JAKARTA — Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi pendidikan vokasi melalui penyelenggaraan Webinar Series Digitalisasi SMK bertajuk “Implementasi Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di SMK untuk Mencetak Generasi Inovatif, Kreatif, Adaptif, dan Futuristik.” Kegiatan yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Direktorat SMK pada Sabtu (27/6/2026) pukul 09.00 WIB ini diikuti ratusan guru SMK dari berbagai daerah di Indonesia.
Webinar menghadirkan narasumber utama, Dr. Siyamta, S.Pd., S.ST., M.T., Ahli Madya Pengembang Teknologi Pembelajaran Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang. Acara dipandu oleh moderator Bayu Gusari dari Direktorat SMK yang mengarahkan jalannya diskusi interaktif mengenai strategi implementasi pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial di lingkungan pendidikan vokasi.
Pelaksanaan webinar ini menjadi bagian dari langkah konkret pemerintah dalam mempersiapkan lulusan SMK agar mampu menjawab kebutuhan dunia kerja yang semakin terdigitalisasi. Penguasaan koding dan kecerdasan artifisial dinilai sebagai kompetensi baru yang tidak lagi bersifat tambahan, melainkan menjadi fondasi penting bagi pengembangan sumber daya manusia di era industri modern.
Dalam pemaparannya, Dr. Siyamta menjelaskan bahwa koding merupakan proses memberikan instruksi kepada komputer melalui bahasa pemrograman agar mesin dapat memahami dan menjalankan perintah manusia. Sementara itu, Kecerdasan Artifisial atau Artificial Intelligence (AI) adalah cabang ilmu komputer yang memungkinkan mesin melakukan tugas yang umumnya memerlukan kecerdasan manusia, mulai dari pengenalan suara, analisis data, hingga pengambilan keputusan berbasis pola.
Menurut Dr. Siyamta, pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di SMK dirancang bukan semata untuk mengajarkan teknologi, tetapi membangun pola pikir pemecahan masalah yang sistematis dan kolaboratif. Ia menekankan bahwa penguasaan teknologi harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis serta kreativitas dalam menciptakan solusi.
“Coding dan KA bukan sekadar teknologi, melainkan tentang bagaimana kita bisa menciptakan solusi, membangun kolaborasi, dan mempersiapkan masa depan yang gemilang bagi anak didik kita,” ujar Dr. Siyamta di hadapan peserta webinar.
Ia memaparkan bahwa implementasi KKA di SMK mencakup enam elemen utama yang saling terintegrasi, yakni berpikir komputasional, literasi digital, algoritma dan pemrograman, analisis data, literasi dan etika AI, serta pemanfaatan dan pengembangan AI. Keenam aspek tersebut dirancang untuk membentuk ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi global.
Salah satu poin penting yang menjadi sorotan dalam webinar tersebut adalah perubahan pola pikir para pendidik. Dr. Siyamta mengakui bahwa masih terdapat kekhawatiran di kalangan guru terkait perkembangan AI, terutama anggapan bahwa teknologi tersebut dapat menggantikan peran guru atau memicu ketergantungan siswa sehingga menurunkan kemampuan berpikir mandiri.
Namun, ia menegaskan bahwa AI bukan ancaman bagi profesi pendidik, melainkan alat bantu yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran jika digunakan secara tepat.
“AI diciptakan untuk membantu manusia, bukan menggantikan manusia. Guru tetap memiliki peran sentral dalam mendidik, membimbing, dan menanamkan nilai. Yang perlu kita lakukan adalah mentransformasi praktik pembelajaran agar lebih relevan dengan zaman,” tegasnya.
Untuk mendukung implementasi KKA secara lebih konkret, BBPPMPV BOE Malang telah mengembangkan lima modul ajar yang disesuaikan dengan berbagai kompetensi keahlian di SMK, termasuk bidang otomotif, elektronika, dan teknik mesin. Materi disusun agar mudah diadaptasi oleh guru sesuai karakteristik jurusan dan kebutuhan industri.
Pembelajaran koding pun diarahkan agar lebih aplikatif dan menarik bagi siswa. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah penggunaan aplikasi Flogorithm untuk membantu siswa memahami logika algoritma secara visual sebelum masuk ke tahap penulisan kode menggunakan bahasa pemrograman seperti Python. Metode ini dinilai efektif untuk memperkenalkan konsep pemrograman kepada peserta didik yang masih berada pada tahap awal pembelajaran.
Dalam sesi demonstrasi, peserta juga diperlihatkan berbagai contoh penerapan AI yang dapat digunakan dalam pembelajaran vokasi. Beberapa aplikasi yang ditampilkan antara lain simulator mesin empat tak, kalkulator resistor digital, aplikasi penghitung berat badan ideal, hingga sistem analisis foto digital berbasis AI. Demonstrasi tersebut menunjukkan bagaimana AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar yang interaktif dan kontekstual.
Selain aspek teknis, webinar juga menyoroti pentingnya etika dalam penggunaan teknologi digital. Dr. Siyamta menegaskan bahwa penerapan AI di dunia pendidikan harus tetap mengedepankan nilai moral, integritas, dan tanggung jawab.
“Adab harus tetap didahulukan sebelum ilmu. Dalam menggunakan AI, siswa harus diajarkan untuk tetap jujur, kritis, menghargai hak cipta, dan memahami batas penggunaan teknologi secara bertanggung jawab,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan digital di tengah intensitas penggunaan perangkat elektronik yang semakin tinggi. Pengaturan waktu layar atau screen time menjadi salah satu aspek yang harus diperhatikan agar siswa tetap memiliki keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi sosial di dunia nyata.
Lebih jauh, implementasi KKA di SMK kini telah memiliki landasan kebijakan dan peta jalan yang jelas hingga tahun 2029. Berdasarkan kebijakan terbaru, koding dan kecerdasan artifisial diposisikan sebagai mata pelajaran pilihan yang dapat diajarkan mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Strategi pembelajarannya pun fleksibel, mulai dari metode berbasis internet, menggunakan perangkat (plugged), hingga tanpa perangkat (unplugged) untuk mengakomodasi perbedaan infrastruktur antarwilayah.
Moderator webinar, Bayu Gusari, menilai antusiasme peserta menunjukkan tingginya kesadaran para pendidik terhadap pentingnya transformasi digital di SMK. Menurutnya, webinar ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus penguatan kapasitas guru agar tidak tertinggal oleh laju perkembangan teknologi.
“Kami melihat semangat guru-guru SMK luar biasa. Ini menandakan transformasi digital di pendidikan vokasi bukan lagi wacana, tetapi sudah menjadi kebutuhan yang harus segera diimplementasikan,” ujarnya.
Menutup sesi webinar, Dr. Siyamta mengajak seluruh pendidik untuk terus meningkatkan learning agility, yakni kemampuan belajar cepat dari pengalaman baru dan beradaptasi terhadap perubahan. Menurutnya, kesuksesan di masa depan tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan statis, tetapi oleh kemampuan seseorang untuk terus belajar dan beradaptasi.
“Orang yang akan unggul di masa depan bukan hanya mereka yang paling pintar, tetapi mereka yang paling cepat belajar, beradaptasi, dan berani menghadapi perubahan,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, balai pelatihan, industri, dan sekolah, transformasi digital di SMK diharapkan mampu melahirkan generasi vokasi yang inovatif, kreatif, adaptif, dan siap bersaing di tingkat global. Webinar ini menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi Indonesia terus bergerak menuju masa depan yang lebih modern dan relevan dengan kebutuhan industri berbasis teknologi.

Beri Komentar