Kamis, 06-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Perkuat Wawasan Kebangsaan Gen Z, SMK Negeri Jateng Hadiri Seminar Lemhannas RI dan FISIP UNDIP

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang – Upaya memperkuat karakter kebangsaan generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital terus menjadi perhatian berbagai pihak. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Seminar Kebangsaan bertajuk “Nasionalisme dan Geopolitik: Urgensi dan Metode Pembelajaran untuk Gen Z di Era Demokrasi Digital” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI dan Ikatan Alumni (IKA) FISIP UNDIP pada Rabu (5/8/2026) di Kampus FISIP Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang.

Seminar yang menjadi bagian dari rangkaian Gebyar Wawasan Kebangsaan Lemhannas RI tersebut diikuti civitas akademika, guru, mahasiswa, serta pelajar dari berbagai sekolah. Salah satu peserta yang turut ambil bagian adalah rombongan SMKN Jateng di Semarang yang mengirimkan empat siswa dan dua guru pendamping, yakni Umiyati Khasanah dan Maulana. Kehadiran delegasi SMKN Jateng di Semarang menjadi wujud komitmen sekolah dalam membangun karakter peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik dan vokasional, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan yang kuat sebagai bekal menghadapi tantangan global.

Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FISIP UNDIP, Dr. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin. yang menegaskan pentingnya perguruan tinggi menjadi ruang dialog kebangsaan sekaligus pusat pengembangan pemikiran kritis bagi generasi muda. Menurutnya, tantangan zaman yang semakin kompleks membutuhkan kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme yang relevan dengan perkembangan era digital.

“Kampus memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat. Nilai-nilai nasionalisme harus terus dihidupkan melalui proses pendidikan yang kontekstual dan sesuai dengan tantangan zaman,” ujar Teguh Yuwono.

Seminar secara resmi dibuka oleh Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, Dr. H. Tubagus Ace Hasan Syadzily, M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Generasi Z merupakan kelompok yang akan menjadi penentu perjalanan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Oleh karena itu, penguatan pemahaman mengenai geopolitik dan nasionalisme harus dilakukan secara adaptif agar mampu menjawab perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat.

“Di era demokrasi digital, arus informasi bergerak tanpa batas. Generasi muda harus memiliki daya kritis, kemampuan menyaring informasi, serta kecintaan kepada bangsa agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai narasi yang dapat mengikis semangat persatuan. Wawasan kebangsaan harus menjadi fondasi dalam menghadapi dinamika global,” tegas Ace Hasan Syadzily.

Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, khususnya institusi pendidikan, untuk bersama-sama menghadirkan metode pembelajaran kebangsaan yang lebih kreatif, interaktif, dan dekat dengan kehidupan generasi muda sehingga nilai-nilai nasionalisme tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Ketua Umum IKA FISIP UNDIP, Yogi Arif Nugraha, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa sinergi antara alumni, perguruan tinggi, dan Lemhannas RI menjadi langkah strategis dalam memperluas literasi kebangsaan kepada masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa yang akan menjadi pemimpin bangsa pada masa mendatang.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan keynote speech dan diskusi panel yang menghadirkan sejumlah pakar dari Lemhannas RI dan Universitas Diponegoro. Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Dalhani, D.E.A., Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam Lemhannas RI, mengulas pentingnya memahami posisi strategis Indonesia dalam konstelasi geopolitik dunia. Menurutnya, kekayaan sumber daya alam, letak geografis, serta bonus demografi harus menjadi modal pembangunan nasional apabila dikelola dengan wawasan kebangsaan yang kuat.

“Geopolitik bukan hanya persoalan hubungan antarnegara, tetapi juga bagaimana bangsa ini mampu mengelola seluruh potensinya demi kepentingan nasional. Generasi muda harus memahami posisi strategis Indonesia agar memiliki rasa tanggung jawab dalam menjaga kedaulatan bangsa,” jelas Dadan Umar Dalhani.

Sementara itu, Prof. Ika Riswanti Putranti, A.md.Ak., S.H., M.H., Ph.D. dari Departemen Hubungan Internasional UNDIP memaparkan bagaimana perubahan geopolitik global memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi membuat batas antarnegara semakin terbuka sehingga masyarakat, khususnya Generasi Z, perlu memiliki kemampuan literasi digital yang baik.

“Nasionalisme pada era digital bukan berarti menutup diri terhadap dunia, melainkan memiliki identitas kebangsaan yang kuat sehingga mampu berinteraksi secara global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Perspektif komunikasi digital disampaikan oleh S. Rouli Manalu, S.Sos., MCommSt., Ph.D., Wakil Dekan FISIP UNDIP. Ia menjelaskan bahwa media digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan besar bagi demokrasi. Oleh sebab itu, pendidikan harus membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis agar mampu membedakan informasi yang valid dengan hoaks maupun propaganda yang berpotensi memecah persatuan bangsa.

“Media sosial dapat menjadi ruang yang sangat positif untuk memperkuat semangat kebangsaan apabila digunakan secara bijak. Namun, tanpa kemampuan literasi digital, ruang yang sama juga dapat menjadi sumber disinformasi,” katanya.

Melengkapi diskusi, Ketua MGMP PPKn SMA se-Jawa Tengah, Moch Kasdari, S.Pd., M.Si., memaparkan strategi pembelajaran wawasan kebangsaan di sekolah. Ia menekankan pentingnya menghadirkan pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang kontekstual, kolaboratif, dan dekat dengan pengalaman peserta didik sehingga nilai-nilai kebangsaan lebih mudah dipahami dan diterapkan.

“Guru perlu mengembangkan metode pembelajaran yang aktif, memanfaatkan teknologi digital, studi kasus, maupun diskusi aktual sehingga peserta didik tidak sekadar menghafal konsep, tetapi mampu menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Delegasi SMKN Jateng di Semarang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias. Para siswa terlibat aktif dalam sesi tanya jawab dan diskusi mengenai tantangan nasionalisme di tengah perkembangan media digital. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya sekolah memperluas pengalaman belajar di luar kelas melalui interaksi langsung dengan para akademisi, praktisi, dan pakar kebangsaan.

Guru pendamping SMKN Jateng di Semarang, Umiyati Khasanah, menyampaikan bahwa seminar tersebut memberikan wawasan baru bagi peserta didik mengenai pentingnya menjaga identitas bangsa di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

“Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga bagi siswa. Mereka memperoleh pemahaman langsung dari para pakar mengenai geopolitik, demokrasi digital, dan pentingnya nasionalisme. Harapannya, wawasan tersebut dapat mereka implementasikan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menjadi bekal sebagai generasi penerus bangsa,” tutur Umiyati.

Melalui seminar kebangsaan ini, kolaborasi antara Lemhannas RI, FISIP Universitas Diponegoro, IKA FISIP UNDIP, dan dunia pendidikan diharapkan mampu memperkuat pemahaman geopolitik serta menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan Generasi Z. Dengan bekal wawasan kebangsaan yang kokoh, generasi muda diharapkan siap menghadapi tantangan demokrasi digital sekaligus berkontribusi aktif mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan