Selasa, 05-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Polines Gelar VOCATECH EDUFAIR 2026, Dorong Link and Match Vokasi dengan Dunia Industri

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang, 5 Mei 2026 — Politeknik Negeri Semarang (Polines) menyelenggarakan VOCATECH EDUFAIR 2026 bertajuk “Start Your Future Here” pada Selasa (5/5/2026) mulai pukul 08.00 WIB di Gedung Serba Guna Kampus Polines. Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk mempertemukan dunia pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), sekaligus menjawab tantangan ketenagakerjaan yang terus berkembang di era teknologi dan otomatisasi.

Acara yang dihadiri oleh pemangku kepentingan pendidikan, industri, dan pemerintah ini menghadirkan sejumlah narasumber kunci. Keynote speech pertama disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Dr. Sadimin, S.Pd., M.Eng., yang mengangkat tema penyelarasan kebutuhan tenaga kerja industri melalui penguatan pendidikan vokasi dan sinergitas antar pemangku kepentingan.

Dalam paparannya, Sadimin menyoroti berbagai kondisi yang masih menjadi pekerjaan rumah dalam pengembangan vokasi. Ia menyebutkan bahwa masih terdapat lulusan SMK yang belum sesuai dengan kebutuhan industri, keterbatasan peralatan praktik yang belum mengikuti perkembangan teknologi, hingga kompetensi keahlian yang cenderung stagnan. Selain itu, sinergi antar pemangku kepentingan dinilai belum optimal.

“Perubahan industri dari padat karya ke padat modal akibat otomatisasi, pemanfaatan kecerdasan buatan, serta tuntutan inovasi menjadi tantangan nyata yang harus direspons oleh pendidikan vokasi,” ujar Sadimin. Ia menegaskan bahwa langkah konkret perlu segera dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut.

Sadimin memaparkan sejumlah rencana intervensi, antara lain regenerasi kompetensi keahlian SMK sesuai kebutuhan industri, pemutakhiran peralatan praktik, sertifikasi kompetensi lulusan setara LSP level 3, serta peningkatan kerja sama dengan dunia industri dan perguruan tinggi. “Penguatan sinergitas antar lembaga, termasuk pendidikan, ketenagakerjaan, asosiasi profesi, hingga balai pelatihan, menjadi kunci dalam membangun ekosistem vokasi yang kuat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya konsep link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan industri. Menurutnya, kemitraan harus diperkuat melalui program pemagangan, teaching factory, serta keterlibatan aktif industri dalam penyusunan kurikulum dan standar kompetensi. “DUDI bukan sekadar pengguna lulusan, tetapi harus menjadi arsitek utama dalam pembentukan kompetensi sejak awal,” tegasnya.

Data yang disampaikan menunjukkan berbagai capaian konkret, seperti sertifikasi kompetensi bagi 160 tenaga pendidik SMK dan 10.000 siswa melalui LSP 1 pada tahun 2025, penyusunan 115 kompetensi dasar berbasis kebutuhan industri, kerja sama dengan lebih dari 4.000 mitra industri, serta revitalisasi puluhan paket alat praktik siswa.

Sementara itu, narasumber kedua, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Azis, S.E., M.Si., memaparkan kondisi ketenagakerjaan di Jawa Tengah berdasarkan data terbaru. Ia menjelaskan bahwa jumlah penduduk usia kerja pada November 2025 mencapai 30,12 juta orang, dengan angkatan kerja sebanyak 22,34 juta orang.

“Sekitar 74 dari 100 penduduk usia kerja sudah aktif di pasar kerja, sementara tingkat pengangguran berada di kisaran 4 persen atau sekitar 970 ribu orang,” ungkap Azis. Ia menilai angka tersebut menunjukkan tren positif, meskipun masih diperlukan upaya peningkatan kualitas tenaga kerja.

Azis juga memaparkan distribusi tenaga kerja sektoral yang masih didominasi oleh sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan. Di sisi lain, pertumbuhan tenaga kerja tertinggi terjadi pada sektor angkutan dan pergudangan, pertanian, serta akomodasi dan makan-minum. “Perubahan struktur ekonomi ini harus diantisipasi oleh pendidikan vokasi agar mampu mencetak tenaga kerja yang adaptif,” katanya.

Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada kuantitas tenaga kerja, tetapi juga kualitas dan relevansi kompetensi. “Kita harus memastikan lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berubah,” ujarnya.

Kegiatan VOCATECH EDUFAIR 2026 ini juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Kepala SMKN Jawa Tengah di Semarang yang turut hadir dalam seminar tersebut. Ia menilai langkah Polines sebagai inisiatif luar biasa dalam mempertemukan berbagai stakeholder.

“Kegiatan ini sangat penting karena mampu menghubungkan dunia pendidikan dengan industri secara langsung. Ini adalah langkah konkret dalam pembangunan vokasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Polines menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan vokasi untuk terus berperan aktif dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan siap kerja. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pendidikan, dan industri, diharapkan kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja dan kompetensi lulusan dapat semakin diperkecil.

VOCATECH EDUFAIR 2026 menjadi momentum penting dalam mendorong transformasi pendidikan vokasi di Jawa Tengah, sekaligus membuka peluang masa depan bagi generasi muda untuk lebih siap menghadapi dinamika dunia kerja.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan