajaran bagi peserta untuk memahami pentingnya perubahan pola pikir dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Kegiatan pendampingan menghadirkan Rina Candrawati, S.Pd., M.Pd., sebagai fasilitator. Dalam pendampingan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai Intervensi Pola Pikir PPT ke PPB serta Implementasi Pendekatan Pembelajaran Mendalam. Kedua materi tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman peserta bahwa perubahan kualitas pembelajaran tidak hanya bergantung pada metode atau perangkat pembelajaran, tetapi juga pada pola pikir pendidik dalam melihat potensi diri dan peserta didik.

Salah satu agenda utama kegiatan adalah paparan praktik baik dari peserta mengenai intervensi Fix Mindset Guru menjadi Growth Mindset. Paparan tersebut memberikan gambaran nyata tentang bagaimana perubahan cara pandang guru dapat menjadi pintu masuk bagi perubahan yang lebih luas di lingkungan sekolah. Peserta diajak melihat bahwa guru tidak boleh berhenti pada anggapan bahwa kemampuan siswa maupun dirinya sendiri bersifat tetap, melainkan harus memiliki keyakinan bahwa kemampuan dapat terus dikembangkan melalui proses belajar, latihan, refleksi, dan pengalaman.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala SMKN Jateng di Semarang juga mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan praktik baik mengenai intervensi Fix Mindset Guru menjadi Growth Mindset. Paparan tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik karena menghadirkan pengalaman transformasi sekolah yang berangkat dari perubahan pola pikir warga sekolah.

Dalam paparannya, disampaikan pengalaman mengubah SMKN 10 Semarang dari sekolah yang sebelumnya menghadapi berbagai persoalan menjadi sekolah yang mampu menorehkan berbagai prestasi dan dikenal sebagai sekolah langganan juara. Transformasi tersebut tidak semata-mata dilakukan melalui perubahan program atau kebijakan, tetapi diawali dengan upaya mengubah mindset guru dari Fix Mindset menuju Growth Mindset.

Perubahan pola pikir menjadi fondasi penting dalam proses tersebut. Guru didorong untuk tidak lagi memandang persoalan sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah. Sebaliknya, berbagai tantangan ditempatkan sebagai peluang untuk belajar, melakukan evaluasi, mencoba pendekatan baru, dan menemukan strategi yang lebih efektif.

“Yang kami lakukan adalah mengubah mindset guru dari fix mindset menjadi growth mindset. Ketika pola pikir guru berubah, cara melihat masalah juga berubah. Dari yang sebelumnya melihat masalah sebagai hambatan, kemudian melihatnya sebagai peluang untuk belajar dan melakukan perbaikan,” ujar Kepala SMKN Jateng di Semarang dalam paparannya.

Menurutnya, perubahan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan transformasi sekolah. Ketika guru mulai memiliki keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang, semangat untuk mencoba berbagai inovasi pembelajaran juga semakin terbuka. Guru tidak lagi mudah menyerah ketika menghadapi kendala, sementara siswa mendapatkan lingkungan belajar yang lebih positif dan mendorong mereka untuk berkembang.

Paparan praktik baik tersebut sekaligus menjadi bahan refleksi bagi peserta pendampingan. Para peserta diajak memahami bahwa intervensi pola pikir tidak dapat dilakukan secara instan. Perubahan membutuhkan proses, konsistensi, keteladanan, komunikasi, serta dukungan dari seluruh warga sekolah.

Selain paparan praktik baik, kegiatan Pendampingan dengan FKK Siklus 2 juga diisi dengan diskusi. Peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan, pengalaman, maupun tantangan yang mereka hadapi dalam menerapkan perubahan pola pikir di lingkungan pendidikan. Diskusi berlangsung sebagai ruang berbagi untuk menemukan kemungkinan solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah.

Kegiatan berikutnya adalah pengisian lembar kerja. Melalui aktivitas tersebut, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diarahkan untuk mengolah pemahaman dan menghubungkannya dengan kondisi nyata di lapangan. Lembar kerja menjadi instrumen untuk membantu peserta melakukan refleksi serta menyusun pemikiran secara lebih sistematis mengenai intervensi pola pikir dan penerapan pembelajaran mendalam.

Peserta juga melakukan kegiatan menganalisis video. Aktivitas ini memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual karena peserta diajak mengamati situasi pembelajaran, mengidentifikasi persoalan, serta melihat bagaimana pendekatan pembelajaran dapat dikembangkan secara lebih mendalam. Analisis video menjadi sarana untuk mengasah kemampuan peserta dalam melakukan observasi, refleksi, dan pengambilan kesimpulan berdasarkan situasi yang ditampilkan.

Materi Intervensi Pola Pikir PPT ke PPB menjadi bagian penting dalam keseluruhan kegiatan. Perubahan pola pikir diarahkan agar tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi dapat diterjemahkan menjadi perilaku dan praktik nyata. Guru diharapkan mampu membangun keyakinan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan meningkatkan kemampuan melalui proses yang berkelanjutan.

Sementara itu, Implementasi Pendekatan Pembelajaran Mendalam memberikan perspektif bahwa proses belajar perlu dirancang agar peserta didik tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu memahami, mengolah, menghubungkan, dan menerapkan pengetahuan secara bermakna. Pendekatan tersebut membutuhkan peran guru yang reflektif dan terbuka terhadap perubahan.

Fasilitator Rina Candrawati, S.Pd., M.Pd., mengarahkan peserta agar kegiatan pendampingan menjadi proses belajar yang aktif. Peserta tidak hanya mendengarkan paparan, tetapi juga terlibat melalui diskusi, pengisian lembar kerja, analisis video, serta refleksi terhadap praktik yang telah dilakukan.

“Perubahan pembelajaran harus dimulai dari perubahan cara berpikir. Ketika guru memiliki growth mindset, guru akan lebih terbuka untuk belajar, mencoba, melakukan refleksi, dan memperbaiki praktik pembelajarannya,” ujar Rina Candrawati.

Ia menekankan bahwa growth mindset bukan sekadar istilah, melainkan pola pikir yang perlu diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Guru yang memiliki growth mindset akan melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar dan menjadikan tantangan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kompetensi.

Kisah transformasi sekolah yang disampaikan dalam paparan praktik baik menjadi bukti bahwa perubahan pola pikir dapat memberikan dampak luas apabila dilakukan secara konsisten. Perubahan dari sekolah yang penuh masalah menjadi sekolah langganan juara menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak selalu harus dihadapi dengan pendekatan yang sama. Diperlukan keberanian untuk melakukan perubahan, membangun budaya positif, serta menggerakkan seluruh warga sekolah menuju tujuan bersama.

Kegiatan Pendampingan dengan FKK (8 JP) Siklus 2 pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda penguatan kompetensi, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa transformasi pendidikan bermula dari manusia yang menjalankannya. Guru sebagai penggerak pembelajaran memiliki posisi strategis dalam membentuk budaya sekolah yang adaptif, reflektif, dan berorientasi pada kemajuan.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan mampu membawa semangat growth mindset ke lingkungan sekolah masing-masing. Perubahan kecil dalam cara guru memandang diri sendiri, siswa, tantangan, dan proses pembelajaran dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih besar. Sebab, sekolah yang berkembang bukan hanya sekolah yang memiliki program unggulan, tetapi sekolah yang warganya memiliki kemauan untuk terus belajar dan bertumbuh.

Pengalaman transformasi SMKN 10 Semarang yang dibagikan dalam kegiatan tersebut menjadi pesan kuat bahwa prestasi bukanlah hasil yang muncul secara tiba-tiba. Di balik keberhasilan sebuah sekolah terdapat proses panjang membangun keyakinan, mengubah kebiasaan, memperbaiki praktik, dan menjaga semangat untuk terus berkembang. Dari perubahan mindset guru, terbuka jalan menuju perubahan budaya sekolah dan peningkatan prestasi siswa.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan