Kamis, 17-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Mahasiswa PPL LANTIP 7 UNNES Hadirkan Inovasi Pembelajaran IoT Berbasis Proyek di Semarang

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang, Kamis, 23 Juli 2026 – Mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) LANTIP 7 Universitas Negeri Semarang (UNNES) menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi pada mata pelajaran Instrumentasi, Elektronika, dan Internet of Things (IoT), Kamis (23/7/2026). Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah vokasi di Semarang tersebut menjadi bagian dari implementasi lapangan penelitian dosen UNNES sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pendidikan vokasi.

Kegiatan ini memiliki keunikan karena mahasiswa praktikan PPL LANTIP 7 tidak hanya menjalankan tugas praktik mengajar, tetapi juga terlibat langsung sebagai bagian dari tim peneliti dalam program penelitian dosen UNNES. Hasil penelitian kemudian diimplementasikan dalam proses pembelajaran sehingga terdapat kesinambungan antara pengembangan ilmu di perguruan tinggi dengan praktik pendidikan di sekolah.

Pembelajaran dirancang menggunakan model Project-Based Learning (PjBL) dengan landasan pendekatan konstruktivistik. Melalui model tersebut, siswa tidak ditempatkan sebagai penerima informasi secara pasif, tetapi sebagai subjek yang aktif membangun pengetahuan melalui pengalaman, eksplorasi, diskusi, dan pemecahan masalah.

Model pembelajaran tersebut diterapkan melalui studi kasus smart agriculture berupa pembuatan purwarupa “Sistem Monitoring Suhu dan Kelembapan Budidaya Jamur Berbasis IoT”. Proyek dipilih karena memiliki keterkaitan dengan persoalan autentik yang dapat ditemukan dalam dunia pertanian maupun dunia kerja, khususnya kebutuhan untuk memantau kondisi lingkungan secara lebih efektif dan berbasis teknologi.

Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak memahami permasalahan yang muncul di kumbung jamur, kemudian menganalisis kebutuhan sistem, merancang solusi berbasis mikrokontroler, serta menguji rancangan sebelum diwujudkan dalam bentuk perangkat fisik. Rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang mendalam atau deep learning.

Proses pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan siswa membuat rangkaian elektronik dan program. Mereka juga diarahkan untuk memahami alasan di balik setiap komponen yang digunakan, hubungan antara sensor dan mikrokontroler, serta bagaimana data yang diperoleh dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan di lapangan.

Salah satu inovasi yang menjadi bagian penting dalam pembelajaran adalah penerapan tahapan pre-practice atau pra-praktik. Sebelum melakukan perakitan secara langsung, siswa terlebih dahulu menguji rancangan menggunakan simulator Proteus dan Wokwi.

Tahapan tersebut memberikan ruang aman bagi siswa untuk melakukan eksperimen secara virtual. Mereka dapat menguji rangkaian, memeriksa logika program, melakukan debugging, dan melihat respons sistem sebelum berhadapan dengan komponen fisik. Setelah rancangan dinilai sesuai, siswa kemudian melanjutkan ke tahap hands-on dengan menggunakan perangkat seperti mikrokontroler ESP32 dan sensor DHT22.

“Pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang dikolaborasikan dengan pendekatan kontekstual terbukti tidak hanya memperkuat pemahaman siswa, tetapi juga memberikan pengalaman dan kesan nyata dalam memecahkan berbagai permasalahan di industri dan di dunia nyata,” ujar Dr. Ir. Ulfah Mediaty Arief, M.T., Ketua Tim Penelitian LPPM UNNES 2026.

Menurutnya, pembelajaran berbasis proyek memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami secara langsung proses menemukan dan menyelesaikan persoalan. Pengalaman tersebut dinilai penting dalam membangun kemampuan siswa agar tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga mampu berpikir sistematis ketika menghadapi permasalahan.

Penggunaan simulator sebelum praktik fisik juga menjadi jembatan instruksional antara pemahaman teori dan keterampilan praktik. Dalam pembelajaran elektronika dan IoT, kesalahan pemasangan kabel atau wiring maupun kesalahan dalam pemrograman dapat menyebabkan sistem tidak berfungsi, bahkan berpotensi menimbulkan kerusakan komponen.

Dengan simulasi, siswa dapat melakukan berbagai percobaan tanpa risiko merusak perangkat praktik. Kesalahan dapat ditemukan lebih awal dan diperbaiki melalui proses pengujian. Siswa pun memiliki kesempatan untuk memahami hubungan sebab-akibat antara perubahan program, konfigurasi rangkaian, dan respons sistem.

Pada proyek monitoring budidaya jamur, misalnya, siswa dapat menguji bagaimana sensor DHT22 membaca suhu dan kelembapan, kemudian melihat bagaimana mikrokontroler ESP32 memproses data tersebut berdasarkan program yang dibuat. Proses ini memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret dibandingkan pembelajaran yang hanya mengandalkan penjelasan teoritis.

Pendekatan tersebut sekaligus mendorong siswa untuk mengembangkan pola pikir rekayasa atau engineering mindset. Mereka belajar bahwa pembuatan sebuah produk teknologi tidak hanya dimulai dari merakit komponen, tetapi melalui proses identifikasi masalah, perancangan, simulasi, pengujian, evaluasi, perbaikan, dan implementasi.

Dalam konteks pendidikan vokasi, pengalaman semacam ini memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan dunia industri. Dunia kerja membutuhkan lulusan yang mampu menghadapi persoalan nyata, bukan sekadar mengingat prosedur. Seorang tenaga kerja dituntut mampu menganalisis masalah, mencoba alternatif solusi, bekerja secara sistematis, dan melakukan perbaikan ketika hasil yang diperoleh belum sesuai harapan.

Penerapan PjBL berbasis konstruktivistik juga memberikan ruang bagi siswa untuk belajar melalui kolaborasi. Dalam menyelesaikan proyek, siswa dapat berbagi tugas, mendiskusikan rancangan, menguji hasil pekerjaan, serta memberikan masukan terhadap solusi yang dikembangkan bersama. Aktivitas tersebut secara tidak langsung melatih kemampuan komunikasi dan kerja sama yang dibutuhkan dalam lingkungan profesional.

Tahapan refleksi menjadi bagian penting dalam keseluruhan proses. Setelah menyelesaikan proyek, siswa tidak hanya diminta menunjukkan hasil akhir, tetapi juga diajak melihat kembali proses yang telah dilalui. Mereka dapat mengidentifikasi kendala, kesalahan, keputusan yang diambil, serta perbaikan yang perlu dilakukan apabila proyek dikembangkan lebih lanjut.

Melalui proses tersebut, pembelajaran menjadi pengalaman yang utuh. Siswa memahami akar persoalan, mengaplikasikan pengetahuan untuk merancang solusi, kemudian merefleksikan hasil dan proses kerja. Ketiga pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga pada perkembangan cara berpikir siswa.

Kolaborasi antara mahasiswa PPL LANTIP 7 UNNES dan sekolah melalui implementasi penelitian dosen tersebut menunjukkan bahwa hasil penelitian perguruan tinggi dapat dihadirkan secara langsung ke ruang kelas. Sekolah memperoleh alternatif inovasi pembelajaran, sedangkan mahasiswa mendapatkan pengalaman menerapkan hasil kajian akademik dalam konteks pendidikan yang nyata.

Sinergi semacam ini diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan pembelajaran. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah vokasi dapat terus dikembangkan melalui penelitian, pengembangan perangkat pembelajaran, pemanfaatan teknologi simulasi, maupun inovasi pembelajaran lain yang relevan dengan kebutuhan pendidikan dan dunia industri.

Penerapan pembelajaran berbasis proyek yang dipadukan dengan simulasi digital pada akhirnya tidak hanya membantu siswa menguasai kompetensi Instrumentasi, Elektronika, dan IoT. Lebih jauh, pendekatan tersebut memberikan pengalaman bagaimana sebuah persoalan nyata diidentifikasi, dianalisis, dirancang solusinya, diuji, diperbaiki, dan diwujudkan menjadi sebuah produk teknologi.

Melalui pengalaman tersebut, sekolah vokasi tidak hanya mencetak siswa yang terampil menggunakan alat, tetapi juga menumbuhkan generasi yang mampu berpikir kritis, bekerja kolaboratif, berani bereksperimen, dan memiliki engineering mindset. Kompetensi inilah yang menjadi modal penting bagi lulusan SMK untuk beradaptasi dan bersaing di tengah perkembangan teknologi serta tuntutan dunia kerja yang terus berubah.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan