Sabtu, 17-01-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Pelatihan Pembelajaran Mendalam Hari Ketiga Bahas Asesmen Pembelajaran Mendalam

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang – Materi kedua pada hari ketiga pelatihan Pembelajaran Mendalam bagi kepala sekolah dan guru SMK di Jawa Tengah membahas topik krusial, yaitu asesmen pembelajaran mendalam. Sesi ini dipandu oleh fasilitator Rochimudin dari SMA Negeri 9 Semarang, yang menekankan pentingnya asesmen bukan hanya untuk mengukur hasil belajar, tetapi juga untuk memaknai proses dan perkembangan belajar murid.

Dalam pemaparannya, Rochimudin menjelaskan bahwa kata “asesmen” berasal dari bahasa Latin assidere, yang berarti “duduk di samping.” Filosofi ini menggambarkan peran guru yang mendampingi murid dalam proses belajar, bukan sekadar menguji. “Asesmen adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengetahui kebutuhan belajar serta capaian perkembangan atau hasil belajar murid,” tegasnya.

Tujuan umum dari pelatihan ini adalah agar peserta mampu menganalisis fungsi asesmen, mengidentifikasi jenis dan bentuk asesmen, serta merancang asesmen untuk mendukung pembelajaran mendalam. Ruang lingkup modul yang dipelajari meliputi pengertian dan prinsip asesmen, bentuk dan fungsi asesmen, teknik dan instrumen, hingga rancangan implementasi asesmen dalam kelas.

Rochimudin menambahkan bahwa asesmen pembelajaran mendalam menggunakan dua bentuk utama, yaitu asesmen formatif dan asesmen sumatif, sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Asesmen formatif digunakan untuk memberi umpan balik selama proses pembelajaran, sementara asesmen sumatif dipakai untuk memastikan ketercapaian tujuan belajar, termasuk penentuan kenaikan kelas dan kelulusan.

“Asesmen tidak bisa hanya dilihat dari sisi hasil akhir. Guru perlu memberi pengalaman belajar bertahap, mulai dari memahami, mengaplikasi, hingga merefleksi. Proses ini mendorong murid mencapai tingkat berpikir yang lebih tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTs),” ujar Rochimudin.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa asesmen mendalam berperan penting untuk mendorong transferable skills murid, agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Guru juga dituntut mampu merancang asesmen autentik dan holistik, misalnya melalui observasi, proyek, portofolio, refleksi diri, hingga praktik kerja lapangan di SMK.

Kerangka yang digunakan dalam pengembangan asesmen ini mengacu pada Taksonomi SOLO, yang memiliki empat tingkat: unistruktural, multistruktural, relasional, dan extended abstract. Dua tingkat terakhir mengarahkan murid untuk berpikir kritis dan mengaitkan pengetahuan dengan konteks yang lebih luas, selaras dengan Taksonomi Bloom.

Antusiasme peserta terlihat dari diskusi maupun lembar kerja yang diselesaikan bersama. Aunurrofiq, guru dari SMA Negeri 12 Semarang, mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai asesmen formatif dan sumatif. “Materi asesmen yang baru saja dipelajari membantu pemahaman saya. Saya jadi tahu kapan asesmen formatif dan sumatif dilaksanakan serta bentuknya bagaimana setelah menyelesaikan lembar kerja yang ada,” katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Maria Niken Setyarini, guru dari SMA Negeri 4 Semarang. Ia menilai materi asesmen ini mampu memotivasi dirinya untuk lebih kreatif dalam mendesain instrumen pembelajaran. “Menurut saya, asesmen pembelajaran mendalam dapat memotivasi saya untuk membuat instrumen yang lebih kreatif, karena menilai bukan hanya untuk hasil akhir, tetapi juga proses berpikir dan keterampilan kolaborasi peserta didik,” ujarnya.

Pelatihan ini tidak hanya menyuguhkan teori, tetapi juga praktik langsung agar peserta benar-benar memahami penerapan asesmen dalam pembelajaran mendalam. Dengan pemahaman ini, para guru diharapkan mampu memberikan umpan balik yang tepat sasaran, merancang aktivitas belajar yang menantang, sekaligus memastikan murid mencapai pemahaman yang lebih kompleks.

“Ke depan, kami ingin peserta pelatihan bisa mengimplementasikan asesmen yang mendorong murid berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar mencetak murid yang bisa menjawab soal ujian, tetapi generasi yang mampu menghadapi tantangan nyata di masyarakat,” pungkas Rochimudin.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang dan Fasilitator Pembelajaran Mendalam BBGTK Provinsi Jawa Tengah

2 Komentar

Antar subandana
Selasa, 2 Sep 2025

Sangat bermanfaat..

Balas
Elmina
Kamis, 4 Sep 2025

Berbagi kebaikan…

Balas

Beri Komentar

Balasan