SEMARANG – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembukaan Diklat Online dan Mentoring (Dolmen) 2026 yang digelar secara daring pada Kamis (7/5/2026). Kegiatan yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah tersebut mengangkat tema “STELA (School, Technology, Education, Love and Action)” sebagai spirit transformasi pendidikan berbasis teknologi, kolaborasi, dan aksi nyata.
Program Dolmen 2026 menjadi salah satu langkah strategis pemerintah provinsi dalam memperkuat kapasitas Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) di Jawa Tengah. Ribuan peserta dari jenjang SMA, SMK, dan SLB, baik negeri maupun swasta, mengikuti pembukaan kegiatan dengan penuh antusias dari berbagai daerah.
Acara pembukaan secara resmi dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan GTK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Sodikin, S.Sos., M.Si., yang hadir mewakili Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Dalam sambutannya, Sodikin menegaskan bahwa Dolmen merupakan satu-satunya platform diklat daring resmi milik Disdik Jateng yang dirancang khusus untuk meningkatkan profesionalisme pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, hingga tenaga kependidikan.
Menurutnya, perkembangan dunia pendidikan saat ini menuntut seluruh insan pendidikan untuk terus beradaptasi dengan perubahan teknologi, karakter peserta didik, hingga kebutuhan dunia kerja. Karena itu, peningkatan kompetensi guru tidak lagi dapat dilakukan secara konvensional semata, melainkan harus memanfaatkan pendekatan digital yang lebih fleksibel, interaktif, dan menyenangkan.
“Dolmen hadir bukan hanya sebagai pelatihan biasa, tetapi menjadi ruang belajar bersama untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas pelayanan pendidikan di Jawa Tengah,” ujar Sodikin dalam sambutannya.
Berbeda dengan model pendidikan dan pelatihan konvensional, Dolmen 2026 mengusung konsep joyful learning atau pembelajaran yang menyenangkan. Pendekatan ini dirancang agar peserta tidak merasa terbebani saat mengikuti proses pembelajaran daring. Dengan suasana belajar yang lebih interaktif dan humanis, peserta diharapkan mampu menyerap materi secara optimal sekaligus menerapkannya di lingkungan sekolah masing-masing.
Dalam arahannya, Sodikin menekankan tiga kompetensi utama yang wajib dimiliki dan terus ditingkatkan oleh aparatur sipil negara di lingkungan pendidikan. Ketiga kompetensi tersebut meliputi kompetensi teknis, kompetensi manajerial, dan kompetensi sosio kultural.
Kompetensi teknis mencakup penguasaan substansi mata pelajaran, strategi pembelajaran, hingga pemanfaatan teknologi dalam proses mengajar. Kompetensi manajerial berkaitan dengan kemampuan mengelola satuan pendidikan secara efektif dan profesional. Sementara kompetensi sosio kultural menitikberatkan pada kemampuan membangun komunikasi, kolaborasi, dan hubungan sosial yang humanis dengan masyarakat.
“Kami mengajak seluruh peserta untuk aktif, interaktif, dan partisipatif. Komunikasikan setiap kendala dengan fasilitator agar proses peningkatan kompetensi ini benar-benar berdampak pada inovasi dan aksi nyata di sekolah masing-masing,” kata Sodikin.
Ia menambahkan, keberhasilan transformasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kesiapan guru dalam menghadapi perubahan. Guru dituntut menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Suasana pembukaan Dolmen 2026 berlangsung dinamis dan penuh semangat. Ketua Panitia Dolmen, Handaya, bersama dua pembawa acara, Berti Sagendra, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Lucia Yuyun Dian Susanti, M.Pd., memandu jalannya acara dengan komunikatif dan energik. Interaksi peserta terlihat aktif melalui berbagai komentar dan tanggapan selama siaran berlangsung.
Salah satu hal yang menjadi daya tarik dalam pelaksanaan Dolmen tahun ini adalah fungsinya sebagai wadah kurasi talenta GTK di Jawa Tengah. Peserta terbaik nantinya akan dipilih dan dipersiapkan untuk mewakili Provinsi Jawa Tengah dalam ajang perlombaan GTK tingkat nasional. Mekanisme tersebut diharapkan mampu mendorong budaya kompetitif yang sehat sekaligus memotivasi para guru untuk terus meningkatkan kualitas diri.
Semangat belajar dan pengembangan kompetensi juga terlihat dari partisipasi para guru di lapangan. Dari SMKN Jateng di Semarang, hadir Yuni Triningsih, S.Pd., yang merupakan Guru Projek IPAS sekaligus Kepala Laboratorium IPA, serta Mokhamad Sabil Abdul Aziz, S.Pd., M.Pd., Guru Bahasa Inggris. Kehadiran keduanya merepresentasikan antusiasme guru-guru Jawa Tengah dalam mengikuti transformasi pendidikan berbasis teknologi dan inovasi pembelajaran.
Bagi para peserta, Dolmen tidak hanya menjadi sarana pelatihan, tetapi juga ruang berbagi pengalaman dan praktik baik antarpendidik. Melalui forum ini, guru dapat saling bertukar ide terkait strategi pembelajaran, pengelolaan kelas, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Panitia penyelenggara memastikan bahwa seluruh fasilitator yang terlibat telah mendapatkan pembekalan khusus sebelum mendampingi peserta. Dengan demikian, para fasilitator tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mampu memberikan solusi praktis terhadap berbagai tantangan yang dihadapi guru di lapangan.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu membantu peserta memahami materi secara lebih mendalam sekaligus mendorong implementasi nyata di sekolah masing-masing. Fokus utama Dolmen bukan sekadar penyelesaian pelatihan, melainkan bagaimana hasil pembelajaran dapat diwujudkan dalam bentuk inovasi pendidikan yang berdampak langsung pada peserta didik.
Melalui Dolmen 2026, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah berharap tercipta ekosistem pendidikan yang semakin inovatif, kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada aksi nyata. Tema “STELA” yang diusung tahun ini menjadi simbol penting bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang cinta, kepedulian, dan tindakan nyata untuk membangun masa depan generasi bangsa.
Dengan keterlibatan aktif para guru, kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan, Dolmen 2026 diharapkan mampu menjadi motor penggerak transformasi pendidikan di Jawa Tengah menuju sistem pembelajaran yang lebih modern, inklusif, dan relevan dengan tantangan era digital.

Beri Komentar