SEMARANG – Penguatan kompetensi guru tidak cukup hanya melalui peningkatan kemampuan pedagogik dan profesional. Kematangan spiritual juga menjadi fondasi penting dalam membangun pendidik yang berintegritas, mampu mengelola emosi, serta menjadi teladan bagi peserta didik. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan In House Training (IHT) hari kedua SMKN Jateng di Semarang yang berlangsung di Ruang AVA SMKN Jateng di Semarang, Selasa (3/11/2026).
Mengangkat tema “Kematangan Spiritual Guru”, kegiatan ini menghadirkan Dr. Padmi Dhyah Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber. Ia merupakan dosen Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Semarang sekaligus psikolog yang memiliki pengalaman dalam bidang pengembangan sumber daya manusia dan pendampingan psikologis.
Selain aktif sebagai akademisi dan psikolog, Dr. Padmi juga terlibat dalam Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) DP3A Kota Semarang, menjadi pengurus Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS) PGRI Provinsi Jawa Tengah, serta psikolog PBKLP ASDM Universitas PGRI Semarang.
Kegiatan ini diikuti oleh guru SMKN Jateng di Semarang dan mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari Universitas Wahid Hasyim (Unwahas). Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak melakukan refleksi mendalam mengenai makna profesi guru, nilai-nilai spiritual dalam pekerjaan, serta tanggung jawab moral seorang pendidik dalam membentuk karakter generasi muda.
Hasil Belajar Harus Terlihat dari Perubahan
Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada narasumber yang telah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu dan pengalaman bersama keluarga besar sekolah.
Ia mengajak seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan dengan pikiran terbuka dan kesiapan menerima pengetahuan baru. Menurutnya, keberhasilan sebuah pelatihan tidak semata-mata diukur dari materi yang disampaikan atau sertifikat yang diperoleh, tetapi dari perubahan nyata yang dilakukan peserta setelah mengikuti kegiatan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Padmi Dhyah Yulianti yang telah berkenan meluangkan waktu dan berbagi ilmu di SMKN Jateng di Semarang. Saya mengajak seluruh peserta untuk mengosongkan pikiran sejenak, membuka diri, dan siap menerima materi yang akan disampaikan narasumber,” ungkap Ardan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa esensi belajar adalah perubahan. Pengetahuan yang diperoleh dalam IHT harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, khususnya ketika guru berinteraksi dengan peserta didik di ruang kelas.
“Buah dari belajar adalah perubahan. Hasil dari IHT ini nantinya dapat kita lihat dari perubahan yang dilakukan oleh masing-masing peserta di kelas. Jangan sampai kegiatan pelatihan hanya berhenti pada pengetahuan, tetapi harus menjadi praktik nyata dalam pembelajaran,” tegasnya.
Kematangan Spiritual Guru, Menemukan Makna di Balik Profesi
Dalam pemaparannya, Dr. Padmi Dhyah Yulianti mengawali materi dengan mengajak peserta melakukan refleksi melalui sejumlah pertanyaan mendasar. Sudah berapa lama menjalani profesi sebagai guru? Apa yang dahulu memotivasi seseorang memilih profesi ini? Dan ingin dikenal sebagai guru seperti apa oleh para peserta didiknya?
Pertanyaan tersebut mengajak peserta untuk kembali menemukan makna di balik rutinitas profesi pendidik. Sebab, menjadi guru bukan sekadar menjalankan kewajiban mengajar, menyelesaikan administrasi pembelajaran, atau mengejar target kurikulum. Lebih dari itu, guru memiliki tanggung jawab membimbing manusia agar tumbuh menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan, karakter, dan nilai kehidupan.
Dr. Padmi menjelaskan bahwa spiritualitas merupakan proses pencarian dan penghayatan terhadap sesuatu yang sakral, transenden, atau paling bernilai dalam kehidupan. Dalam profesi keguruan, spiritualitas memberikan makna terhadap pekerjaan, membangun kesadaran dalam bersikap, menjaga integritas dalam bertindak, serta menghidupkan nilai-nilai keteladanan di hadapan peserta didik.
Menurutnya, kesejahteraan psikologis dan spiritual guru merupakan salah satu aspek penting dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Guru yang mengalami kelelahan emosional berisiko mengalami penurunan motivasi, keterlibatan kerja, dan kualitas interaksi dengan siswa.
Namun, penguatan spiritualitas bukan berarti mengabaikan persoalan beban kerja guru. Dukungan spiritual dapat menjadi sumber daya pribadi dalam menghadapi tekanan pekerjaan, sementara perbaikan sistem kerja tetap menjadi tanggung jawab institusi pendidikan dan pemangku kebijakan.
Tiga Elemen Kematangan Spiritual dalam Profesi Guru
Dalam materi berikutnya, peserta diajak memahami bahwa kematangan spiritual dalam profesi guru dibangun melalui tiga elemen utama, yakni orientasi pelayanan, kesadaran nilai, dan keselarasan antara perkataan, keputusan, serta tindakan.
Orientasi pelayanan mengingatkan bahwa tugas utama guru adalah mendukung tumbuh kembang peserta didik. Kesadaran nilai menjadi kompas ketika pendidik menghadapi berbagai persoalan dan dilema etis. Sementara keselarasan menuntut konsistensi antara apa yang diajarkan dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai spiritual tersebut harus diwujudkan melalui perilaku profesional yang dapat diamati. Kejujuran dan objektivitas tercermin dalam penilaian siswa. Amanah diwujudkan melalui komitmen menjalankan tugas dan menjaga kerahasiaan informasi. Kasih sayang harus disertai batas mendidik, sedangkan keadilan menuntut guru memperlakukan seluruh siswa tanpa membedakan latar belakang.
Selain itu, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, kemauan untuk terus belajar, serta tanggung jawab terhadap dampak setiap keputusan menjadi bagian penting dari kematangan seorang pendidik.
Keteladanan Guru sebagai Kurikulum Nyata
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah pentingnya keteladanan guru. Dr. Padmi menekankan bahwa peserta didik tidak hanya belajar dari penjelasan yang disampaikan di kelas, tetapi juga mengamati bagaimana guru bersikap, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.
Keteladanan bukan berarti seorang guru harus selalu sempurna dan tidak pernah melakukan kesalahan. Justru kematangan seorang pendidik terlihat dari kesediaannya mengakui kekurangan, bertanggung jawab, dan terus memperbaiki diri.
Dalam situasi perbedaan pendapat, guru diharapkan mampu mendengarkan dengan hormat dan menguji argumen tanpa merendahkan orang lain. Ketika memiliki kewenangan, guru menggunakan otoritasnya untuk membimbing, bukan menakut-nakuti. Ketika melakukan kesalahan, guru berani mengakuinya dan melakukan perbaikan, bukan mencari pihak lain untuk disalahkan.
Materi ini juga mengingatkan pentingnya menjaga batas profesional dalam hubungan guru dan siswa. Guru perlu menghindari favoritisme, menjaga komunikasi digital agar tetap profesional, melindungi data pribadi peserta didik, serta tidak menggunakan tekanan psikologis dalam proses pendidikan.
Melatih Keputusan Etis dan Refleksi Diri
Untuk memperkuat pemahaman peserta, narasumber menghadirkan diskusi kasus mengenai permintaan menaikkan nilai siswa tertentu karena kedekatan orang tua siswa dengan pihak sekolah. Kasus tersebut menjadi bahan refleksi tentang kejujuran, keadilan, integritas, dan tanggung jawab seorang guru.
Peserta diajak menganalisis pihak-pihak yang terdampak, mempertimbangkan konsekuensi keputusan, serta mencari cara menolak permintaan yang tidak sesuai prinsip profesional tanpa memperkeruh hubungan kerja.
Dalam menghadapi persoalan etis, narasumber memperkenalkan kerangka pengambilan keputusan melalui lima tahapan, yaitu menjernihkan fakta, mengenali pihak yang terdampak, menguji prinsip keadilan dan kejujuran, melakukan konsultasi kepada pihak yang tepat, serta mengambil keputusan secara proporsional disertai evaluasi.
Kegiatan juga dilengkapi praktik refleksi singkat. Setiap peserta diajak memilih satu nilai utama, seperti jujur, adil, amanah, sabar, peduli, atau rendah hati, kemudian merumuskan perilaku konkret yang dapat dilakukan dalam pekerjaan sehari-hari.
Sebagai tindak lanjut, peserta mendapatkan penugasan mandiri berupa rencana aksi selama tujuh hari. Kegiatan dimulai dengan mencatat pemicu emosi, melatih jeda sebelum menegur atau mengambil keputusan, mempraktikkan komunikasi asertif, meminta umpan balik rekan sejawat, hingga mengevaluasi efektivitas perubahan yang telah dilakukan.
Membangun Guru sebagai Pendidik Inspirator dan Pembimbing Inovator
Melalui materi kematangan spiritual guru, IHT hari kedua SMKN Jateng di Semarang memberikan pesan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan metode pembelajaran dan penguasaan teknologi, tetapi juga oleh kualitas pribadi pendidik yang menjalankannya.
Guru yang matang secara spiritual bukanlah guru yang tidak pernah marah, tidak pernah lelah, atau tidak pernah melakukan kesalahan. Guru yang matang adalah mereka yang berani bertanggung jawab, mampu mengelola emosi, terbuka terhadap pembelajaran, dan konsisten memperbaiki dampak tindakannya demi kepentingan peserta didik.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh guru dan mahasiswa PPL untuk memperkuat komitmen profesional sebagai pendidik inspirator sekaligus pembimbing inovator. Semangat menjaga integritas, mengelola emosi, dan menghadirkan pendidikan yang bermartabat perlu diwujudkan dalam setiap proses pembelajaran.
Dengan demikian, IHT bukan sekadar agenda peningkatan kompetensi, melainkan ruang refleksi untuk membangun kesadaran bahwa perubahan pendidikan dimulai dari perubahan diri pendidiknya. Sebab, sekolah yang berkualitas tidak hanya membutuhkan guru yang cerdas dan terampil, tetapi juga guru yang memiliki kematangan pribadi, keteladanan, serta komitmen moral dalam mendampingi masa depan generasi bangsa.

Beri Komentar